Total Tayangan Halaman

Minggu, 22 Desember 2013

Selamat hari Ibu Untuk Ibuku dan Ibu Ibu Hebat di Dekat dan di Jauh Pandanganku

Ibuku...
Orang terhebat yang aku kenal, mempunyai suara lebih merdu dari Evie Tamala di pendengaranku, bidadari yang sengaja Allah berikan untukku. Sebagai anak sulung yang manja dan mungkin tidak sesempurna harapannya ibu selalu dan selalu memahami kecerobohanku. Selalu ada untukku dalam setiap tetes air mataku, menengokku dalam diam saat aku putus cinta tanpa sedikitpun menyentuh ranah patah hatiku. Sosok hebat yang setia kepada kami keluarga kecilnya. Cerewetnya yang membuat semua yang kami lakukan berarti. Dapat merangkap menjadi Bapak sekaligus, kalau Bapak berkerja, bahkan saat anak-anaknya opname, ibu dengan perkasanya sendiri mengurus kami, karena pekerjaan Bapak yang tidak dapat ditinggal. Bahkan dalam bimbangnnyapun aku tak pernah tahu seberapa kalut hatinya. Tak salah bila syair lagu Aku Rindu Padamu, aku ganti menjadi kepada Ibu, bukan kekasih yang sedang bersembunyi entah dimana. Ibu, selalu bimbang menghadapi anaknya, apalagi aku, tapi itulah heroiknya ibu, keputusannya selalu tepat. Sampai setua ini, aku masih selalu diurus ibu, terlalu banyak yang dilakukan olehnya untukku, tapi aku sendiri masih menghitung jari untuk mengingat yang ku lakukan untuknya. Setahun terakhir ini, aku benar-benar merasa ada dalam selimut hatinya, aku takut keluar karena kelemahanku dan kegagalanku, dengan senang hati beliau menemaniku. Suatu siang, saat mataku membengkak karena gagal membahagiakannya lebih cepat, Ibu berkata padaku, “Kamu itu anakku, aku tahu kaya apa sifatmu itu Lis, nggak bisa ini itu aja kamu nangis, kamu itu cengeng, tapi itulah anak ibu”.  Mungkin bila itu bukan melalui telepon, aku pasti akan lebih kejer lagi nangisnya. Apapun yang aku ungkapkan soal beliau, tidak akan pernah habis, ibu yang tidak pernah bosan sedikitpun menuliskan obat-obat yang harus aku minum dan ku bawa ke kost, orang hebat pendamping Bapak dan orang yang selalu aku dan adikku sebut setiap hari, Ibu.
Ibu hebat ke dua, nenekku...
Sudah hampir delapan tahun beliau tidak ada, tapi semangat juangnya masih terasa, ingat jaman-jaman SD selalu beliau bawa kemana-kemana untuk menemani menghias pengantin. Nenek adalah ibu serba bisa, dengan segala kegigihannya beliau mampu membangun karakter tangguh seperti Ibuku. Nenek hebat, organisasi jalan, wiraswasta jalan, dan tugas ibunya juga jalan, rangkap-rangkap teratur. Sampai akhir hayatnyapun beliau menjalankan tugasnya sebagai Ibu, beliau meninggal ditempat yang jauh, dalam perjalan mengantar pamanku, anak bungsunya, berkerja. Ibu hebat yang dimiliki ibuku ini cenderung tegas, tapi kata ibu, didikannyalah yang membuat ibuku bisa mandiri dari muda.
Ibu hebat selanjutnya, nenek endutku...
Sudah hampir dua tahun adik bungsu nenekku ini meninggalkan kami dengan begitu romantisnya disusul Kai tercinta selang seratus hari. Setiap kali mengingat beliau aku merasa malu dengan diri sendiri, disisa hidupnya yang harus berperang dengan cancer, beliau tetap memberikan senyum terhebatnya sebagai Ibu. Deskripsi hebat itu hanya aku yang tahu alasannya, bagiku beliau adalah orang sabar yang dimiliki keluarganya, termasuk aku. Orang yang menyuruhku jadi seorang pendidik, kata beliau, cari pahala itu dari perkerjaan, perkerjaan yang menjanjikan pahala pasti itu ya guru, malu rasanya sampai sekarang masih belum aku wujudkan.
Ibu hebat ke empat, Bude Kus, Ibunya Winda...
Aku baru kenal, baru hitungan bulan, rasanya melihat beliau adalah pacuan semangat untuk aku yang sehat, aku iri pada Winda, sebegitu tegarnya dia, apabila aku diposisinya, aku pasti lemah sekali. Inilah kasih sayang anak pada orang tua, aku hanya bisa sesekali hadir menghibur ditengah-tengah mereka, Bude Kus benar-benar orang kuat yang aku temui, ibu kuat, yang jelas ujian yang beliau hadapi membuktikan kehebatan beliau sebagai ibu, ibu spesial yang dimiliki Winda, semangat Bude... Insyaallah, bude akan sembuh seperti hari kemarin, nanti kalau saya wisuda,  foto bareng yah.
Ibu sahabat-sahabatku, Ibu Fadillah (Ibunya Kak Am), Ibu Magda (Ibunya Aunty Arma), dan Ibunya Ayie...
Aku beruntung mengenal dekat ketiga sahabatku ini, mereka memiliki orang tua tunggal, yaitu Ibu. Ibu-ibu hebat yang dimiliki mereka merangkap peran ayah sekaligus, wanita kuat. Ketiga anak-anak istimewa yang beliau-beliau punya pastilah sangat bangga. Karena aku dekat dengan anak  ketiganya, aku paham bagaimana menakjuban ibu-ibu ini.  Sering mencuri dengar dan melihat interaksi ibu dan anak ini memberikan pesan tersirat untuk hidupku pribadi, tidak ada alasan untuk tidak mencintai Ibu, cinta mereka paling masuk akal di dunia ini, bukan cinta roman picisan atau buaian sekali ungkap mendadak lenyap.

Semua ibu di dunia ini hebat, bahkan aku pun akan merasakkan menjadi ibu kelak,  bagaimana nanti bila aku jadi Ibu yah, apa akan tetap cengeng? Pasti anakku nanti muram melihat ibunya yang cengeng. Terimakasih Bu, sudah sangat mencintai saya tanpa alasan, tanpa bualan, tanpa angan-angan, cinta yang sempurna, cinta yang penuh Ridho Illahi, cinta yang suci dan cinta yang membawaku ke Surga sang Pencipta.