Total Tayangan Halaman

Sabtu, 18 September 2010

Jeprat-jepret





Cintaku Tragis

Cintaku Tragis
Bukan kisah cinta karena ditinggal mati kekasih…
Bukan kisah cinta karena tak direstui…
Bukan pula kisah cinta karena dikhianati…
Tapi sebuah kisah cinta tak tersampaikan…

Rasa sayang yang menggejolak…
Terkekang karena waktu yg laju…
Buliran peluh rindu…
Seakan ikut menghilang tersapu udara sesal…

Tragis bukan karena kecewa…
Tragis juga bukan karena sesal…
Tapi tragis karena terlambat…
Terlambat meraih hingga tak tersampaikan…

Ungkapan sejuta makna tersirat…
Lenyap menghilang tertinggal kenangan…
Yang ada kini hanya cinta…
Cinta tragis tak terjawabakan…

Foto Kampung Halaman Ne





Cinderella yang Meninggalkan Cinta

Mau marah silahkan, mau benci silahkan, yang penting aku cinta padamu. Lega rasanya ketika aku bisa mengungkapkan perasaanku ini padanya. Perasaan terdalam yang mungkin memang sangat terlambat ku rasakan. Bukannya aku bodoh, tapi dasarnya aku baru tergugah. Tergugah? Jadi selama ini baru tergugah sekarang, bukan begitu, aku baru menyadari yang kurasakan padanya itu cinta. Cinta yang tertinggal dari seorang Anandia Cindy, Cinderellaku.
***
“Harus berapa kali sih aku bilang, namaku tu Cindy, bukan Cinderella,” kata Cindy disebrang sana.
“Iya, tapi kamu itu Cinderellaku tau!” kataku tak mau kalah.
“Cinderellamu apa Cindyrella Gi? Malas aku diingetin ma olokan itu,”,
“Iya Cin, Cinderella ku, maafin aku Cin, kamu boleh benci aku, tapi aku sudah terlanjur suka sama kamu, walaupun aku tahu semuanya udah terlambat,”jawabku melemah.
“Maaf Gi, aku udah nggak sendiri,”
“Tapi kamu belum tentu sama dia terus kan?”
“Ah, edan kamu Gi, jangan bilang gitu dong,”
“Hhahhahaa, ini dari hati Cin,”
“Sejak kapan kamu ngomongin hati Gi?”
“Sejak aku sadar Cin, kalau kamu itu ninggalin cinta buat aku,” jawabku lirih.
“Sudah-sudah Gi, aku bisa gila gara-gara kekonyolanmu ini,”ucap Cindy disana.
“Ini bukan konyol Cin, aku bisa buktikan ke kamu, aku bisa lebih baik dari pacarmu,”
“Ha?”
Aku putuskan sambungan teleponku dengan Cindy malam itu, mungkin disana Cindy bertanya-tanya dalam hati, apa benar dia baru saja bebicara dengan seorang Ergi. Yah, terserah Cindy sajalah, mau percaya padaku tidak, yang jelas beberapa hari ini aku selalu memikirkan dia, semoga dia juga begitu.
***
Aku senang, kaget, bingung, dan cemburu, ya sedikit cemburu saja sepertinya, ketika melihat foto seorang teman lamaku di jejaring sosial, yah itu Cindy tapi tidak sendiri, dia bersama seorang cowok yang cukup tampan untuk ukuran menjadi pacar Cindy. Cindy berubah, senyumnya makin manis, rambutnya panjang terurai tidak seperti dulu, pendek seperti tokoh kartun idola anak TK, dan aku merasa ada yang kurang, dia cantik tapi tak seimut dulu. Cindy, Cindy rasa rinduku padamu tiba-tiba membeludak, ingin rasanya aku bercanda denganmu seperti dulu lagi, membuatmu marah hingga kau tak segan melemparku dengan tong sampah kelasmu, aku rindu saat-saat itu Cin.
Jangan panggil aku Ergi, kalau aku tidak membuktikan bahwa aku bisa menemukan Cindyku yang dulu, aku mulai kegilaanku, kegilaan mengejar cinta yang tak tersampaikan. Terus terang saja, aku bingung ini cinta apa bukan, tapi setelah kupikir-pikir diksi yang cocok untuk menggambarkan perasaan hatiku ini cinta, cinta lama yang belum kesampaian.
Pagi, siang, malam, aku mengirimkan SMS pada Cindy, sekedar SMS pujian untuknya, aku benar-benar memujinya tulus dari lubuk hatiku, pujian orang yang mengagumi sifat ramah dan cerianya, pujian karena kedewasaannya yang jauh lebih dewasa dariku, dan tentu saja pujian karena aku suka dia. Aku mendadak menjadi pujangga cinta kelas kakap beberapa waktu ini, rindu berbuah cinta mungkin tepat menggambarkan kisahku kali ini.
***

“Maksudmu apa sih Cin, aku ini serius, aku nggak boleh ngungkapin kekagumanku ma kamu Cin? Tanyaku saat kembali malam ini aku berbicara lewat telepon dengannya, saat kurasa ada kesangsian dari Cindy dengan tingkahku, jarak memisahkan kami, kami hanya dapat berbicara lewat telepon.
“Bukannya begitu, aku takut aku jadi punya rasa ke kamu lagi, aku dulu memang suka sama kamu, tapikan itu dulu, waktu kita masih bego-begonya, aku tu nggak mau keterusan ma kamu Gi,”
“Bagus dong kalau keterusan, aku jadi punya peluang,”
“Aduh Gi, kamu itu telatnya kelewatan sih Gi, aku nggak bisa Gi,”
“Aku tulus kok Cin, walaupun kamu nggak bisa, tapi yang penting kamu mau nerima ketulasnku ini,”
“Aku terima dengan senang hati Gi, aku ngarapin ini dari dulu, tapi Cuma sebatas ini aja ya Gi, jangan lebih gila lagi oke,”
“Nggak janji aku Cin, akukan lagi usaha dapetin kamu, siapa tahu jodoh,”
“Ah gila kamu Gi, capek aku jelasin sama kamu, nggak mudeng-mudeng,”
Lagi-lagi malam ini telepon ditutup dengan ungkapan kebingungan dari seorang Cindy, aku rasa dia masih memberikan harapan untukku, tapi kendalanya kan dia sudah punya pacar, tapi sikapnya yang selalu meresponku menandakan dia juga punya rasa ke aku, walaupun tidak sebesar dulu.
***
Kata Cindy, hari-harinya penuh warna ketika dia kembali berkomunikasi denganku, ada sedikit rasa bangga, ternyata aku bisa menarik sedikit perhatiannya kepadaku. Semua pesanku selalu dibalas Cindy dengan senang hati, walaupun terkadang dia mengelak dengan perhatianku, tapi sebenarnya dia senang dengan semua ini, tapi terkadang aku hanya menjadi sebagai cadangan hatinya saja. Saat pacarnya sibuk, dia kerap kali memaksaku untuk menemaninya, aku sebenarnya senang saja, tapi masalahnya aku merasa dipermainkannya, sesuka-sukanya aku pada Cindy, aku juga tak ingin menjadi pelarian seperti ini.
“Kenapa sih Gi, dah 3 hari nggak ada nelpon ma SMS aku?” Tanya Cindy saat dia menelponku.
“Maaf Cin, aku lagi merasa ada yang ganjel aja,”
“Katanya mau dengerin ceritaku?”
“Ah… bukannya gitu Cin, aku ngerasa aja, kamu tu nganggap aku cuma sebagai pengganti saat cowokmu tu lagi nggak ada buat kamu, kamu pikir aku tu pengganti aja, aku tu…”
“Kok gitu sih Gi, aku tu nggak sejahat itu, kamu anggap aku apa sih? Temankan? Jangan berfikir kayak gitu, teman ya teman, apa lagi tu yang namanya pengganti, nggak ada Gi,”
“Bodo ah, cape ngomonginnya,”
“Ya udah kalau gitu kita nggak usah lagi telepon-teleponan, SMS-an, dari pada kamu anggap semua responku tu cuma nganggap kamu sebagai pengganti, ini yang terakhir aku ngomong sama kamu kalau kamu mau!”
“Apa sih Cindy ini, kenapa kamu bilang terakhir segala?”
“Aku nggak mau kamu salah paham Gi, aku takut Gi, aku benci sama kamu!”
“Kamu nggak mau kenal aku lagi Cin? Kenapa bilang terakhir segala, aku nggak ada kepikiran buat itu,”
“Siapa tau aja sih, kan aku udah buat kamu ngerasa sebagai pengganti,”
“Nggak bakal Cin, nggak bakal dua kali aku kehilangan kamu lagi,”
“Kamu itu nggak marah sama aku Gi?”
“Aku marah sama kamu, kalau kamu bilang aku ninggalin kamu,”
“Tapi Gi, aku nggak pernah ngerti sama jalan pikiran kamu,”
“Aku nggak akan jauh dari kamu! Percaya aku, itu pikiranku,”
“Aku nggak sendiri Gi,”
“Bilang siapa aku butuh kesendirianmu, aku cuma butuh sosokmu, walaupun kamu nggak sendiri, aku tetap ada buat kamu, aku sadar ini konsekuensinya,”
“Ini tulus?”
“Iya tulus Cin, aku nggak bisa dapat pamrih apapun, karena itu nggak mungkin, kamu paham itu,”
“Ya aku paham,”
Samar-samar aku mendengar ada suara isakan diseberang sana, Cindy menangis? Ini kali pertama aku membuat seorang Anandia Cindy menangis. Dulu, walaupun aku berkelahi dengannya, Cindy tidak pernah menagis, dasar Cindy, sekarang kalah sama perasaan, aku benar-benar merasa jahat padanya, aku membuat hatinya porak poranda, aku merasa sangat bersalah padanya.
“Kamu nangis Cin?”tanyaku padanya seolah tak terjadi apa-apa.
“Iya tau! Terharu aku, sebel, sebel, sebel, kenapa ada orang kayak kamu,” jawab Cindy masih dengan sedikit isakan.
“Hhahhaahahhaaa, bisa nagis juga kamu Cindyrella! Kan yang penting aku ada buat kamu,”
“Bodo ah, aku sebel!”


***

Cindy, aku sadar akan keterlamabatan ku ini buat dirimu bimbang sekaligus bingung. Maafkan aku Cin. Aku akan tetap ada untukmu, walaupun mungkin tidak akan pernah bisa memilikimu Cin. Aku juga tahu, yang kamu inginkan bukan cinta dariku, tapi hanya keberadaanku. Aku tetap ada untukmu, dan mungkin berusaha untuk tidak menunggumu karena aku tahu kamu tidak ingin memjadi beban untuk hatiku. Cindy, Cinderellaku yang meninggalkan cinta, bukan sebuah sepatu kaca.

Edisi Cinta Kharisa

Semilir embun pagi yang menerpa wajahku, seakan tahu kegundahan didalam batin ini, gundah yang tak berwujud, inginnya aku bertriak tapi takut disangka orang gila, walaupun penampilanku memang sedikit seperti itu, setidaknya kelakuanku tidak mencerminkan itu, agghh…! Ingin menghilang rasanya, ingin bertemu Doraemon saja kalau begini keadaanya, ingin kembali kemasa-masa itu, mengenang sedikit tanpa keterikatan dan ketertarikan, tapi sayang itu tidak mungkin akan terjadi.
Bukan aku yang menginginkan ini, aku hanya mengikuti alurnya saja, aku mengikuti kata hatiku, bukannya mengada-ada, memang kenyataannya begini. Rasanya ingin ku pungut semua sisanya, ku gabungkan jadi satu, dan aku mendapatkan lengkapnya, tapi itu tak mungkin. Aku bukan Cinderella, hanya gadis biasa yang hatinya seperti tak terikat walaupun sesungguhnya terikat.
Edisi-edisi cinta yang seolah kubuat sendiri walaupun sebenarnya hadir dengan sendirinya mengikuti waktu. Terus terang hatiku penuh warna dengan edisi-edisi ini, tapi hatiku juga penuh dengan kebimbangan akibat edisi-edisi cinta yang gila ini.
***
Aku sudah merasa amat bahagia saat ini, memiliki seorang kakak istimewa yang ku panggil sayang, dia kekasihku, yang usianya berbeda minggu saja denganku, Fahry namanya. Kenapa ku panggil dia kakak? Wajahnya yang teduh itu buatku kikuk bila tak memanggilnya kakak. Tahun ini adalah tahun ke tigaku bersamanya, yah walaupun selalu diterpa badai yang menghadang, tetapi rasa sayang kami bertahan. Kenapa bukan cinta? Berat membicarakan cinta dengannya, cinta menurut pandangannya terlalu sakral, yah aku ikuti sajalah.
Aku sendiri termasuk anak manja, yang dianggap anak kecil oleh orang-orang sekelilingku, aku terima dengan senang hati, banyak keuntungan yang ku peroleh, dengan sedikit kerugian yaitu sedikit tak didengar, padahal menurutku perkataanku juga hal jitu, tapi menurut mereka terkadang hanyalah angin lalu.
Kharisa namaku, tahun ini merupakan tahun yang membingungkan untuk hatiku, walaupun membingungkan, tapi mengesankan. Kutapaki awal Januari dengan senyum lebar sepeti model iklan yang terkenal, banyak orang baru disekitarku, maklumi saja aku baru masuk kuliah, banyak mengenal orang baru dan organisasi yang menyenangkan. Di sini aku aktif bersama kekasihku yang tegas serta para sahabatku sejak SMA dan teman baru lainnya, serta para senior yang awalnya berlagak galak tapi sekarang jadi teman saat sedang terbahak bersama.
Aku mengenal sesosok cowok bersahabat dan menyenangkan, dan dengan sekejap aku sudah akrab dengannya, sebenarnya tidak hanya aku saja, tapi memang lebih dekat denganku, mungkin karena diantara yang lain, akulah yang paling kecil. Dia seniorku diorganisasi, kami sering memanggilnya Kak Pooh, bukan nama sebenarnya, hanya sebuah julukan, karena dia banyak mengoleksi sesuatu yang berhubungan dengan Pooh. Dia termasuk orang yang gemar memberikan banyak kejutan padaku, banyak hal yang yang mengesankan dia lakukan untukku. Pernah pada suatu hari, saat kami berlibur bersama teman-teman lainnya kesuatu tempat, dia membawa seorang pengamen, dengan masih menyisahkan pertanyaan, Kak Pooh menyuruh si pengamen mengiringiku bernyanyi, rasa kaget bercampur malu membuat warna wajahku berubah, dengan segenap kemampuan bernyanyiku yang pas-pasan aku melantunkan sebuah lagu yang sedang populer.
Tetapi masalahnya, ada hal yang kurang baik bila kedekatan ini berlanjut, pandangan teman-teman yang kurang mendukung. Mereka sudah mulai menceramahiku satu persatu, mewanti-wanti prilakuku, dan lain-lain. Kekasihku, kulihat santai saja, tanpa merasa takut kehilanganku dia tetap percaya padaku, sepertinya dia mengerti akan kedekatan kami. Tapi lama-lama akunya yang risih, sehingga aku mulai sedikit menghindar, untungnya sebelum aku benar-benar menghindar, kakak baruku itu mendapatkan pacar, syukurlah, ternyata diriku hanya sempat ke GR-an, dia hanya menganggapku sebagai adik saja. Kuakhiri edisi pertama ini dengan senyum simpulku.
***
Di kostan, aku bertemu teman lama, dan dia memberikan sebuah nomor handphone padaku, yaitu nomor seseorang yang pernah menjadi khayalan hampaku selama empat tahun, hanya sebuah khayalan hampa, sampai detik ini, aku tak pernah bisa menyatakan ketertarikanku padanya. Edisi terbaru dibulan Mei dimulai, dengan tetap selalu ceria bersama kekasihku, aku juga mulai menjalin komunikasi dengan Adit yang sempat putus selama 2 tahun, maklumi saja kami pernah tak bertegur sapa, dia yang mulai, aku sih tidak tahu penyebabnya apa, dia sendiri yang baik padaku lagi, yah manusia memang susah ditebak.
Bercerita dengannya buatku bahagia, dan menghadirkan sedikit demi sedikit penggalan kisah lalu itu lagi, tapi itu tak lama, saat terakhir aku bertemu dengannya, hanya sekedar berpapasan, aku meng-sms dia, tapi tak dibalas, dan lama kelamaan nomornya juga sudah tak aktif lagi, entah kenapa, mungkin saja dia takut melihatku yang buruk rupa ini. Edisi bulan ini berakhir begitu saja, lagi-lagi tanpa sebuah teguran dan cemburu dari kekasihku tersayang.
Liburan semester dua pun dimulai, aku pulang dari perantauan, menurutku ini liburan yang menyenangkan. Hari-hariku ku isi dengan duduk diam didepan laptop, browsing sana-sini, dan chaating. Aku sedikit bersemangat chatting, karena ada seorang sahabat yang setia menemaniku, dia mantan kekasihku. Kami sudah putus lebih dari 3 tahun, tapi hubunganku dan Dino tetap baik, walaupun akulah yang salah, akulah yang egois, tapi karena sifat sabarnya itu, dia tetap menganggapku sahabat. Sampai saat ini, dia belum pernah berpacaran lagi setelah putus denganku. Terus terang saja, bilang bertemu dengannya, mataku tak kuasa untuk menatapnya, ada sesuatu yang mengganjal di hati, mungkin suatu perasaan bersalah padanya, karena aku memutuskan hubungan tanpa sebuah sebab yang jelas.
Berawal dari sebuah cerita sedih yang memang sering ku hidangkan padanya, percakapan kami berdua di dunia maya mengalir setiap hari. Dino adalah seorang pendengar yang baik, dia mendengarkan ceritaku dan tak jarang memberikan nasehat padaku. Memang dari Juni lalu, aku sedang bermasalah dengan kekasihku, karena mantan yang paling dia sayang hadir, dan menorehkan suatu hal berkesan, dan hubungan kami jadi sedikit berantakan. Sempat singgah dibenakku, apa yang kulakukan sebenarnya tidak seberapa dengan apa yang dilakukan kekasihku, aku hanya mngobrol lewat maya saja, sedangkan mereka bertemu, dan menorehkan kisah baru, aku sih tidak meninggalkan kesan apapun, itu menurut Dino, saat aku bertanya aku berkesan apa tidak.
Edisi di pertengahan Juli mulai berjalan, kami tetap akrab, hingga akhirnya aku tahu, aku sudah mulai salah jalan lagi, aku terbawa arus lagi, arus yang aku perbuat sendiri. Aku mulai menetralkan diri, beruntungnya aku dikenalkan oleh Dino seorang gadis manis teman sekampusnya, yang menurut kabar angin adalah teman dekatnya. Ada rasa cemburu, tapi hanya sedikit, dan setelah aku akrab dengan si gadis manis, aku jadi lupa dengan mantanku itu, aku larut dengan ocehan khas cewek dengan gadis itu. Gadis itu memiliki sifat yang sedikit sama denganku, bisa dikatakan aku menemukan diriku didirinya, mungkin Dino sengaja mencari yang tidak jauh berbeda dariku mungkin, PD sekali aku ini. Aku lambat laun lupa dengan edisi bulan ini, kalau saja aku tidak sadar dengan edisi bulan berikutnya yang menungguku.
***
Agustus ceria, bukan September ceria atau Desember ceria seperti lagunya Vina Panduwinata, kenapa kukatakan ceria? Bulan ini adalah bulan paling memacu semangatku ditengah keterbatasanku, aku tak tahu juga sumbernya dari apa, dan kenapa ada semangat yang terpacu, tapi mungkin karena dia. Dia disini bukan kekasihku, kekasihku memang selalu setia untukku, dan aku makin bangga padanya. Dia yang aku maksud adalah kenangan terindahku saat SMP, dia semangatku saat SMP dulu, dia teman bercandaanku saat SMP dulu, dan dia orang yang kusuka saat itu. Dan edisi bulan ini adalah edisi penguras batin menurutku. Aryo namanya, umurnya lebih muda setahun dariku, anaknya cerdas tapi menyebalkan, karena inilah aku bisa dekat dengannya dulu.
Tak disangka, dia mengirimkan sebuah SMS padaku, awalnya aku biasa saja, tapi lambat laun, sifatnya yang terkadang jutek berubah menjadi seorang pujangga kelas kakap, yang setiap hari selalu merayu seperti orang yang sedang pendekatan tapi terlambat. Dimulai dari saling mengenang kisah dahulu, kami larut dalam kenangan-kenangan konyol, dan saling mengingatkan kejadian yang kami alami bersama. Bahagia rasanya menemukan sesuatu yang tekubur lebih dari lima tahun lalu, kejadian ini seolah menyeretku kembali kemasa itu, masa culun-culunnya aku, masa polos-polosnya aku, dan masa cerdas-cerdasnya aku, karena sekarang sudah sedikit kurang cerdas. Kehadirannya memberikan warna berbeda dihari-hariku dibulan Agustus ini.
Sifat burukku timbul lagi, aku terpancing, yah mungkin karena memang aku masih memilki sesuatu yang berbeda untuk anak kecil satu ini. Entah angin apa yang membuat Aryo berubah sifat padaku, setiap hari memujiku, membuat aku kelimpungan dan menjadi udang rebus setiap kali membaca pesannya. Hingga suatu malam, aku mulai kelu menghadapi semua ini, akhirnya aku menceritakan sesuatu yang ternyata mendapatkan sebuah tanggapan yang sedikit luar biasa. Aku menceritakan bahwa dulu aku pernah suka padanya, rasanya hati ini lega bisa berkata jujur padanya, bayangkan saja, aku menyimpan perasaan ini sejak SMP, walaupun saat ini rasa itu sudah kadaluwarsa sepertinya. Tanggapan dari dia penuh dengan teka-teki polos khas anak SD, setelah ku tanya dan ku pertegas jawaban mencengangkan aku dapatkan, “Walaupun aku jujur juga sudah telat, kamu sudah punya pacar, aku mau pergi lama”,jawab Aryo polos. Rasanya terharu, setelah didesak terus, sebuah pengakuan dasyat kuterima. Rasa hati ini bahagia, ternyata dulu bukan sebuah penyiksaan batin, bukan sebuah kisah yang bertepuk sebelah tangan. Tapi dulu kami masih belum mengerti apa-apa, belum dewasa, sampai sekarangpun menurutku dia masih belum dewasa, tetap anak kecil.
Setelah pengakuan itu, pujangga dadakan ini setiap hari selalu membuatku seperti orang yang baru jatuh cinta, lagu-lagu zaman SMP aku download lagi, lagu-lagu yang seolah menjadi latar petualangan gilaku dulu. Foto-foto saat masih SMP aku lihat kembali, rasanya masa itu hidup lagi. Pujiannya selalu keluar tanpa henti, padahal sudah jelas-jelas aku memiliki pangeran hati, secara tidak langsung aku memiliki keterikatkan. Tapi siapa yang tidak luluh dipuja terus, apalagi oleh orang yang pernah memiliki makna di hati. Paranya lagi si pujangga kecil ini, memberikan banyak imajinasi konyolnya kepadaku, sebenarnya ada yang membedakan dia dengan orang-orang yang mengisi edisi cintaku lainnya, dia lebih membawaku kesuatu hal yang tak nyata namun mengasyikkan, mungkin karena sifat polos dan kekanak-kanakkannya ini aku jadi merasa nyaman. Terlalu banyak ungkapan manis yang dia buat, entah itu untukku atau tidak, yang pasti ungkapannya itu buatku tersenyum seperti setengah gila, untungnya hanya sedikit orang yang menyadari keanehan sifatku ini.
Disaat inilah, aku terkadang kesal dengan diriku, rasanya ingin marah. Saat aku menceritakan ini pada kekasihku, Fahry hanya tertawa dan berkata,”Oh lagi ada yang suka ya, pantas beberapa hari ini sok imut betul, nggak cemburu kok. Sebel ya gara-gara aku nggak cemburu?” .Yah sudahlah pasti begini, kenapa tanggapanya selalu sespektakuler ini sih.
Edisi menguras hati dan pikiran ini terus berlanjut bahkan semakin seru, rasanya ingin kembali ke SMP saja, dari pada masa sekarang, aku sudah terikat, mana mungkin Doraemon kan tidak ada, walaupun seingatku si pujangga kecil itu memiliki setumpuk komik Doraemon, tapi mana mungkin ada mesin waktu itu, kalaupun ada dan kembali kemasa itu apa yang harus kulakukan. Rasanya ingin sekali aku marah pada Aryo, kenapa telatnya keterlaluan, aku sudah lelah mengejar tetapi dirinya baru berhenti di ujung jalan ketika aku sudah pingsan kelelahan jauh di belakangnya, aku sudah tak mampu berbicara, tapi kenapa dianya baru mau mengajakku bicara. Dasar bodoh, aku benci dengan keadaan ini, ini semua kurasa seperti pembodohan pada diri sendiri .
Seperti anak kecil yang tak punya dosa, aku sudah berulang kali menyuruhnya stop untuk tidak membuatku GR lagi, tapi jawabannya selalu saja beralasan, buat aku senang lah, jujur dari hatilah, dan jawaban-jawaban konyol lainya. Cukup…! Ingin rasanya kupekikan itu padanya, tetapi objek di depanku seolah hanya seonggok tembok yang tidak paham dengan ocehanku. Tapi aku juga takut kehilangan dia, nakalnya aku, tapi bagaimana lagi. Ingin rasanya ku akhiri edisi ini, tapi bagaimana menamatkannya. Sahabat dekatku juga, sudah banyak memberikan komentarnya padaku, malah cenderung bukan termasuk komentar, lebih menjurus kesebuah perintah. Perintah untuk menyudahi semua kegilaanku dengan edisi cintaku yang makin kesini makin semerawut dan berbahaya untuk hubunganku dengan Fahry.
Kian hari tingkah gila Aryo membuat kepalaku semakin pening, dengan semangat 45 aku menelponnya, bak seorang korlap yang memimpin demo, aku memberikan banyak pertanyaan dan pernyataan tegas padanya, berdasarkan atas kesangsianku dengan tingkahnya yang menurutku cenderung menipu. Tapi dasarnya anak kecil, sifat keukeh bagai batunya masih bergejolak. Banyak pernyataan jujurnya yang mecengangkanku, sedikit menimbulkan penyesalan mengapa aku harus segalak ini padanya, karena tercermin suatu ketulusan dari hatinya ketika menjawab semua intrograsiku. Dengan harus menelan pil pahit dan rasa kehilangan dia untuk kedua kalinya, aku akhiri edisi terpanjangku ini sejalan dengan keberangkataannya ke luar daerah untuk kuliah dan entah kapan aku dapat bertemu Aryo lagi.
***
Aku tersadar dari kebodohanku ini, aku memiliki seseorang yang setia yang setiap hari menemaniku, aku memiliki orang yang cerdas yang selalu mampu menjawab semua pertanyaan hatiku, aku memiliki seseorang yang menyenangkan yang selalu menghiburku, aku memiliki seseorang yang sabar mendengarkan semua keluh kesahku, aku juga memiliki seorang pujangga yang hebat yang setiap malam mengucapkan ucapan tidur untukku dan kerap kali memberikanku bait puisi cinta, sebenarnya aku sudah memiliki paket lengkap untuk hatiku.
Aku sudah tega menyakiti hatinya, aku tak pernah memperdulikan apa yang dia rasakan, aku terlalu sibuk dengan edisi-edisi cinta dadakan yang kubuat sendiri, aku memang bodoh. Dia diam dan dia tidak cemburu tapi bukan berarti dia benar-benar tidak cemburu, tapi itulah sifatnya, sifat yang tidak ingin mengekangku, aku benar-benar menyesal. Semua yang dia lakukan tak sebanding dengan apa yang ku buat selama ini. Edisi-edisi ini seakan menutup mataku, sehingga aku tak melihat keberadaannya yang selalu ada disampingku. Aku tutup saja semua edisi-edisi gila ini. Aku buka saja edisi cintaku yang baru, karena Oktober ini, edisi cinta paket lengkapku genap tiga tahun berjalan, karena aku memiliki pacar paket lengkap seperti kekasihku, Fahry.

Jumat, 03 September 2010

Jemari

Jemari-jemari tak utuh itu…
Berlahan mulai ikut meninggalkanku…
Dalam kesendirian malam
Tanpa kawan kehidupan…
Malam dingin yg kian mencekam
Mengajakku untuk ttp diam
Walau terpaan badai yg menghantam…
Ingin melangkah tapi aku takut…
Aku takut terseret ombak…
Yang ada didaratan
Ombak hidup yg menerjang…
Aku tak sehebat karang
Aku serapuh ranting kering
Secepat kilat terhempas
Terlupakan oleh semua…
Agggghhhh….
Aku ingin marah…
Marah pada bebatuan terjal ….
Yang setia menghadangku…
Apa bisanya aku…
Aku rapuh aku sendirian…
Jangan jebak aku…
Dalam kegalauan ini….

Pernakah kita pernah berfikir?

Pernah kah kita berfikir, pantaskah kita menilai orang lain?
Pernahkah kita berfikir, berhakkah kita menuding orang lain salah?
Pernahkah kita berfikir, benarkah apa yang kita katakan di mata orang lain?
Pernahkah kita berfikir, seegois apakah diri kita ini?
Sahabtku, terkadang diri mudah berpendapat tentang orang lain, maksud hati ingin kritik, tapi apadaya kenyataannya yang kita lontarkan bukanlah suatu kritikkan, tapi sebuah penilaian tentang sebuah kesalahan orang tersebut di mata kita (sudut pandang kita). Egoiskah kita? Jawaban emosional dari diri kitalah yang dapat menjawabnya.
Manusia memang merupakan tempatnya salah dan khilaf, tapi manusia juga merupakan tempat memperbaiki sebuah kesalahan. Tak akan pernah ada jalan kalau tidak ada yang merintis, tak akan pernah ada penyelesaian kalau tidak ada yang menyelesaikan. Masalah di dunia ini tidak ada yang kecil, tidak ada pula yang besar. Yang membuatnya besar ataupun kecilkan si empunya masalah, masalah merupakan sesuatu yang kompleks, makin banyak akarnya makin kuat masalahnya, tapi makin sedikit akarnya makin cepat roboh masalah tersebut (terselesaikan).
Terkadang kita berfikir, kita punya nilai lebih dari pada orang lain, tapi apa kita juga berfikir, bernilai lebihkah kita di mata orang lain?
Sejenak setelah membaca pertanyaan ini, kita akan berfikir, betapa tak pantasnya kita menilai orang, betapa hebatnya kita menilai orang lain, hebat dalam artian mengada-ada, yang jelas-jelas nilai diri seseorang itu relatife, kaca mata kita belum sempurna untuk menembusnya.
Mudah memang mengatakan orang lain salah, tapi apakah kita sadar apa yang kita lakukan itu salah atau benar? Kembali kita diajak berfikir, sesuatu yang dimata kita salah belum tentu salah di lingkungan kita, apa perbuatan menuding seseorang salah itu benar? Mana kita tahu, apabila benar orang lain melakukan kesalahan, pasti dia punya alasan, kita memang punya alasan menyalahkan, tapi kembali lagi, berdasarkah tudingan kita itu, sudah benarkah diri kita ini? Kembali lagi, hanya hati kita yang mampu menjawab.
Kita sering berargument, berkata, menjawab sesuai kemampuan kita, bahkan kita beromong kosong, tanpa kita tahu adakah isinya. Berbicara memang mudah, tapi mengisi pembicaraan adalah salah satu hal sulit yang sampai saat inipun terkadang kita sulit melakukannya. Kita berbicara panjang lebar, dan kita menganggap kita mengatakan hal yang benar, tapi apakah orang lain membenarkan perkataan kita? Terkadang kitapun dapat menyalahkan seseorangkan? Jadi, inilah konsekuensi kita sebagai manusia yang tidak dapat hidup sendiri tapi jangan lupa kalau kita tidak sendiri, intinya harus sadar diri.
Egois? Kata-kata yang tidak asing lagi untuk kita, menang sendiri, memang siapa sih yang mau jadi pecundang, tapi kalau jadi pelopor seseorang menjadi pecundang sih oke, eits tapi salah besar, jangan lah kita menjatuhkan seseorang karena kita sendiri tak ingin dijatuhkan, yah namanya juga egois. Pernahkah kita berfikir, sejauh apakah egois diri kita ini? Akutkah atau sedangkah? Mana mungkin orang tahu, orang lain hanya sekedar berpendapat kalau kita sedikit egois. Tapi yang namanya egois itu tidak pernah lepas sama yang namanya manusia yang punya perasaan, tidak ada manusia yang legowo 100% kalau yang dia mau ditolak, ya kan? Ku akui, sifat egoisku juga tinggi, kalian juga dapat mengakui sifat egois kalian masing-masing kok. Yah mungkin inilah realita yang namanya hidup, kita tidak bisa sendiri dan kita juga tetap harus sadar kalau kita tidak sendiri, kita bukan satu-satunya manusia yang bisa dan punya hak, tapi kita hanyalah salah satu manusia yang punya hak, karena manusia punya sifat yang berbeda, tapi memiliki keinginan yang sama, yaitu sama-sama ingin dimngerti.
Terimakasih…

Cemara Rapuh

Disuatu pagi berembun asap…
Aku menyapa mentari yang tak indah…
Kilaunya tak menyilaukan…
Panasnya membakar…

Disuatu siang yang terik…
Aku berlindung dibawah batang…
Batang gersang tanpa daun…
Hendak roboh tak berdaya…

Disuatu sore yang kelabu…
Aku berdiri diatas tanah…
Tanah kering yang retak…
Kosong tak berisi…

Disuatu malam yang dingin…
Aku menatap rembulan…
Rembulan merah terbakar…
Cemara-cemara rapuh…