Total Tayangan Halaman

Sabtu, 18 September 2010

Cinderella yang Meninggalkan Cinta

Mau marah silahkan, mau benci silahkan, yang penting aku cinta padamu. Lega rasanya ketika aku bisa mengungkapkan perasaanku ini padanya. Perasaan terdalam yang mungkin memang sangat terlambat ku rasakan. Bukannya aku bodoh, tapi dasarnya aku baru tergugah. Tergugah? Jadi selama ini baru tergugah sekarang, bukan begitu, aku baru menyadari yang kurasakan padanya itu cinta. Cinta yang tertinggal dari seorang Anandia Cindy, Cinderellaku.
***
“Harus berapa kali sih aku bilang, namaku tu Cindy, bukan Cinderella,” kata Cindy disebrang sana.
“Iya, tapi kamu itu Cinderellaku tau!” kataku tak mau kalah.
“Cinderellamu apa Cindyrella Gi? Malas aku diingetin ma olokan itu,”,
“Iya Cin, Cinderella ku, maafin aku Cin, kamu boleh benci aku, tapi aku sudah terlanjur suka sama kamu, walaupun aku tahu semuanya udah terlambat,”jawabku melemah.
“Maaf Gi, aku udah nggak sendiri,”
“Tapi kamu belum tentu sama dia terus kan?”
“Ah, edan kamu Gi, jangan bilang gitu dong,”
“Hhahhahaa, ini dari hati Cin,”
“Sejak kapan kamu ngomongin hati Gi?”
“Sejak aku sadar Cin, kalau kamu itu ninggalin cinta buat aku,” jawabku lirih.
“Sudah-sudah Gi, aku bisa gila gara-gara kekonyolanmu ini,”ucap Cindy disana.
“Ini bukan konyol Cin, aku bisa buktikan ke kamu, aku bisa lebih baik dari pacarmu,”
“Ha?”
Aku putuskan sambungan teleponku dengan Cindy malam itu, mungkin disana Cindy bertanya-tanya dalam hati, apa benar dia baru saja bebicara dengan seorang Ergi. Yah, terserah Cindy sajalah, mau percaya padaku tidak, yang jelas beberapa hari ini aku selalu memikirkan dia, semoga dia juga begitu.
***
Aku senang, kaget, bingung, dan cemburu, ya sedikit cemburu saja sepertinya, ketika melihat foto seorang teman lamaku di jejaring sosial, yah itu Cindy tapi tidak sendiri, dia bersama seorang cowok yang cukup tampan untuk ukuran menjadi pacar Cindy. Cindy berubah, senyumnya makin manis, rambutnya panjang terurai tidak seperti dulu, pendek seperti tokoh kartun idola anak TK, dan aku merasa ada yang kurang, dia cantik tapi tak seimut dulu. Cindy, Cindy rasa rinduku padamu tiba-tiba membeludak, ingin rasanya aku bercanda denganmu seperti dulu lagi, membuatmu marah hingga kau tak segan melemparku dengan tong sampah kelasmu, aku rindu saat-saat itu Cin.
Jangan panggil aku Ergi, kalau aku tidak membuktikan bahwa aku bisa menemukan Cindyku yang dulu, aku mulai kegilaanku, kegilaan mengejar cinta yang tak tersampaikan. Terus terang saja, aku bingung ini cinta apa bukan, tapi setelah kupikir-pikir diksi yang cocok untuk menggambarkan perasaan hatiku ini cinta, cinta lama yang belum kesampaian.
Pagi, siang, malam, aku mengirimkan SMS pada Cindy, sekedar SMS pujian untuknya, aku benar-benar memujinya tulus dari lubuk hatiku, pujian orang yang mengagumi sifat ramah dan cerianya, pujian karena kedewasaannya yang jauh lebih dewasa dariku, dan tentu saja pujian karena aku suka dia. Aku mendadak menjadi pujangga cinta kelas kakap beberapa waktu ini, rindu berbuah cinta mungkin tepat menggambarkan kisahku kali ini.
***

“Maksudmu apa sih Cin, aku ini serius, aku nggak boleh ngungkapin kekagumanku ma kamu Cin? Tanyaku saat kembali malam ini aku berbicara lewat telepon dengannya, saat kurasa ada kesangsian dari Cindy dengan tingkahku, jarak memisahkan kami, kami hanya dapat berbicara lewat telepon.
“Bukannya begitu, aku takut aku jadi punya rasa ke kamu lagi, aku dulu memang suka sama kamu, tapikan itu dulu, waktu kita masih bego-begonya, aku tu nggak mau keterusan ma kamu Gi,”
“Bagus dong kalau keterusan, aku jadi punya peluang,”
“Aduh Gi, kamu itu telatnya kelewatan sih Gi, aku nggak bisa Gi,”
“Aku tulus kok Cin, walaupun kamu nggak bisa, tapi yang penting kamu mau nerima ketulasnku ini,”
“Aku terima dengan senang hati Gi, aku ngarapin ini dari dulu, tapi Cuma sebatas ini aja ya Gi, jangan lebih gila lagi oke,”
“Nggak janji aku Cin, akukan lagi usaha dapetin kamu, siapa tahu jodoh,”
“Ah gila kamu Gi, capek aku jelasin sama kamu, nggak mudeng-mudeng,”
Lagi-lagi malam ini telepon ditutup dengan ungkapan kebingungan dari seorang Cindy, aku rasa dia masih memberikan harapan untukku, tapi kendalanya kan dia sudah punya pacar, tapi sikapnya yang selalu meresponku menandakan dia juga punya rasa ke aku, walaupun tidak sebesar dulu.
***
Kata Cindy, hari-harinya penuh warna ketika dia kembali berkomunikasi denganku, ada sedikit rasa bangga, ternyata aku bisa menarik sedikit perhatiannya kepadaku. Semua pesanku selalu dibalas Cindy dengan senang hati, walaupun terkadang dia mengelak dengan perhatianku, tapi sebenarnya dia senang dengan semua ini, tapi terkadang aku hanya menjadi sebagai cadangan hatinya saja. Saat pacarnya sibuk, dia kerap kali memaksaku untuk menemaninya, aku sebenarnya senang saja, tapi masalahnya aku merasa dipermainkannya, sesuka-sukanya aku pada Cindy, aku juga tak ingin menjadi pelarian seperti ini.
“Kenapa sih Gi, dah 3 hari nggak ada nelpon ma SMS aku?” Tanya Cindy saat dia menelponku.
“Maaf Cin, aku lagi merasa ada yang ganjel aja,”
“Katanya mau dengerin ceritaku?”
“Ah… bukannya gitu Cin, aku ngerasa aja, kamu tu nganggap aku cuma sebagai pengganti saat cowokmu tu lagi nggak ada buat kamu, kamu pikir aku tu pengganti aja, aku tu…”
“Kok gitu sih Gi, aku tu nggak sejahat itu, kamu anggap aku apa sih? Temankan? Jangan berfikir kayak gitu, teman ya teman, apa lagi tu yang namanya pengganti, nggak ada Gi,”
“Bodo ah, cape ngomonginnya,”
“Ya udah kalau gitu kita nggak usah lagi telepon-teleponan, SMS-an, dari pada kamu anggap semua responku tu cuma nganggap kamu sebagai pengganti, ini yang terakhir aku ngomong sama kamu kalau kamu mau!”
“Apa sih Cindy ini, kenapa kamu bilang terakhir segala?”
“Aku nggak mau kamu salah paham Gi, aku takut Gi, aku benci sama kamu!”
“Kamu nggak mau kenal aku lagi Cin? Kenapa bilang terakhir segala, aku nggak ada kepikiran buat itu,”
“Siapa tau aja sih, kan aku udah buat kamu ngerasa sebagai pengganti,”
“Nggak bakal Cin, nggak bakal dua kali aku kehilangan kamu lagi,”
“Kamu itu nggak marah sama aku Gi?”
“Aku marah sama kamu, kalau kamu bilang aku ninggalin kamu,”
“Tapi Gi, aku nggak pernah ngerti sama jalan pikiran kamu,”
“Aku nggak akan jauh dari kamu! Percaya aku, itu pikiranku,”
“Aku nggak sendiri Gi,”
“Bilang siapa aku butuh kesendirianmu, aku cuma butuh sosokmu, walaupun kamu nggak sendiri, aku tetap ada buat kamu, aku sadar ini konsekuensinya,”
“Ini tulus?”
“Iya tulus Cin, aku nggak bisa dapat pamrih apapun, karena itu nggak mungkin, kamu paham itu,”
“Ya aku paham,”
Samar-samar aku mendengar ada suara isakan diseberang sana, Cindy menangis? Ini kali pertama aku membuat seorang Anandia Cindy menangis. Dulu, walaupun aku berkelahi dengannya, Cindy tidak pernah menagis, dasar Cindy, sekarang kalah sama perasaan, aku benar-benar merasa jahat padanya, aku membuat hatinya porak poranda, aku merasa sangat bersalah padanya.
“Kamu nangis Cin?”tanyaku padanya seolah tak terjadi apa-apa.
“Iya tau! Terharu aku, sebel, sebel, sebel, kenapa ada orang kayak kamu,” jawab Cindy masih dengan sedikit isakan.
“Hhahhaahahhaaa, bisa nagis juga kamu Cindyrella! Kan yang penting aku ada buat kamu,”
“Bodo ah, aku sebel!”


***

Cindy, aku sadar akan keterlamabatan ku ini buat dirimu bimbang sekaligus bingung. Maafkan aku Cin. Aku akan tetap ada untukmu, walaupun mungkin tidak akan pernah bisa memilikimu Cin. Aku juga tahu, yang kamu inginkan bukan cinta dariku, tapi hanya keberadaanku. Aku tetap ada untukmu, dan mungkin berusaha untuk tidak menunggumu karena aku tahu kamu tidak ingin memjadi beban untuk hatiku. Cindy, Cinderellaku yang meninggalkan cinta, bukan sebuah sepatu kaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar