Semilir embun pagi yang menerpa wajahku, seakan tahu kegundahan didalam batin ini, gundah yang tak berwujud, inginnya aku bertriak tapi takut disangka orang gila, walaupun penampilanku memang sedikit seperti itu, setidaknya kelakuanku tidak mencerminkan itu, agghh…! Ingin menghilang rasanya, ingin bertemu Doraemon saja kalau begini keadaanya, ingin kembali kemasa-masa itu, mengenang sedikit tanpa keterikatan dan ketertarikan, tapi sayang itu tidak mungkin akan terjadi.
Bukan aku yang menginginkan ini, aku hanya mengikuti alurnya saja, aku mengikuti kata hatiku, bukannya mengada-ada, memang kenyataannya begini. Rasanya ingin ku pungut semua sisanya, ku gabungkan jadi satu, dan aku mendapatkan lengkapnya, tapi itu tak mungkin. Aku bukan Cinderella, hanya gadis biasa yang hatinya seperti tak terikat walaupun sesungguhnya terikat.
Edisi-edisi cinta yang seolah kubuat sendiri walaupun sebenarnya hadir dengan sendirinya mengikuti waktu. Terus terang hatiku penuh warna dengan edisi-edisi ini, tapi hatiku juga penuh dengan kebimbangan akibat edisi-edisi cinta yang gila ini.
***
Aku sudah merasa amat bahagia saat ini, memiliki seorang kakak istimewa yang ku panggil sayang, dia kekasihku, yang usianya berbeda minggu saja denganku, Fahry namanya. Kenapa ku panggil dia kakak? Wajahnya yang teduh itu buatku kikuk bila tak memanggilnya kakak. Tahun ini adalah tahun ke tigaku bersamanya, yah walaupun selalu diterpa badai yang menghadang, tetapi rasa sayang kami bertahan. Kenapa bukan cinta? Berat membicarakan cinta dengannya, cinta menurut pandangannya terlalu sakral, yah aku ikuti sajalah.
Aku sendiri termasuk anak manja, yang dianggap anak kecil oleh orang-orang sekelilingku, aku terima dengan senang hati, banyak keuntungan yang ku peroleh, dengan sedikit kerugian yaitu sedikit tak didengar, padahal menurutku perkataanku juga hal jitu, tapi menurut mereka terkadang hanyalah angin lalu.
Kharisa namaku, tahun ini merupakan tahun yang membingungkan untuk hatiku, walaupun membingungkan, tapi mengesankan. Kutapaki awal Januari dengan senyum lebar sepeti model iklan yang terkenal, banyak orang baru disekitarku, maklumi saja aku baru masuk kuliah, banyak mengenal orang baru dan organisasi yang menyenangkan. Di sini aku aktif bersama kekasihku yang tegas serta para sahabatku sejak SMA dan teman baru lainnya, serta para senior yang awalnya berlagak galak tapi sekarang jadi teman saat sedang terbahak bersama.
Aku mengenal sesosok cowok bersahabat dan menyenangkan, dan dengan sekejap aku sudah akrab dengannya, sebenarnya tidak hanya aku saja, tapi memang lebih dekat denganku, mungkin karena diantara yang lain, akulah yang paling kecil. Dia seniorku diorganisasi, kami sering memanggilnya Kak Pooh, bukan nama sebenarnya, hanya sebuah julukan, karena dia banyak mengoleksi sesuatu yang berhubungan dengan Pooh. Dia termasuk orang yang gemar memberikan banyak kejutan padaku, banyak hal yang yang mengesankan dia lakukan untukku. Pernah pada suatu hari, saat kami berlibur bersama teman-teman lainnya kesuatu tempat, dia membawa seorang pengamen, dengan masih menyisahkan pertanyaan, Kak Pooh menyuruh si pengamen mengiringiku bernyanyi, rasa kaget bercampur malu membuat warna wajahku berubah, dengan segenap kemampuan bernyanyiku yang pas-pasan aku melantunkan sebuah lagu yang sedang populer.
Tetapi masalahnya, ada hal yang kurang baik bila kedekatan ini berlanjut, pandangan teman-teman yang kurang mendukung. Mereka sudah mulai menceramahiku satu persatu, mewanti-wanti prilakuku, dan lain-lain. Kekasihku, kulihat santai saja, tanpa merasa takut kehilanganku dia tetap percaya padaku, sepertinya dia mengerti akan kedekatan kami. Tapi lama-lama akunya yang risih, sehingga aku mulai sedikit menghindar, untungnya sebelum aku benar-benar menghindar, kakak baruku itu mendapatkan pacar, syukurlah, ternyata diriku hanya sempat ke GR-an, dia hanya menganggapku sebagai adik saja. Kuakhiri edisi pertama ini dengan senyum simpulku.
***
Di kostan, aku bertemu teman lama, dan dia memberikan sebuah nomor handphone padaku, yaitu nomor seseorang yang pernah menjadi khayalan hampaku selama empat tahun, hanya sebuah khayalan hampa, sampai detik ini, aku tak pernah bisa menyatakan ketertarikanku padanya. Edisi terbaru dibulan Mei dimulai, dengan tetap selalu ceria bersama kekasihku, aku juga mulai menjalin komunikasi dengan Adit yang sempat putus selama 2 tahun, maklumi saja kami pernah tak bertegur sapa, dia yang mulai, aku sih tidak tahu penyebabnya apa, dia sendiri yang baik padaku lagi, yah manusia memang susah ditebak.
Bercerita dengannya buatku bahagia, dan menghadirkan sedikit demi sedikit penggalan kisah lalu itu lagi, tapi itu tak lama, saat terakhir aku bertemu dengannya, hanya sekedar berpapasan, aku meng-sms dia, tapi tak dibalas, dan lama kelamaan nomornya juga sudah tak aktif lagi, entah kenapa, mungkin saja dia takut melihatku yang buruk rupa ini. Edisi bulan ini berakhir begitu saja, lagi-lagi tanpa sebuah teguran dan cemburu dari kekasihku tersayang.
Liburan semester dua pun dimulai, aku pulang dari perantauan, menurutku ini liburan yang menyenangkan. Hari-hariku ku isi dengan duduk diam didepan laptop, browsing sana-sini, dan chaating. Aku sedikit bersemangat chatting, karena ada seorang sahabat yang setia menemaniku, dia mantan kekasihku. Kami sudah putus lebih dari 3 tahun, tapi hubunganku dan Dino tetap baik, walaupun akulah yang salah, akulah yang egois, tapi karena sifat sabarnya itu, dia tetap menganggapku sahabat. Sampai saat ini, dia belum pernah berpacaran lagi setelah putus denganku. Terus terang saja, bilang bertemu dengannya, mataku tak kuasa untuk menatapnya, ada sesuatu yang mengganjal di hati, mungkin suatu perasaan bersalah padanya, karena aku memutuskan hubungan tanpa sebuah sebab yang jelas.
Berawal dari sebuah cerita sedih yang memang sering ku hidangkan padanya, percakapan kami berdua di dunia maya mengalir setiap hari. Dino adalah seorang pendengar yang baik, dia mendengarkan ceritaku dan tak jarang memberikan nasehat padaku. Memang dari Juni lalu, aku sedang bermasalah dengan kekasihku, karena mantan yang paling dia sayang hadir, dan menorehkan suatu hal berkesan, dan hubungan kami jadi sedikit berantakan. Sempat singgah dibenakku, apa yang kulakukan sebenarnya tidak seberapa dengan apa yang dilakukan kekasihku, aku hanya mngobrol lewat maya saja, sedangkan mereka bertemu, dan menorehkan kisah baru, aku sih tidak meninggalkan kesan apapun, itu menurut Dino, saat aku bertanya aku berkesan apa tidak.
Edisi di pertengahan Juli mulai berjalan, kami tetap akrab, hingga akhirnya aku tahu, aku sudah mulai salah jalan lagi, aku terbawa arus lagi, arus yang aku perbuat sendiri. Aku mulai menetralkan diri, beruntungnya aku dikenalkan oleh Dino seorang gadis manis teman sekampusnya, yang menurut kabar angin adalah teman dekatnya. Ada rasa cemburu, tapi hanya sedikit, dan setelah aku akrab dengan si gadis manis, aku jadi lupa dengan mantanku itu, aku larut dengan ocehan khas cewek dengan gadis itu. Gadis itu memiliki sifat yang sedikit sama denganku, bisa dikatakan aku menemukan diriku didirinya, mungkin Dino sengaja mencari yang tidak jauh berbeda dariku mungkin, PD sekali aku ini. Aku lambat laun lupa dengan edisi bulan ini, kalau saja aku tidak sadar dengan edisi bulan berikutnya yang menungguku.
***
Agustus ceria, bukan September ceria atau Desember ceria seperti lagunya Vina Panduwinata, kenapa kukatakan ceria? Bulan ini adalah bulan paling memacu semangatku ditengah keterbatasanku, aku tak tahu juga sumbernya dari apa, dan kenapa ada semangat yang terpacu, tapi mungkin karena dia. Dia disini bukan kekasihku, kekasihku memang selalu setia untukku, dan aku makin bangga padanya. Dia yang aku maksud adalah kenangan terindahku saat SMP, dia semangatku saat SMP dulu, dia teman bercandaanku saat SMP dulu, dan dia orang yang kusuka saat itu. Dan edisi bulan ini adalah edisi penguras batin menurutku. Aryo namanya, umurnya lebih muda setahun dariku, anaknya cerdas tapi menyebalkan, karena inilah aku bisa dekat dengannya dulu.
Tak disangka, dia mengirimkan sebuah SMS padaku, awalnya aku biasa saja, tapi lambat laun, sifatnya yang terkadang jutek berubah menjadi seorang pujangga kelas kakap, yang setiap hari selalu merayu seperti orang yang sedang pendekatan tapi terlambat. Dimulai dari saling mengenang kisah dahulu, kami larut dalam kenangan-kenangan konyol, dan saling mengingatkan kejadian yang kami alami bersama. Bahagia rasanya menemukan sesuatu yang tekubur lebih dari lima tahun lalu, kejadian ini seolah menyeretku kembali kemasa itu, masa culun-culunnya aku, masa polos-polosnya aku, dan masa cerdas-cerdasnya aku, karena sekarang sudah sedikit kurang cerdas. Kehadirannya memberikan warna berbeda dihari-hariku dibulan Agustus ini.
Sifat burukku timbul lagi, aku terpancing, yah mungkin karena memang aku masih memilki sesuatu yang berbeda untuk anak kecil satu ini. Entah angin apa yang membuat Aryo berubah sifat padaku, setiap hari memujiku, membuat aku kelimpungan dan menjadi udang rebus setiap kali membaca pesannya. Hingga suatu malam, aku mulai kelu menghadapi semua ini, akhirnya aku menceritakan sesuatu yang ternyata mendapatkan sebuah tanggapan yang sedikit luar biasa. Aku menceritakan bahwa dulu aku pernah suka padanya, rasanya hati ini lega bisa berkata jujur padanya, bayangkan saja, aku menyimpan perasaan ini sejak SMP, walaupun saat ini rasa itu sudah kadaluwarsa sepertinya. Tanggapan dari dia penuh dengan teka-teki polos khas anak SD, setelah ku tanya dan ku pertegas jawaban mencengangkan aku dapatkan, “Walaupun aku jujur juga sudah telat, kamu sudah punya pacar, aku mau pergi lama”,jawab Aryo polos. Rasanya terharu, setelah didesak terus, sebuah pengakuan dasyat kuterima. Rasa hati ini bahagia, ternyata dulu bukan sebuah penyiksaan batin, bukan sebuah kisah yang bertepuk sebelah tangan. Tapi dulu kami masih belum mengerti apa-apa, belum dewasa, sampai sekarangpun menurutku dia masih belum dewasa, tetap anak kecil.
Setelah pengakuan itu, pujangga dadakan ini setiap hari selalu membuatku seperti orang yang baru jatuh cinta, lagu-lagu zaman SMP aku download lagi, lagu-lagu yang seolah menjadi latar petualangan gilaku dulu. Foto-foto saat masih SMP aku lihat kembali, rasanya masa itu hidup lagi. Pujiannya selalu keluar tanpa henti, padahal sudah jelas-jelas aku memiliki pangeran hati, secara tidak langsung aku memiliki keterikatkan. Tapi siapa yang tidak luluh dipuja terus, apalagi oleh orang yang pernah memiliki makna di hati. Paranya lagi si pujangga kecil ini, memberikan banyak imajinasi konyolnya kepadaku, sebenarnya ada yang membedakan dia dengan orang-orang yang mengisi edisi cintaku lainnya, dia lebih membawaku kesuatu hal yang tak nyata namun mengasyikkan, mungkin karena sifat polos dan kekanak-kanakkannya ini aku jadi merasa nyaman. Terlalu banyak ungkapan manis yang dia buat, entah itu untukku atau tidak, yang pasti ungkapannya itu buatku tersenyum seperti setengah gila, untungnya hanya sedikit orang yang menyadari keanehan sifatku ini.
Disaat inilah, aku terkadang kesal dengan diriku, rasanya ingin marah. Saat aku menceritakan ini pada kekasihku, Fahry hanya tertawa dan berkata,”Oh lagi ada yang suka ya, pantas beberapa hari ini sok imut betul, nggak cemburu kok. Sebel ya gara-gara aku nggak cemburu?” .Yah sudahlah pasti begini, kenapa tanggapanya selalu sespektakuler ini sih.
Edisi menguras hati dan pikiran ini terus berlanjut bahkan semakin seru, rasanya ingin kembali ke SMP saja, dari pada masa sekarang, aku sudah terikat, mana mungkin Doraemon kan tidak ada, walaupun seingatku si pujangga kecil itu memiliki setumpuk komik Doraemon, tapi mana mungkin ada mesin waktu itu, kalaupun ada dan kembali kemasa itu apa yang harus kulakukan. Rasanya ingin sekali aku marah pada Aryo, kenapa telatnya keterlaluan, aku sudah lelah mengejar tetapi dirinya baru berhenti di ujung jalan ketika aku sudah pingsan kelelahan jauh di belakangnya, aku sudah tak mampu berbicara, tapi kenapa dianya baru mau mengajakku bicara. Dasar bodoh, aku benci dengan keadaan ini, ini semua kurasa seperti pembodohan pada diri sendiri .
Seperti anak kecil yang tak punya dosa, aku sudah berulang kali menyuruhnya stop untuk tidak membuatku GR lagi, tapi jawabannya selalu saja beralasan, buat aku senang lah, jujur dari hatilah, dan jawaban-jawaban konyol lainya. Cukup…! Ingin rasanya kupekikan itu padanya, tetapi objek di depanku seolah hanya seonggok tembok yang tidak paham dengan ocehanku. Tapi aku juga takut kehilangan dia, nakalnya aku, tapi bagaimana lagi. Ingin rasanya ku akhiri edisi ini, tapi bagaimana menamatkannya. Sahabat dekatku juga, sudah banyak memberikan komentarnya padaku, malah cenderung bukan termasuk komentar, lebih menjurus kesebuah perintah. Perintah untuk menyudahi semua kegilaanku dengan edisi cintaku yang makin kesini makin semerawut dan berbahaya untuk hubunganku dengan Fahry.
Kian hari tingkah gila Aryo membuat kepalaku semakin pening, dengan semangat 45 aku menelponnya, bak seorang korlap yang memimpin demo, aku memberikan banyak pertanyaan dan pernyataan tegas padanya, berdasarkan atas kesangsianku dengan tingkahnya yang menurutku cenderung menipu. Tapi dasarnya anak kecil, sifat keukeh bagai batunya masih bergejolak. Banyak pernyataan jujurnya yang mecengangkanku, sedikit menimbulkan penyesalan mengapa aku harus segalak ini padanya, karena tercermin suatu ketulusan dari hatinya ketika menjawab semua intrograsiku. Dengan harus menelan pil pahit dan rasa kehilangan dia untuk kedua kalinya, aku akhiri edisi terpanjangku ini sejalan dengan keberangkataannya ke luar daerah untuk kuliah dan entah kapan aku dapat bertemu Aryo lagi.
***
Aku tersadar dari kebodohanku ini, aku memiliki seseorang yang setia yang setiap hari menemaniku, aku memiliki orang yang cerdas yang selalu mampu menjawab semua pertanyaan hatiku, aku memiliki seseorang yang menyenangkan yang selalu menghiburku, aku memiliki seseorang yang sabar mendengarkan semua keluh kesahku, aku juga memiliki seorang pujangga yang hebat yang setiap malam mengucapkan ucapan tidur untukku dan kerap kali memberikanku bait puisi cinta, sebenarnya aku sudah memiliki paket lengkap untuk hatiku.
Aku sudah tega menyakiti hatinya, aku tak pernah memperdulikan apa yang dia rasakan, aku terlalu sibuk dengan edisi-edisi cinta dadakan yang kubuat sendiri, aku memang bodoh. Dia diam dan dia tidak cemburu tapi bukan berarti dia benar-benar tidak cemburu, tapi itulah sifatnya, sifat yang tidak ingin mengekangku, aku benar-benar menyesal. Semua yang dia lakukan tak sebanding dengan apa yang ku buat selama ini. Edisi-edisi ini seakan menutup mataku, sehingga aku tak melihat keberadaannya yang selalu ada disampingku. Aku tutup saja semua edisi-edisi gila ini. Aku buka saja edisi cintaku yang baru, karena Oktober ini, edisi cinta paket lengkapku genap tiga tahun berjalan, karena aku memiliki pacar paket lengkap seperti kekasihku, Fahry.