Dini namanya, bukan sebuah nama indah yang terkenal, yah sebatas nama biasa yang mewakili keberadaannya dibumi ini. Senyumnya selalu ikhlas, gayanya manja, suaranya cempreng, ceriwis, pipinya tembem, dan mulutnya yang sering manyun. Dini, bukanlah sosok istimewa untukku, dia hanya seorang gadis remaja ke dewasa yang sering membuatku tersenyum yah tersenyum sampai aku merengut jadinya. Dibilang sahabat juga bukan, dibilang teman dekat bukan, dibilang pacar jelas tidak, bisa dibilang dia adalah teman biasa dan sekampusku. Sebenarnya Dini ini teman sekostku, tapi jarang sekali ku bertemu dia di kost, di kost pun dia selalu di kamarnya, bukannya karena dia sombong, Dini memang anak yang punya dunia sendiri kalau di kost, tapi kalau urusan ramah, dia jagonya, semua anak kost sangat menyukainya,
Andini Delima, itu nama lengkapnya, anak daerah yang super manja, semua fasilitas lengkap dikamarnya, hampir setiap hari makan di luar, tidak bisa masak, nyuci selalu di laundry, jarang cuci piring dan paling doyan nyanyi di kamar mandi. Tapi anehnya dia hanya menghabiskan satu lagu saja, dan setelah itu keluar, dialah anak kost yang memeliki rekor mandi ala bebek tercepat.
***
Pagi ini, kembali ku lihat wajah kekanakkan Dini tersenyum didepan kampus, senyum khasnya yang sok imut tapi selalu membuat kami rindu kalau tak ada dia, kulihat kali ini dia diantar oleh kekasihnya yang selalu dijadikan inspirasi status facebooknya dan cowok yang selalu bersama dia hampir setiap hari, aku tersenyum melihatnya, saat Dini mencium tangan pacarnya dengan ikhlas, sangat ikhlas menurutku. Sebuah lambain tangan menjadi akhir ritual pagi sepasang kekasih itu. Dini terseyum menghampiriku, dan mulai berceloteh seperti biasa.
Dini pernah bercerita padaku, saat ku tanya sudah berapa lama hubungannya dengan pacarnya itu, dengan bangga Dini menceritakan hubungan mereka yang hampir 3 tahun berjalan. Aku cukup salut dengan Dini, dia termasuk cewek setia dan sangat perhatian. Aku sering mengamati dia, sungguh aku bangga bila menjadi kekasih seorang Dini. Pacar Dini juga bisa dibilang cowok yang sempurna, wajahnya cakep, otaknya encer, orangnya ramah, dan tegas. Aku saja tertarik bila diajak bicara olehnya, Dini beruntung dapat bertahan dengannya, karena aku yakin, godaan pasti ada dimana-mana untuk cowok macam dia.
Dini termasuk mahasiswi cerdas di kelasku, nalarnya kuat, dia yang memang dasarnya cerewet mampu berdeklamasi mengeluarkan argumentnya di kelas. Sebenarnya dia bukan seorang organisatoris yang handal, hanya sedikit mampu menguasai teman-teman di kelas. Dia jarang serius, tapi kalau sudah serius dia sedikit menakjubkan.
***
Beberapa waktu ini, Dini agak akrab denganku, mungkin karena Dini sekarang jarang diantar jemput dan akhirnya harus ke kampus naik angkot bersamaku, saat ku tanya mana pacarnya, Dini dengan logat khasnya mengatakan bahwa pacarnya kuliah lebih pagi untuk semester ini. Tapi seperti biasa, sebelum Magrib atau setelahnya Dini sudah lenyap dari kost, Dini mengatakan padaku, kalau dia keluar pasti beli makan, dan dia tak biasa makan sendiri tanpa belahan jiwanya itu. Dari antusiasme ceritanya tentang pacarnya, aku merasakan atmosfer rasa sayang yang benar-benar tulus dari seorang Dini. Cinta mati, itu kata Dini. Dini mengatakan padaku, kalau Galih pacarnya itu adalah cinta pertamanya. Aku hanya dapat tersenyum simpul, seorang temanku ini begitu menyakralkan cinta sepertinya.
Suatu hari, aku mendengarkan Dini cerita di kamarnya, Dini bercerita banyak hal tentang dia dan Galih, terus terang sebenarnya aku risih, tapi aku juga penasaran tentang kisah cinta dua anak muda yang wataknya sangat kontras menurutku. Selama ada diperantauan, Dini memang selalu menghabiskan waktu dengan Galih, kata Dini hal yang paling membuatnya senang adalah saat Galih mengimaminya sholat, walaupun hanya beberapa kali, tapi baginya itulah moment terindah. Dini, Dini sepertinya benar-benar cinta mati, bahkan dia mengatakan kalau dia sempat menangis saat hal itu terjadi untuk pertama kali.
Saat ku tanya mau dibawa kemana hubungannya, dengan bangga Dini mengatakan ingin menikah, namun wajahnya seketika redup, Galih belum mau berfikir kesitu katanya. Akupun mengatakan padanya bahwa itu wajar saja, karena kami masih kuliah semester awal, masih banyak hal yang kita tempuh, tapi ada kalimat yang diucapkan Dini dan membuat aku terhenyak juga, Dini bilang kalau Galih, belum menemukan apa yang dia cari di diri Andini Delima. Aku juga tak paham, kalau menurut pengamatanku, Dini sudah melakukan hal super untuk kekasihnya itu, tapi merekalah yang tahu apa yang terjadi.
***
Sore itu gerimis, langit mendung terlihat begitu jelas dari jendela kamarku, sedang asyik-asyiknya mendengarkan MP3 dari HP bututku, sebuah sms masuk, dari Dini, yang isinya menyuruhku untuk ke kamarnya. Tumben, biasanya kalau hari libur begini, anak itu tidak pernah di kost dan kulihat tadi pagi dia pergi bersama Galih. Akupun segera beranjak dari ranjangku dan menuju kamarnya.
Pintunya tak terkunci, kulihat Dini tengkurap di atas ranjangnya, saat ku panggil namanya, gadis itu pun langsung memelukku. Mukanya berantakan, matanya merah, airmatanya mengalir di pipi tembemnya itu. Sesegukannya nyaring, nafasnya berat, dan akhirnya Dinipun mulai angkat bicara. Galih memutuskan hubungan mereka, alasannya karena Galih ingin konsentrasi ke kuliah dan ingin sendiri. Dini akhirnya jujur padaku, bahwa mereka memang sudah lama ingin putus, karena Galih jenuh. Akupun ikut menangis mendengar cerita Dini, alasan yang memang tidak logis, tapi harus diterima Dini, Dini pun mengiyakan karena ini sudah yang kesekian kalinya, karena daripada hubungan mereka menjadi lebih tidak sehat dan hambar.
Mungkin aku hanya mampu memberinya semangat, empatiku tak banyak, aku juga bingung menangani orang patah hati macam Dini. Sahabat-sahabatnya SMA rajin mengunjungi Dini, membawakan makanan, bocah itu mogok makan sepertinya. Mata bengkaknya setiap hari menghiasi wajahnya di kampus. Teman-teman di kelas juga hanya mampu menghibur sahabat kecil kami ini. Tapi aku salut, dia tetap kuliah, walaupun aku tahu, pikirannya tak pernah fokus terhadap celotehan para dosen di kelas. Patah hati akut anak ini, bagaimana tidak, pacaran lama kandas begitu saja. Sepertinya begitu banyak harapan yang digantungkan Dini kepada seorang Galih, agghh rasanya aku jadi benci pada cowok itu, kalau saja dia melihat keadaan Dini yang kehilangan senyum ini, apa dia tega?! Entahlah, terlalu juga kalau aku harus memotret Dini dan mengirimkan foto itu ke Galih.
***
Pagi ini kutemukan kembali senyuman Dini, wajar saja sudah hampir sebulan pasca putus dengan Galih. Terlalu kalau si Dini ini tak sembuh dari keterpurukannya, apa lagi hampir tiap hari orang-orang yang dekat dengannya menemaninya di kost, memang dasarnya anak manja mungkin dia tidak ingin sendiri, akupun sekali-kali harus mendengarkan cerita dan menemaninya.
Seperti hari-harinya dulu, celotehan beonya di kelas sunter lagi, setelah hampir sebulan vakum, Dini sudah kembali. Hhahahha, teman-teman memang usil, Dini menanggapi itu dengan tertawa, yah itulah yang kami semua harapkan. Rasanya masa-masa kritis Dini mungkin telah lewat, parah juga orang patah hati ini nggak kalah sama penyakit kronisnya dokter.Selera ngemilnya kembali, suaranya di kamar mandi terdengar lagi, kali ini lagu yang dinyanyikan adalah lagu gembira karena jomblo, update statusnya lancar lagi setelah hampir sebulan tidak buka facebook, baguslah si ceriwis itu sudah bangkit sepertinya.
Tapi ternyata semua itu tak lama. Dini kembali jatuh, mungkin ini lebih jatuh dari pada awalnya. Sebuah hardikan sadis beralamat padanya, dari seseorang yang tak dia kenal, hanya suara cempreng saja kata Dini yang dia dengar. Siang itu kembali tangisan Dini yang juga cempreng kembali menggema di kamar kostnya, kakaknya tak kuasa menenangkan ade kesayangannya itu, aku hanya diam meratapi temanku ini, sembari kupunguti foto-fotonya bersama Galih yang kini menjadi sobekkan-sobekkan tak karuan di lantai kamarnya. Ternyata, selama hampir sebulan ini, Dini masih aktif berkomunikasi dengan Galih, walaupun hanya bersay hello, Dini fikir mereka masih bisa dekat dan Dini berharap kalau mereka akan kembali dalam waktu dekat. Tapi kejadian siang ini begitu membuat Dini tersadar, kalau Galih sudah tak akan kembali padanya. Seorang cewek mencaci makinya diseberangan sana, yang mengaku pacar Galih yang baru. Galih, Galih sadis sekali kamu teman, komitmenmu munafik, teganya kamu mengkhianati cita suci dari seorang Dini. Sungguh, pengakuan dari Galih yang didengar Dini siang itu membuatnya benar-benar hancur lagi, bahkan lebih parah dari awal.
Entah, apakah ini termasuk dari kasus pengkhianatan? Melihat keadaan Dini yang kian hari makin berantakan, apa lagi seteelah Dini tahu, kalau Galih berpacaran seminggu setelah mereka putus, hati wanita mana yang tak hancur, disaat airmatanya masih mengalir mengenang, mengingat dan merindukan Galih, disana Galih telah berdua. Tragis nasibmu Dini sayang. Makanan yang dibawakan oleh teman-temannya tak dia sentuh, benar-benar miris. Airmata Dini yang tiap hari masih mengalir membuat banyak empati datang padanya. Makin dia tahu yang sebenarnya, makin sakit jadinya. Dia selalu mengatakan padaku, bahwa banyak wanita yang tidak berhati wanita. Aku paham dengan perkataan Dini itu, aku sangat mengerti, terlalu banyak hal kebetulan yang membuatnya begitu sakit.
Butuh waktu berapa lama lagi agar temanku ini bangkit, entahlah aku sendiri bingung bagaimana menghiburnya. Ayolah Dini buka hatimu, aku selalu memberikan semangat itu padanya, tapi tetap saja hatinya tertutup. Waktu yang kian hari makin lambat kata Dini. Usaha para sahabatnya ku acungi jempol, kompak sekali mereka menjadi satgas patah hati Dini, Dini mungkin dapat pulih, tapi tak pulih dalam artian sepenuhnya.
***
Dini, Dini kisahmu tak habis dari pengamatanku rasanya, setelah down lama, kawanku ini mulai menata hidup baru, katanya mau cari pacar baru, aku tanggapi itu dengan antusias, dengan menawarkan jasa biro jodoh, tapi kriteria bocah ini susah, aku sampe garuk-garuk kepala jadinya. Wajah Dini mulai sering bersemu merah lagi, jatuh cinta mungkin anak itu, saat didesak tidak ada pengakuan darinya.
Malam ini, saat aku sedang menemaninya di kamar, HP Dini bordering, dengan suara khasnya, gadis itu mengangkat telepon, terdengar nada penolakkan dan gaya jutek yang bukan Dini banget lah. Kulihat tampangnya memucat setelah menutup telepon itu, ternyata Galih yang mengajaknya bertemu, dan ditolak oleh Dini. Kulihat airmata menetes lagi, Dini menangis lagi. Dini mengutarkan bahwa ini kali pertama dia menolak ajakkan Galih, Dini tak kuasa membohongi hatinya, dia sangat menyanyangi, tapi juga benci dan berusaha untuk memaafkannya, sungguh Dini begitu tulus hatimu,ternyata rasa cintamu untuk seorang Galih masih tersimpan. Kuatlah teman, ikhlaskan dia. Kamu sudah bisa berdiri Dini, kembali aku memeluk temanku ini yang telah menjadi sahabatku. Sebuah senyum dari wajahnya yang terpias kesedihan menghiasinya malam itu. Tak lama, ku lihat sebuah semuan merah kembali di wajahnya, dan si cerewet itu memperlihatkan sms padaku, oh pantas saja, ternyata lembarannya yang baru mulai digarap. Senyum Dini yang aku rindukan malam itu ku lihat. Semangat sahabatku, aku yakin kamu bisa terus tersenyum sampai kapanpun.
Girimukti, 20 Maret 2011
Spesial bual Tantikq…
Met ULTAH…
Miss U…
Total Tayangan Halaman
Minggu, 20 Maret 2011
Maafkan Aku
Rasanya pilu saat aku katakan itu padamu…
Rasanya tak pantas kata itu ku katakan padamu…
Rasanya kata itu terlalu sakral untukmu…
Dan rasanya kamu terlalu baik menerima kata itu…
Bukan maksudku ingin menjauhimu
Bukan inginku melepas semua itu…
Bukan hendakku menghapus itu…
Tapi aku tak bisa melakukan itu….
Dinginku juga karenamu…
Ketusku juga karenamu…
Angkuhku juga karenamu…
Sifat arogan ini semua karenamu…
Perih ini membuatku kejam…
Mungkin tak sekejam perbuatanmu…
Sakit ini membuatku geram…
Mungkin jauh lebih geram milikmu…
Maafkan aku…
Aku ini bodoh…
Masih berfikir ingin meminta itu padamu…
Masih ingin berbagi senyum padamu…
Masih berusaha jadi malaikatmu…
Maaf aku tak bisa…
Sungguh tak bisa menjauh darimu…
Usaha totalku tak mampu…
Aku masih menitikkan airmata…
Saat sayupmu menghampiri telingaku….
Saat desahmu kembali kurasa…
Ingin ku kubur semua…
Ingin kutinggalkan ini…
Dayaku lemah…
Runtuh dan hancur…
Entah sedasyat apa dirimu…
Begitu melekat dalam benakku…
Susah terusir…
Sudahlah…
Jangan kau hadir lagi kawan…
Aku sudah tenang sekarang…
Jaga dia sajalah disana…
Temani dia saja…
Jangan kau ingat aku lagi…
Lupakan saja semua manjaku dulu…
Lupakan indah kita dulu…
Aku sudah ikhlas kawan…
Sudah rela…
Melepaskan rasa cintaku yg menggila itu…
Cintai dia saja, sayangi dia saja, bencilah aku!!!!!!
Kawan…
Kamu sudah pupus untukku…
Aku sudah mengubur harapanku yang hilang itu…
Maafkan aku kawan….
Sayangku tak kan hilang utukmu…
Biar kita bawa pergi…
Itupun kalau kau mau…
Hidupmu lebih damai tanpa aku…
Jadikan aku masa lalumu…
Maakan aku…
Ini kali pertama dan terakhirku membuat suaramu kecewa…
Maaf takkan ku ulangi lagi…
Karena mungkin tak kan pernah terucap lagi…
Rasanya tak pantas kata itu ku katakan padamu…
Rasanya kata itu terlalu sakral untukmu…
Dan rasanya kamu terlalu baik menerima kata itu…
Bukan maksudku ingin menjauhimu
Bukan inginku melepas semua itu…
Bukan hendakku menghapus itu…
Tapi aku tak bisa melakukan itu….
Dinginku juga karenamu…
Ketusku juga karenamu…
Angkuhku juga karenamu…
Sifat arogan ini semua karenamu…
Perih ini membuatku kejam…
Mungkin tak sekejam perbuatanmu…
Sakit ini membuatku geram…
Mungkin jauh lebih geram milikmu…
Maafkan aku…
Aku ini bodoh…
Masih berfikir ingin meminta itu padamu…
Masih ingin berbagi senyum padamu…
Masih berusaha jadi malaikatmu…
Maaf aku tak bisa…
Sungguh tak bisa menjauh darimu…
Usaha totalku tak mampu…
Aku masih menitikkan airmata…
Saat sayupmu menghampiri telingaku….
Saat desahmu kembali kurasa…
Ingin ku kubur semua…
Ingin kutinggalkan ini…
Dayaku lemah…
Runtuh dan hancur…
Entah sedasyat apa dirimu…
Begitu melekat dalam benakku…
Susah terusir…
Sudahlah…
Jangan kau hadir lagi kawan…
Aku sudah tenang sekarang…
Jaga dia sajalah disana…
Temani dia saja…
Jangan kau ingat aku lagi…
Lupakan saja semua manjaku dulu…
Lupakan indah kita dulu…
Aku sudah ikhlas kawan…
Sudah rela…
Melepaskan rasa cintaku yg menggila itu…
Cintai dia saja, sayangi dia saja, bencilah aku!!!!!!
Kawan…
Kamu sudah pupus untukku…
Aku sudah mengubur harapanku yang hilang itu…
Maafkan aku kawan….
Sayangku tak kan hilang utukmu…
Biar kita bawa pergi…
Itupun kalau kau mau…
Hidupmu lebih damai tanpa aku…
Jadikan aku masa lalumu…
Maakan aku…
Ini kali pertama dan terakhirku membuat suaramu kecewa…
Maaf takkan ku ulangi lagi…
Karena mungkin tak kan pernah terucap lagi…
Sabtu, 19 Maret 2011
Hanya Sekedar Bertanya, Kepada Entah Siapa
Patah hati yg aku rasakan memang harus segera disembuhkan, sebulan lalu hidupku berteman sama yang namanya airmata, tapi bulan ini dan bulan-bulan seterusnya aku akan brmusuhan sama yang namanya airmata.
Rasa sayangku yang menggila dulu, mulai larut oleh senyum-senyum ikhlasku yang setiap hari hadir menemani petualanganku. Yang lalu biarlah berlalu, yah seperti itulah, hidupku ini hidupku, punya cara sendiri, punya jalan sendiri, punya actor sendiri, dan yang jelas punya cerita sendiri.
Rasanya kembali kemasa SMP, saat aku mulai mengenal apa itu “rasa”, bedanya kalau sekarang, aku sudah memahami titik parah dari kata itu sendiri. Owh… Menurutku caraku ini adalah cara terbaik yang harus aku lakukan, mengisi hari, menebar suka, menghilangkan duka, mencapai cita, dan mencari cinta. Oh ya?!
Ya iyalah, rasanya aku mungkin sedang jera, tapi sedikit demi sedikit akan ku coba, yah mencoba untuk yang kedua kalinya, rasanya rindu juga memperhatikan orang, membagi bahagia sepanjang waktu, dan yang jelas dimanja lagi!!!!
Terkadang ingin rasanya mengungkapkan ini, kepada entah siapa dia nanti, sebuah kalimat Tanya yang simple tapi mengena dan sedikit penuh kontroversi sepertinya, yah hanya sebuah kalimat seperti ini:
“Mas, boleh nggak nama belakangnya, kupinjem jadi nama belakangku?”
Halus tapi mengena segala aspek toh, dari yang berjenis logis, lugas, romantik, puitis, sampai ke aspek idialis. Mantapkan.
Kalimat yg penuh dengan tanda tanya, kepada siapa ya kira-kira?
Hhha, ntahlah, kepada entah siapa dia.Kita lihat saja nanti.
Rasa sayangku yang menggila dulu, mulai larut oleh senyum-senyum ikhlasku yang setiap hari hadir menemani petualanganku. Yang lalu biarlah berlalu, yah seperti itulah, hidupku ini hidupku, punya cara sendiri, punya jalan sendiri, punya actor sendiri, dan yang jelas punya cerita sendiri.
Rasanya kembali kemasa SMP, saat aku mulai mengenal apa itu “rasa”, bedanya kalau sekarang, aku sudah memahami titik parah dari kata itu sendiri. Owh… Menurutku caraku ini adalah cara terbaik yang harus aku lakukan, mengisi hari, menebar suka, menghilangkan duka, mencapai cita, dan mencari cinta. Oh ya?!
Ya iyalah, rasanya aku mungkin sedang jera, tapi sedikit demi sedikit akan ku coba, yah mencoba untuk yang kedua kalinya, rasanya rindu juga memperhatikan orang, membagi bahagia sepanjang waktu, dan yang jelas dimanja lagi!!!!
Terkadang ingin rasanya mengungkapkan ini, kepada entah siapa dia nanti, sebuah kalimat Tanya yang simple tapi mengena dan sedikit penuh kontroversi sepertinya, yah hanya sebuah kalimat seperti ini:
“Mas, boleh nggak nama belakangnya, kupinjem jadi nama belakangku?”
Halus tapi mengena segala aspek toh, dari yang berjenis logis, lugas, romantik, puitis, sampai ke aspek idialis. Mantapkan.
Kalimat yg penuh dengan tanda tanya, kepada siapa ya kira-kira?
Hhha, ntahlah, kepada entah siapa dia.Kita lihat saja nanti.
Kamis, 10 Maret 2011
Jemari
Jemari-jemari tak utuh itu…
Berlahan mulai ikut meninggalkanku…
Dalam kesendirian malam
Tanpa kawan kehidupan…
Malam dingin yg kian mencekam
Mengajakku untuk ttp diam
Walau terpaan badai yg menghantam…
Ingin melangkah tapi aku takut…
Aku takut terseret ombak…
Yang ada didaratan
Ombak hidup yg menerjang…
Aku tak sehebat karang
Aku serapuh ranting kering
Secepat kilat terhempas
Terlupakan oleh semua…
Agggghhhh….
Aku ingin marah…
Marah pada bebatuan terjal ….
Yang setia menghadangku…
Apa bisanya aku…
Aku rapuh aku sendirian…
Jangan jebak aku…
Dalam kegalauan ini….
Berlahan mulai ikut meninggalkanku…
Dalam kesendirian malam
Tanpa kawan kehidupan…
Malam dingin yg kian mencekam
Mengajakku untuk ttp diam
Walau terpaan badai yg menghantam…
Ingin melangkah tapi aku takut…
Aku takut terseret ombak…
Yang ada didaratan
Ombak hidup yg menerjang…
Aku tak sehebat karang
Aku serapuh ranting kering
Secepat kilat terhempas
Terlupakan oleh semua…
Agggghhhh….
Aku ingin marah…
Marah pada bebatuan terjal ….
Yang setia menghadangku…
Apa bisanya aku…
Aku rapuh aku sendirian…
Jangan jebak aku…
Dalam kegalauan ini….
Aku
Aku sedang tertatih…
Mencari jalan yang tak terhadang…
Aku sedang merintih …
Karena luka yang tak kunjung hilang…
Aku hendak berlari…
Meninggalkan senyuman itu
Aku tak mampu menari…
Diiringan tawa yang pilu…
Aku hanya dapat diam…
Bisu kelu untuk bicara…
Aku ingin memendam…
Melupakan segala dera…
Aku tetap kukuh bagai batu…
Dan semangatku penuh api…
Aku harus bersama waktu…
Agar dapatku meniti mimpi…
Mencari jalan yang tak terhadang…
Aku sedang merintih …
Karena luka yang tak kunjung hilang…
Aku hendak berlari…
Meninggalkan senyuman itu
Aku tak mampu menari…
Diiringan tawa yang pilu…
Aku hanya dapat diam…
Bisu kelu untuk bicara…
Aku ingin memendam…
Melupakan segala dera…
Aku tetap kukuh bagai batu…
Dan semangatku penuh api…
Aku harus bersama waktu…
Agar dapatku meniti mimpi…
Pernahkah
Pernah kah kita berfikir, pantaskah kita menilai orang lain?
Pernahkah kita berfikir, berhakkah kita menuding orang lain salah?
Pernahkah kita berfikir, benarkah apa yang kita katakan di mata orang lain?
Pernahkah kita berfikir, seegois apakah diri kita ini?
Sahabtku, terkadang diri mudah berpendapat tentang orang lain, maksud hati ingin kritik, tapi apadaya kenyataannya yang kita lontarkan bukanlah suatu kritikkan, tapi sebuah penilaian tentang sebuah kesalahan orang tersebut di mata kita (sudut pandang kita). Egoiskah kita? Jawaban emosional dari diri kitalah yang dapat menjawabnya.
Manusia memang merupakan tempatnya salah dan khilaf, tapi manusia juga merupakan tempat memperbaiki sebuah kesalahan. Tak akan pernah ada jalan kalau tidak ada yang merintis, tak akan pernah ada penyelesaian kalau tidak ada yang menyelesaikan. Masalah di dunia ini tidak ada yang kecil, tidak ada pula yang besar. Yang membuatnya besar ataupun kecilkan si empunya masalah, masalah merupakan sesuatu yang kompleks, makin banyak akarnya makin kuat masalahnya, tapi makin sedikit akarnya makin cepat roboh masalah tersebut (terselesaikan).
Terkadang kita berfikir, kita punya nilai lebih dari pada orang lain, tapi apa kita juga berfikir, bernilai lebihkah kita di mata orang lain?
Sejenak setelah membaca pertanyaan ini, kita akan berfikir, betapa tak pantasnya kita menilai orang, betapa hebatnya kita menilai orang lain, hebat dalam artian mengada-ada, yang jelas-jelas nilai diri seseorang itu relatife, kaca mata kita belum sempurna untuk menembusnya.
Mudah memang mengatakan orang lain salah, tapi apakah kita sadar apa yang kita lakukan itu salah atau benar? Kembali kita diajak berfikir, sesuatu yang dimata kita salah belum tentu salah di lingkungan kita, apa perbuatan menuding seseorang salah itu benar? Mana kita tahu, apabila benar orang lain melakukan kesalahan, pasti dia punya alasan, kita memang punya alasan menyalahkan, tapi kembali lagi, berdasarkah tudingan kita itu, sudah benarkah diri kita ini? Kembali lagi, hanya hati kita yang mampu menjawab.
Kita sering berargument, berkata, menjawab sesuai kemampuan kita, bahkan kita beromong kosong, tanpa kita tahu adakah isinya. Berbicara memang mudah, tapi mengisi pembicaraan adalah salah satu hal sulit yang sampai saat inipun terkadang kita sulit melakukannya. Kita berbicara panjang lebar, dan kita menganggap kita mengatakan hal yang benar, tapi apakah orang lain membenarkan perkataan kita? Terkadang kitapun dapat menyalahkan seseorangkan? Jadi, inilah konsekuensi kita sebagai manusia yang tidak dapat hidup sendiri tapi jangan lupa kalau kita tidak sendiri, intinya harus sadar diri.
Egois? Kata-kata yang tidak asing lagi untuk kita, menang sendiri, memang siapa sih yang mau jadi pecundang, tapi kalau jadi pelopor seseorang menjadi pecundang sih oke, eits tapi salah besar, jangan lah kita menjatuhkan seseorang karena kita sendiri tak ingin dijatuhkan, yah namanya juga egois. Pernahkah kita berfikir, sejauh apakah egois diri kita ini? Akutkah atau sedangkah? Mana mungkin orang tahu, orang lain hanya sekedar berpendapat kalau kita sedikit egois. Tapi yang namanya egois itu tidak pernah lepas sama yang namanya manusia yang punya perasaan, tidak ada manusia yang legowo 100% kalau yang dia mau ditolak, ya kan? Ku akui, sifat egoisku juga tinggi, kalian juga dapat mengakui sifat egois kalian masing-masing kok. Yah mungkin inilah realita yang namanya hidup, kita tidak bisa sendiri dan kita juga tetap harus sadar kalau kita tidak sendiri, kita bukan satu-satunya manusia yang bisa dan punya hak, tapi kita hanyalah salah satu manusia yang punya hak, karena manusia punya sifat yang berbeda, tapi memiliki keinginan yang sama, yaitu sama-sama ingin dimngerti.
Terimakasih…
Pernahkah kita berfikir, berhakkah kita menuding orang lain salah?
Pernahkah kita berfikir, benarkah apa yang kita katakan di mata orang lain?
Pernahkah kita berfikir, seegois apakah diri kita ini?
Sahabtku, terkadang diri mudah berpendapat tentang orang lain, maksud hati ingin kritik, tapi apadaya kenyataannya yang kita lontarkan bukanlah suatu kritikkan, tapi sebuah penilaian tentang sebuah kesalahan orang tersebut di mata kita (sudut pandang kita). Egoiskah kita? Jawaban emosional dari diri kitalah yang dapat menjawabnya.
Manusia memang merupakan tempatnya salah dan khilaf, tapi manusia juga merupakan tempat memperbaiki sebuah kesalahan. Tak akan pernah ada jalan kalau tidak ada yang merintis, tak akan pernah ada penyelesaian kalau tidak ada yang menyelesaikan. Masalah di dunia ini tidak ada yang kecil, tidak ada pula yang besar. Yang membuatnya besar ataupun kecilkan si empunya masalah, masalah merupakan sesuatu yang kompleks, makin banyak akarnya makin kuat masalahnya, tapi makin sedikit akarnya makin cepat roboh masalah tersebut (terselesaikan).
Terkadang kita berfikir, kita punya nilai lebih dari pada orang lain, tapi apa kita juga berfikir, bernilai lebihkah kita di mata orang lain?
Sejenak setelah membaca pertanyaan ini, kita akan berfikir, betapa tak pantasnya kita menilai orang, betapa hebatnya kita menilai orang lain, hebat dalam artian mengada-ada, yang jelas-jelas nilai diri seseorang itu relatife, kaca mata kita belum sempurna untuk menembusnya.
Mudah memang mengatakan orang lain salah, tapi apakah kita sadar apa yang kita lakukan itu salah atau benar? Kembali kita diajak berfikir, sesuatu yang dimata kita salah belum tentu salah di lingkungan kita, apa perbuatan menuding seseorang salah itu benar? Mana kita tahu, apabila benar orang lain melakukan kesalahan, pasti dia punya alasan, kita memang punya alasan menyalahkan, tapi kembali lagi, berdasarkah tudingan kita itu, sudah benarkah diri kita ini? Kembali lagi, hanya hati kita yang mampu menjawab.
Kita sering berargument, berkata, menjawab sesuai kemampuan kita, bahkan kita beromong kosong, tanpa kita tahu adakah isinya. Berbicara memang mudah, tapi mengisi pembicaraan adalah salah satu hal sulit yang sampai saat inipun terkadang kita sulit melakukannya. Kita berbicara panjang lebar, dan kita menganggap kita mengatakan hal yang benar, tapi apakah orang lain membenarkan perkataan kita? Terkadang kitapun dapat menyalahkan seseorangkan? Jadi, inilah konsekuensi kita sebagai manusia yang tidak dapat hidup sendiri tapi jangan lupa kalau kita tidak sendiri, intinya harus sadar diri.
Egois? Kata-kata yang tidak asing lagi untuk kita, menang sendiri, memang siapa sih yang mau jadi pecundang, tapi kalau jadi pelopor seseorang menjadi pecundang sih oke, eits tapi salah besar, jangan lah kita menjatuhkan seseorang karena kita sendiri tak ingin dijatuhkan, yah namanya juga egois. Pernahkah kita berfikir, sejauh apakah egois diri kita ini? Akutkah atau sedangkah? Mana mungkin orang tahu, orang lain hanya sekedar berpendapat kalau kita sedikit egois. Tapi yang namanya egois itu tidak pernah lepas sama yang namanya manusia yang punya perasaan, tidak ada manusia yang legowo 100% kalau yang dia mau ditolak, ya kan? Ku akui, sifat egoisku juga tinggi, kalian juga dapat mengakui sifat egois kalian masing-masing kok. Yah mungkin inilah realita yang namanya hidup, kita tidak bisa sendiri dan kita juga tetap harus sadar kalau kita tidak sendiri, kita bukan satu-satunya manusia yang bisa dan punya hak, tapi kita hanyalah salah satu manusia yang punya hak, karena manusia punya sifat yang berbeda, tapi memiliki keinginan yang sama, yaitu sama-sama ingin dimngerti.
Terimakasih…
Layang-Layang
Sebuah layang-layang, disaat angin bertiup kencang, dia akan terbang dengan tingginya, menggapai awan, seolah bagai burung tinggi yang bebas di angkasa. Namun, ketika sang angin enggan berhembus, layang-layang harus rela dengan terpaksa turun kebawah, tapi bila layang-layang itu tak beruntung maka ia harus siap terkatung di atas ranting pohon, tali layang-layangpun lama kelamaan akan putus, karena tak tentu keadaannya. Layang-layang harus rela ditarik ulur oleh sang pemain, disaat ada angin sang pemain dengan senangnya melihat layangan itu terbang, disaat tak ada maka ia menariknya kembali kebawah.
Jangan jadikan cintamu sebagai layang-layang, karena dengan mudahnya diperalat oleh waktu yang seperti angin dan sang pemainnya. Ketika waktunya cinta mu terbang tinggi, terambung kamu akan bahagia, tapi ketika sang waktu tak menghendakinya, cintamu akan terkatung, tergantung dan menunggu sebuah keputusan pahit. Dan janganlah menjadi pemainnya, karena dengan mudahnya menarik ulur sebuah cinta.
Jangan jadikan cintamu sebagai layang-layang, karena dengan mudahnya diperalat oleh waktu yang seperti angin dan sang pemainnya. Ketika waktunya cinta mu terbang tinggi, terambung kamu akan bahagia, tapi ketika sang waktu tak menghendakinya, cintamu akan terkatung, tergantung dan menunggu sebuah keputusan pahit. Dan janganlah menjadi pemainnya, karena dengan mudahnya menarik ulur sebuah cinta.
Suka, Cinta , dan Sayang
“Senang rasanya melihat orang-orang dimabuk cinta”
Ups cinta lagi, yah lagi-lagi cinta, rasa yang penuh dengan kejutan…
Aku juga masih bingung, cintakah ini, sayangkah ini, atau sukakah ini?
Makna yang secara langsung terlihat sama, tapi sesungguhnya beda.
Ada yang bilang ketiga kata tersebuat itu bersinonim, tapi sepertinya tidak.
Hah membingungkan sekali… Hhiii.
Aku terkadang selalu berfikir, arti cinta, sayang dan suka pun aku bingung?
Apa artinya ya?
Aku masih ragu untuk mengartikan semua itu.
Ada yang tahu?
Aku hanya dapat mengartikannya samar-samar saja, bahkan terlalu samar-samar.
Suka, yah itu adalah sebuah rasa yang dimiliki manusia, rasa yang sedikit berdekatan dengan kagum, rasa yang menaruh sebuah perhatian lebih kepada sesuatu, tapi hanya sebatas itu, tanpa ada unsur lebih. Contohnya saja, suka matamu, suka senyummu, dan lain-lain, kan artinya hanya sebatas suka dengan senyum ataupun mata, menitik beratkan perhatian pada senyum atau mata saja.
Kalau menurut kalian?
Sekarang kita berlanjut kepada sayang, huft rasa yang selalu menyelimuti hati kita lho ini, ngaku aja, siapa yang tak kenal dengan sayang? Rasa yang menyejukkan batin sih menerutku, kalau menurut kalian? Ayo apa apa?
Sayang itu lebih mendekat sama yang namanya hati, sayang itu lebih mengena ke interaksi sih, orang yang perhatian kepada orang lain identik karena didasari rasa sayang, ya kan? Sayang itu timbul karena kedekatan menerutku, ya namanya juga biasanya disampaikan dengan suatu interaksi, baik yang nyata terlihat ataupun sebaliknya. (Nah lo, jangan bingung ya).
Orang yang saling menyayangi itu biasanya cenderung bisa menerima apa yang dilakukan oleh orang yang dia sayang, dan menurutku rasa sayang itu lebih permanen nyangkut dihati dibanding rasa-rasa yang lain.
Itu sih versi aku, ntah bagaimana versi teman-teman semua
Tereng, tereng, nie dia satu rasa yang sering membuat dunia diri sendiri gila, apalagi kalau bukan cinta.
C.I.N.T.A , tu ejaan menurut sebuah lagu ya, cinta itu sesuatu yang kompleks menurutku, ada alasannya sih kenapa aku bilang gitu. Cinta itu gabungan semua perasaan yang indah-indah sih, wah mokoknya yang membuncah jiwalah intinya. Cinta itu sulit ditebak, cinta juga banya spesiesnya, sangking banyaknya terkadang spesies-spesies cinta itu tertukar, timbullah suatu istilah “ketipu karena cinta”. Memang sih, cinta itu persaan terindah yang dimiliki manusia, tapi karena cinta manusia bisa berubah menjadi sesuatu yang beda (memanggnya power rangger). Kalau berubah baik sih bagus, lha kalau jadi acak kadut gimana hayuk?
Kalian pasti terkadang berfikir, apa sih cinta itu? Sama aku juga selalu berfikir itu, cinta itu berdefinisi nggak sih? Menurut kalian? Aku ragu mau menjawab berdefinisi, karena setahu aku arti cinta itu banyak sangking banyaknya sampai tak diketahui arti sebenarnya. Hmm, berat ya, yah cinta itu indah, cinta itu gila, cinta itu buta, cinta itu racun (memanggnya keong racun), dan masih banyak cinta itu lainnya.
Teman, menurut aku sih, cinta itu persaan yang masa ekspayernya lebih cepat dari rasa sayang lho, ayo yang setuju sama aku siapa? Kenapa aku bilang begitu, memang cinta itu berdasarkan hati, tapi nggak selalu hati sih, fisik juga jadi dominan terbesar untuk cinta menurutku. Dan ada lagi sih dasar kenapa aku berpendapat begini, cinta itu sesuatu yang kompleks, kalian semua tahukan, yang namanya sesuatu yang kompleks itu pasti berasal dari beberapa hal yang bergabung jadi satu, bayangkan saja, kalau salah satunya itu terlepas satu, utuh kah cinta itu? Yah itulah alasannku.
Cinta itu adalah rasa mulianya manusia di dunia ini, gabungan dari suka dan sayang yang menjadi cinta, dan itupun menurutku belum cukup, ada beberapa hal spektakuler dan dasyat yang harus mendasari cinta, yaitu sebuah ketulusan , kesetian, keikhlasan dan kepercayaan, itupun masih belum menjadi cinta yang sempurna. Karena cinta yang sempurna itu adalah cintanya Sang Pencipta Alam Raya yaitu Allah SWT.
Makasih semua dah mau baca.
Dah…
Ups cinta lagi, yah lagi-lagi cinta, rasa yang penuh dengan kejutan…
Aku juga masih bingung, cintakah ini, sayangkah ini, atau sukakah ini?
Makna yang secara langsung terlihat sama, tapi sesungguhnya beda.
Ada yang bilang ketiga kata tersebuat itu bersinonim, tapi sepertinya tidak.
Hah membingungkan sekali… Hhiii.
Aku terkadang selalu berfikir, arti cinta, sayang dan suka pun aku bingung?
Apa artinya ya?
Aku masih ragu untuk mengartikan semua itu.
Ada yang tahu?
Aku hanya dapat mengartikannya samar-samar saja, bahkan terlalu samar-samar.
Suka, yah itu adalah sebuah rasa yang dimiliki manusia, rasa yang sedikit berdekatan dengan kagum, rasa yang menaruh sebuah perhatian lebih kepada sesuatu, tapi hanya sebatas itu, tanpa ada unsur lebih. Contohnya saja, suka matamu, suka senyummu, dan lain-lain, kan artinya hanya sebatas suka dengan senyum ataupun mata, menitik beratkan perhatian pada senyum atau mata saja.
Kalau menurut kalian?
Sekarang kita berlanjut kepada sayang, huft rasa yang selalu menyelimuti hati kita lho ini, ngaku aja, siapa yang tak kenal dengan sayang? Rasa yang menyejukkan batin sih menerutku, kalau menurut kalian? Ayo apa apa?
Sayang itu lebih mendekat sama yang namanya hati, sayang itu lebih mengena ke interaksi sih, orang yang perhatian kepada orang lain identik karena didasari rasa sayang, ya kan? Sayang itu timbul karena kedekatan menerutku, ya namanya juga biasanya disampaikan dengan suatu interaksi, baik yang nyata terlihat ataupun sebaliknya. (Nah lo, jangan bingung ya).
Orang yang saling menyayangi itu biasanya cenderung bisa menerima apa yang dilakukan oleh orang yang dia sayang, dan menurutku rasa sayang itu lebih permanen nyangkut dihati dibanding rasa-rasa yang lain.
Itu sih versi aku, ntah bagaimana versi teman-teman semua
Tereng, tereng, nie dia satu rasa yang sering membuat dunia diri sendiri gila, apalagi kalau bukan cinta.
C.I.N.T.A , tu ejaan menurut sebuah lagu ya, cinta itu sesuatu yang kompleks menurutku, ada alasannya sih kenapa aku bilang gitu. Cinta itu gabungan semua perasaan yang indah-indah sih, wah mokoknya yang membuncah jiwalah intinya. Cinta itu sulit ditebak, cinta juga banya spesiesnya, sangking banyaknya terkadang spesies-spesies cinta itu tertukar, timbullah suatu istilah “ketipu karena cinta”. Memang sih, cinta itu persaan terindah yang dimiliki manusia, tapi karena cinta manusia bisa berubah menjadi sesuatu yang beda (memanggnya power rangger). Kalau berubah baik sih bagus, lha kalau jadi acak kadut gimana hayuk?
Kalian pasti terkadang berfikir, apa sih cinta itu? Sama aku juga selalu berfikir itu, cinta itu berdefinisi nggak sih? Menurut kalian? Aku ragu mau menjawab berdefinisi, karena setahu aku arti cinta itu banyak sangking banyaknya sampai tak diketahui arti sebenarnya. Hmm, berat ya, yah cinta itu indah, cinta itu gila, cinta itu buta, cinta itu racun (memanggnya keong racun), dan masih banyak cinta itu lainnya.
Teman, menurut aku sih, cinta itu persaan yang masa ekspayernya lebih cepat dari rasa sayang lho, ayo yang setuju sama aku siapa? Kenapa aku bilang begitu, memang cinta itu berdasarkan hati, tapi nggak selalu hati sih, fisik juga jadi dominan terbesar untuk cinta menurutku. Dan ada lagi sih dasar kenapa aku berpendapat begini, cinta itu sesuatu yang kompleks, kalian semua tahukan, yang namanya sesuatu yang kompleks itu pasti berasal dari beberapa hal yang bergabung jadi satu, bayangkan saja, kalau salah satunya itu terlepas satu, utuh kah cinta itu? Yah itulah alasannku.
Cinta itu adalah rasa mulianya manusia di dunia ini, gabungan dari suka dan sayang yang menjadi cinta, dan itupun menurutku belum cukup, ada beberapa hal spektakuler dan dasyat yang harus mendasari cinta, yaitu sebuah ketulusan , kesetian, keikhlasan dan kepercayaan, itupun masih belum menjadi cinta yang sempurna. Karena cinta yang sempurna itu adalah cintanya Sang Pencipta Alam Raya yaitu Allah SWT.
Makasih semua dah mau baca.
Dah…
Perasaan yang Terbengkalai
Perasaan yang Terbengkalai
Engkau hebat merangkai kata indah pelukis jiwamu.
Engkau hebat menganalisis sejuta makna kata kiasan.
Engkau hebat mengucap sejurut kalimat manis dituturmu.
Engkau hebat mengubah kasar itu jadi lembut.
Tapi apa kamu tahu?
Apa maksud kata indah itu?
Apa kamu tahu tujuan analisis makna itu?
Apa kamu paham akan kata yang kau ucap?
Apa kamu mengerti perubahan itu?
Aku rasa, rasamu sendiri terbengkalai.
Terbengkalai akan ketidak tahuanmu akan dirimu.
Kaku atau beku itupun kamu tak sadar.
Sejuk akan katamu hanya sebuah alibi.
Alibi dari permaianan hatimu.
Mau protes???
Silahkan… Ini kenyataannya.
Kamu berdiri pada sebuah tiang pancang yang kokoh.
Karena kamu hanya ingin berlindung .
Karena kamu sadar akan lemahnya batin jiwamu.
Yah itulah kamu, itulah kamu adanya, itulah perasaanku yang terbengkalai.
Engkau hebat merangkai kata indah pelukis jiwamu.
Engkau hebat menganalisis sejuta makna kata kiasan.
Engkau hebat mengucap sejurut kalimat manis dituturmu.
Engkau hebat mengubah kasar itu jadi lembut.
Tapi apa kamu tahu?
Apa maksud kata indah itu?
Apa kamu tahu tujuan analisis makna itu?
Apa kamu paham akan kata yang kau ucap?
Apa kamu mengerti perubahan itu?
Aku rasa, rasamu sendiri terbengkalai.
Terbengkalai akan ketidak tahuanmu akan dirimu.
Kaku atau beku itupun kamu tak sadar.
Sejuk akan katamu hanya sebuah alibi.
Alibi dari permaianan hatimu.
Mau protes???
Silahkan… Ini kenyataannya.
Kamu berdiri pada sebuah tiang pancang yang kokoh.
Karena kamu hanya ingin berlindung .
Karena kamu sadar akan lemahnya batin jiwamu.
Yah itulah kamu, itulah kamu adanya, itulah perasaanku yang terbengkalai.
Ibu Kau Jauh Dariku
Ibu…
Jauh rasanya aku darimu…
Enggan rasanya aku menemuimu…
Jengah rasanya aku mendengarmu…
Bosan rasanya aku menurutimu…
Ibu…
Itu kejamnya aku saat aku disampingmu lalu…
Ibu…
Itu durhakanya aku saat aku dibimbingmu lalu…
Ibu…
Itu sadisnya aku saat kau bicara padaku lalu…
Ibu…
Itu tak perdulinya aku saat kau menasehatiku lalu…
Ibu…
Aku tak pernah tahu akan begini jadinya aku…
Sendiri tanpa ada suaramu…
Tanpa senyumanmu…
Tanpa kehadiranmu…
Ibu…
Aku belum sanggup jauh dari pandanganmu…
Aku belum sanggup mengobati sakitku tanpamu…
Aku belum sanggup menyelesaikan gundahku tanpa nasehatmu…
Aku juga masih belum sanggup berjalan tanpa gandengan tanganmu…
Ibu aku sendirian disini…
Tak ada dirimu yang membangunkanku tidur…
Tak ada teh hangat buatanmu…
Tak ada tangan yang ku jabat saat ku berangkat tiap pagi…
Tak ada yang membalas salamku saat aku pergi…
Ibu aku sengsara…
Aku sengsara tanpa dirimu…
Aku kewalahan mengatur hidupku…
Aku terlalu manja padamu Bu…
Aku belum puas memeluk tubuhmu…
Aku belum puas bercerita denganmu…
Aku belum puas diajari olehmu…
Aku rindu Bu…
Rindu beratus kali lipat dari pada rindunya aku pada kekasihku…
Rindu akan semua sifat ikhlasmu padaku…
Rindu akan larangan-laranganmu…
Rindu akan makna diammu…
Bu…
Rasa terpenjaraku dulu saat aku didekatmu…
Lebih nikmat dari pada saat aku disini…
Aku memang bebas Bu…
Tapi aku terpenjara untuk bertemu denganmu…
Ibu…
Aku ingin pulang…
Setiap hari menikmati masakanmu…
Setiap hari melihat dan mendengarmu…
Setiap hari diperintahmu…
Setiap hari ada bersamamu…
Ibu…
Aku memang mampu menuliskan berbait-bait puisi untukmu…
Tapi aku tak kan pernah mampu menuliskan berjuta-juta keikhlasanmu padaku…
Aku memang mampu bernyanyi merdu tentang dirimu…
Tapi aku tak kan pernah mampu menyanyikan lagu tidur dengan tulus seperti saat kau menyanyikannnya untukku…
Ibu…
Aku takkan menjadi raja atau ratu dihidupku…
Karena kau adalah ratunya….
Ibu…
Aku akan bertahan disini…
Mengikuti alur yang kau inginkan…
Aku akan kuat disini Bu…
Walau sebenarnya aku tak sanggup Bu…
Ibu…
Tak ada salam sehangat salammu…
Tapi terimalah salam rinduku untukmu…
Ibu tunggu aku…
Sidanglah aku dengan cintamu…
Karena aku rindu dengan semua tentangmu…
Ibu…
Aku menyanyangimu…
Jauh rasanya aku darimu…
Enggan rasanya aku menemuimu…
Jengah rasanya aku mendengarmu…
Bosan rasanya aku menurutimu…
Ibu…
Itu kejamnya aku saat aku disampingmu lalu…
Ibu…
Itu durhakanya aku saat aku dibimbingmu lalu…
Ibu…
Itu sadisnya aku saat kau bicara padaku lalu…
Ibu…
Itu tak perdulinya aku saat kau menasehatiku lalu…
Ibu…
Aku tak pernah tahu akan begini jadinya aku…
Sendiri tanpa ada suaramu…
Tanpa senyumanmu…
Tanpa kehadiranmu…
Ibu…
Aku belum sanggup jauh dari pandanganmu…
Aku belum sanggup mengobati sakitku tanpamu…
Aku belum sanggup menyelesaikan gundahku tanpa nasehatmu…
Aku juga masih belum sanggup berjalan tanpa gandengan tanganmu…
Ibu aku sendirian disini…
Tak ada dirimu yang membangunkanku tidur…
Tak ada teh hangat buatanmu…
Tak ada tangan yang ku jabat saat ku berangkat tiap pagi…
Tak ada yang membalas salamku saat aku pergi…
Ibu aku sengsara…
Aku sengsara tanpa dirimu…
Aku kewalahan mengatur hidupku…
Aku terlalu manja padamu Bu…
Aku belum puas memeluk tubuhmu…
Aku belum puas bercerita denganmu…
Aku belum puas diajari olehmu…
Aku rindu Bu…
Rindu beratus kali lipat dari pada rindunya aku pada kekasihku…
Rindu akan semua sifat ikhlasmu padaku…
Rindu akan larangan-laranganmu…
Rindu akan makna diammu…
Bu…
Rasa terpenjaraku dulu saat aku didekatmu…
Lebih nikmat dari pada saat aku disini…
Aku memang bebas Bu…
Tapi aku terpenjara untuk bertemu denganmu…
Ibu…
Aku ingin pulang…
Setiap hari menikmati masakanmu…
Setiap hari melihat dan mendengarmu…
Setiap hari diperintahmu…
Setiap hari ada bersamamu…
Ibu…
Aku memang mampu menuliskan berbait-bait puisi untukmu…
Tapi aku tak kan pernah mampu menuliskan berjuta-juta keikhlasanmu padaku…
Aku memang mampu bernyanyi merdu tentang dirimu…
Tapi aku tak kan pernah mampu menyanyikan lagu tidur dengan tulus seperti saat kau menyanyikannnya untukku…
Ibu…
Aku takkan menjadi raja atau ratu dihidupku…
Karena kau adalah ratunya….
Ibu…
Aku akan bertahan disini…
Mengikuti alur yang kau inginkan…
Aku akan kuat disini Bu…
Walau sebenarnya aku tak sanggup Bu…
Ibu…
Tak ada salam sehangat salammu…
Tapi terimalah salam rinduku untukmu…
Ibu tunggu aku…
Sidanglah aku dengan cintamu…
Karena aku rindu dengan semua tentangmu…
Ibu…
Aku menyanyangimu…
Rabu, 09 Maret 2011
Sadar... Sadar... Sadar
Dasar bodoh, dia fikir yang dia lakukan ini bermanfat apa, ngurung diri, mogok makan, mewek sana-sini, menyesali semua kelakuan orang yang juga bodoh, terlalu aneh.
Kepala gatal, semua nasihat mental, ya ampun, kapan lurusnya jalan pikiran orang bodoh satu ini.
Marah-marah karena kebodohan orang yang tidak sadar kalau dia bodoh, menangisi orang yang sedang cekakakan , benar-benar dibodohi perasaan.
Ngakunya seorang calon S1, tapi kok ya begini, hampir 1.5 bulan nggak sehat-sehat, ngeratapi nasib yang benar-benar membingungkan.
Ingat-ingat hidupmu woyy… Mau lanjutin masa depan, apa kamu mau mandek diam di kamar kost? Sayang Ibu dan Bapakmu nggak?
Sudahlah otakku, jangan kau pikirkan manusia bodoh yang memang bodoh itu, buat apa Ada Band membuat lagu itu, kalau tak ada yang seperti itu.
Kamu sudah diusir oleh hatinya, kamu itu sudah digantikan tau!!!
Jadi jangan mengkhayal kalau pangeran berkuda putihmu dulu itu datang lagi, membawakan sebuket bunga mawar, memberikan senyuman yang paling indah lagi, lenyapkan sudah khayalan itu!!!
Kalau belum bisa membuka hati ya sudah, tapi cari ketenangan hidupmu dulu lah, ingat dia aja nggak ngerasa ngianati kamu kok, kok ya kamu ngerasa dia harus sadar.
Biarkanlah dia berdiri di atas argumentnya yang merasa dirinya tidak menyakiti apapun.
Kan katanya solusi alternative terakhir toh, ya udah, kamu menang, jadi jangan pernah mikirin orang yang jelas-jelas kalah macam dia.
Kamu menang, menang untuk setia, teguh berkomitmen, dan yang jelas jangan kalah untuk berfikir rasional. Ayolah jangan jadi orang bodoh, kamu punya kelebihan yang dia tidak punya, kelebihan yang sangat dasyat, yaitu sebuah ketulusan. Ikhlas lebih baik, ekspresikan saja, dengan tulisan dan suaramu.
Stand and spirit Lisa!
Kepala gatal, semua nasihat mental, ya ampun, kapan lurusnya jalan pikiran orang bodoh satu ini.
Marah-marah karena kebodohan orang yang tidak sadar kalau dia bodoh, menangisi orang yang sedang cekakakan , benar-benar dibodohi perasaan.
Ngakunya seorang calon S1, tapi kok ya begini, hampir 1.5 bulan nggak sehat-sehat, ngeratapi nasib yang benar-benar membingungkan.
Ingat-ingat hidupmu woyy… Mau lanjutin masa depan, apa kamu mau mandek diam di kamar kost? Sayang Ibu dan Bapakmu nggak?
Sudahlah otakku, jangan kau pikirkan manusia bodoh yang memang bodoh itu, buat apa Ada Band membuat lagu itu, kalau tak ada yang seperti itu.
Kamu sudah diusir oleh hatinya, kamu itu sudah digantikan tau!!!
Jadi jangan mengkhayal kalau pangeran berkuda putihmu dulu itu datang lagi, membawakan sebuket bunga mawar, memberikan senyuman yang paling indah lagi, lenyapkan sudah khayalan itu!!!
Kalau belum bisa membuka hati ya sudah, tapi cari ketenangan hidupmu dulu lah, ingat dia aja nggak ngerasa ngianati kamu kok, kok ya kamu ngerasa dia harus sadar.
Biarkanlah dia berdiri di atas argumentnya yang merasa dirinya tidak menyakiti apapun.
Kan katanya solusi alternative terakhir toh, ya udah, kamu menang, jadi jangan pernah mikirin orang yang jelas-jelas kalah macam dia.
Kamu menang, menang untuk setia, teguh berkomitmen, dan yang jelas jangan kalah untuk berfikir rasional. Ayolah jangan jadi orang bodoh, kamu punya kelebihan yang dia tidak punya, kelebihan yang sangat dasyat, yaitu sebuah ketulusan. Ikhlas lebih baik, ekspresikan saja, dengan tulisan dan suaramu.
Stand and spirit Lisa!
Selasa, 08 Maret 2011
Saat Namamu Dilupakan
Manis…
Malam ini rembulan serasa malu hadir dihadapmu…
Cahaya kemilau sinarnya…
Luntur karena kelammu…
Semilir angin di jendela kamarmupun berdebu…
Raga abstrakmu kian merapuh…
Manis, apakah kau tahu apa yang terjadi?
Nama indahmu terasa lenyap dari kotak-kotak pikiran mereka…
Manis, kamu sedang merasa sendiri?
Sendiri mengukir hampa yang sesat.
Sesat diantara bulir-bulir debu kecurigaan.
Luka yang kau tanam dihutan hatimu…
Kian melebat menutupi prasangka lurusmu.
Manis…
Namamu menghilang?
Menghilang karena lumut-lumut pojokmu…
Hutan dengan sungai air mata buatanmu…
Biarkanlah mereka pergi manis…
Kamu sedang tidak di hutan sebenarnya…
Kamu sedang ada di hutan kota…
Kamu bebas melangkah di rindangan pohon keramaian…
Tanpa mereka yang melupakan nama indahmu…
Manis, jangan menangis, kamu tidak benar dilupakan…
Manis, dengarkanlah bisikan hatimu…
Manis, andaikan kau ditinggalkan mereka…
Hanya satu yang harus kau ingat…
Mereka bukanlah pemberi segalanya untukmu…
Manis, carilah mimpimu tanpa mereka…
Mereka bukan penghalang mimpi dan masa depanmu…
Manis…
Walaupun mereka itu bagian dirimu, hidupmu bukan karena mereka…
Tapi karena Allah, orang tua, dan mereka yang mengingat coretan namamu di hati
Manis…
Nama indahmu itu abadi didirimu karena kamu pemerannya bukan mereka…
Malam ini rembulan serasa malu hadir dihadapmu…
Cahaya kemilau sinarnya…
Luntur karena kelammu…
Semilir angin di jendela kamarmupun berdebu…
Raga abstrakmu kian merapuh…
Manis, apakah kau tahu apa yang terjadi?
Nama indahmu terasa lenyap dari kotak-kotak pikiran mereka…
Manis, kamu sedang merasa sendiri?
Sendiri mengukir hampa yang sesat.
Sesat diantara bulir-bulir debu kecurigaan.
Luka yang kau tanam dihutan hatimu…
Kian melebat menutupi prasangka lurusmu.
Manis…
Namamu menghilang?
Menghilang karena lumut-lumut pojokmu…
Hutan dengan sungai air mata buatanmu…
Biarkanlah mereka pergi manis…
Kamu sedang tidak di hutan sebenarnya…
Kamu sedang ada di hutan kota…
Kamu bebas melangkah di rindangan pohon keramaian…
Tanpa mereka yang melupakan nama indahmu…
Manis, jangan menangis, kamu tidak benar dilupakan…
Manis, dengarkanlah bisikan hatimu…
Manis, andaikan kau ditinggalkan mereka…
Hanya satu yang harus kau ingat…
Mereka bukanlah pemberi segalanya untukmu…
Manis, carilah mimpimu tanpa mereka…
Mereka bukan penghalang mimpi dan masa depanmu…
Manis…
Walaupun mereka itu bagian dirimu, hidupmu bukan karena mereka…
Tapi karena Allah, orang tua, dan mereka yang mengingat coretan namamu di hati
Manis…
Nama indahmu itu abadi didirimu karena kamu pemerannya bukan mereka…
SYUKUR, PERNAH SAMA KAMU
Kenal kamu sudah merupakan suatu anugrah kok.
Mendapatkan cinta kamu juga indah.
Bertahan sama kamu juga berkesan.
Kamu meninggalkanku sudah merupakan sebuah keputusan.
Tenang sayang, aku terima itu dengan senyuman kok.
Aku sudah pernah menjadi sempurnamu dulu.
Aku juga sudah pernah merasakan banyak ketulusanmu.
Aku juga sudah pernah mendapatkan berjuta perhatian darimu.
Mungkin sekarang saatnya aku harus berdiri sendiri tanpa didampingi olehmu.
Aku tahu, ini adalah hal terberat bagiku.
Tak ada lagi yang memegang tanganku saat ku jatuh.
Tak ada lagi yang membisikan kata untuk aku tenang.
Yah, kamu memang telah meninggalkan aku.
Sayang kamu tetap sempurna untukku, untuk aku adikmu.
Adikmu yang telah dengan bangga selama tiga tahun jadi orang teristimewa dihatimu.
Menjadi pacarmu, aku senang.
Penantian satu tahunku terbayar kok sayang.
Terimakasih ya.
Kamu tidak sebenarnya pergi, kamu masih ada di ruang hatiku sayang, yang aku kunci rapat.
Semoga kita bisa kembali.
Walaupun entah kapan.
Kamarku Tercinta,
Girimukti, 21 Januari 2011
Mendapatkan cinta kamu juga indah.
Bertahan sama kamu juga berkesan.
Kamu meninggalkanku sudah merupakan sebuah keputusan.
Tenang sayang, aku terima itu dengan senyuman kok.
Aku sudah pernah menjadi sempurnamu dulu.
Aku juga sudah pernah merasakan banyak ketulusanmu.
Aku juga sudah pernah mendapatkan berjuta perhatian darimu.
Mungkin sekarang saatnya aku harus berdiri sendiri tanpa didampingi olehmu.
Aku tahu, ini adalah hal terberat bagiku.
Tak ada lagi yang memegang tanganku saat ku jatuh.
Tak ada lagi yang membisikan kata untuk aku tenang.
Yah, kamu memang telah meninggalkan aku.
Sayang kamu tetap sempurna untukku, untuk aku adikmu.
Adikmu yang telah dengan bangga selama tiga tahun jadi orang teristimewa dihatimu.
Menjadi pacarmu, aku senang.
Penantian satu tahunku terbayar kok sayang.
Terimakasih ya.
Kamu tidak sebenarnya pergi, kamu masih ada di ruang hatiku sayang, yang aku kunci rapat.
Semoga kita bisa kembali.
Walaupun entah kapan.
Kamarku Tercinta,
Girimukti, 21 Januari 2011
Ibu Aku Patah Hati
Ibu, Aku Patah Hati
Sembab, jelek, ruwet, brantakan, rembes, dan segala jenis bentuk tidak layak tampil di wajahku yang memang sudah sedikit tidak terawat ini. Hhhooo, bagaimana tidak, patah hati cing, sakit hati ni ceritanya. Nyucuk!!!!
Ditinggal sang pangeran hati pergi menuju negeri yang telah melarangku masuk kedalamnya, sakit plus gawat toh!
Ratap meratap, desah mendesah, eluh mengeluh, itulah yang terjadi padaku. Ingin mati rasanya, ingin membuang diri ini jauh-jauh kelubang hitam. Paketkan diri ke hiportemia aja sudah gin. Frustasi neh!
Kalian tahu apa yang kulakukan dalam ratapku kali ini? Aku meratap dan ingin sekali ditemani ibu. Ibu… Aku patah hati! !!!!!!
Yah bu, anak bandelmu ini sedang patah hati, ditinggal pujaan hatinya, yang senantiasa tersembunyi dari matamu, walaupun dibelakangku engkau tahu dia. Ibu… Aku sedih, aku terjatuh, tergulir, terperosok dalam lembah kehancuran cintaku Bu…! Bu, kenapa orang yang senantiasa menjagaku ketika aku sakit itu pergi Bu? Mengapa orang yang rajin menemaniku makan di perantauan itu hilang Bu? Mengapa orang yang setia menemaniku pulang kampung itu memutuskan jauh dariku Bu? Ibu, sungguh hatiku patah Bu, huuuft… Bu adakah keluh untukku darimu kali ini?
Bisuku ini bukan artianku tak ingin berbagi kepiluan ini denganmu Bu, aku hanya takut, takut melihatmu khawatir dan cemas dengan keadaanku disini Bu, di rumah saja aku sudah uring-uringan seperti tringgiling Bu, apa lagi disini, di kamar kostku yang penuh dengan foto-foto manis wajahnya, yang selalu aku sembunyikan saat engkau danBapak main ke sini. Iya Bu, aku benar-benar sakit dan tak sanggup kehilangan orang yang begitu berarti itu. Bu bisakah aku lari dari patah hati ini? Jawab Bu, aku tahu engkau pasti merasakan pertanyaankukan? Bu, aku patah hati. Tolonglah aku.
Kamar KostKu Tercinta,
Samarinda, 07 Februari 2011
Sembab, jelek, ruwet, brantakan, rembes, dan segala jenis bentuk tidak layak tampil di wajahku yang memang sudah sedikit tidak terawat ini. Hhhooo, bagaimana tidak, patah hati cing, sakit hati ni ceritanya. Nyucuk!!!!
Ditinggal sang pangeran hati pergi menuju negeri yang telah melarangku masuk kedalamnya, sakit plus gawat toh!
Ratap meratap, desah mendesah, eluh mengeluh, itulah yang terjadi padaku. Ingin mati rasanya, ingin membuang diri ini jauh-jauh kelubang hitam. Paketkan diri ke hiportemia aja sudah gin. Frustasi neh!
Kalian tahu apa yang kulakukan dalam ratapku kali ini? Aku meratap dan ingin sekali ditemani ibu. Ibu… Aku patah hati! !!!!!!
Yah bu, anak bandelmu ini sedang patah hati, ditinggal pujaan hatinya, yang senantiasa tersembunyi dari matamu, walaupun dibelakangku engkau tahu dia. Ibu… Aku sedih, aku terjatuh, tergulir, terperosok dalam lembah kehancuran cintaku Bu…! Bu, kenapa orang yang senantiasa menjagaku ketika aku sakit itu pergi Bu? Mengapa orang yang rajin menemaniku makan di perantauan itu hilang Bu? Mengapa orang yang setia menemaniku pulang kampung itu memutuskan jauh dariku Bu? Ibu, sungguh hatiku patah Bu, huuuft… Bu adakah keluh untukku darimu kali ini?
Bisuku ini bukan artianku tak ingin berbagi kepiluan ini denganmu Bu, aku hanya takut, takut melihatmu khawatir dan cemas dengan keadaanku disini Bu, di rumah saja aku sudah uring-uringan seperti tringgiling Bu, apa lagi disini, di kamar kostku yang penuh dengan foto-foto manis wajahnya, yang selalu aku sembunyikan saat engkau danBapak main ke sini. Iya Bu, aku benar-benar sakit dan tak sanggup kehilangan orang yang begitu berarti itu. Bu bisakah aku lari dari patah hati ini? Jawab Bu, aku tahu engkau pasti merasakan pertanyaankukan? Bu, aku patah hati. Tolonglah aku.
Kamar KostKu Tercinta,
Samarinda, 07 Februari 2011
Haaaa... Tidak
Keinginan ini tak terpenuhi, padahal aku ingin. Rasanya menemaninya itu sudah kutunggu-tunggu, foto disampingnya bersama ibunya juga. Aku ingin menemaninya wisuda. Yang kini sudah jadi khyalan hampa, karena benciku memuncak untuknya.
Sakit tuhan… Mataku makin cekung rasanya, lebih dari sebulan menangisi sesuatu yang tak pasti, dan beberapa hari ini tangisan penyesalan itu makin terdengar, aku dikhianati tuhan, hatiku hancur, perih, berantakan. Mengapa engkau mengenalkanku padanya, mengapa? Aku bahkan sempat lebih menyayanginya dari apapun, bahkan dariMu. Ampuni aku ya Allah, itu sebuah kesalahan terbesarku, sekarang aku hanya terdiam meratap kosong, membenci dia, mendendam, dan ingin sekali melenyapkannya.
Senyum konyolnya itu sudah benar-benar hilang, tak ada lagi kata-kata manis yang sudah menjadi konsumsiku selama tiga tahun. Dia sedang tersenyum disana, tertawa bersama seseorang yang entah siapa, yang sudah mengalahkan ketulusan hatiku mencintainya.
Menemaninya menyelesaikan tugas akhir tahun depan, hanya perkataan kosong beberapa bulan lalu, menjenguknya di tempat praktek juga hanya khayalanku saat ini, makan bersamanya juga sudah tidak mungkin, padahal inilah kegiatan yang kulakukan dengannya hampir setiap hari. Merekam suaranya juga sudah tidak mungkin, nyanyi bersamanya juga sudah tidak, banyak yang hilang di hatiku ya Allah, seperuh jiwaku benar-benar pergi…!
Belum ada yang bisa menenagkanku sepertinya dulu, tapi kini dia adalah penyebab aku menjadi orang yang hampir gila. Buat aku jatuh kepesakitan parah. Ya Allah, kenapa harus ini balasannya, cobaan ini terlalu berat, aku terlalu rapuh menghadapinya.
Aku ingin bangkit, tapi itu sulit, yah begitu sulit. Disini ada rindu yang kian hari kian memuncak, disini ada sayang yang setiap detik terkubur direlung hatiku, disini ada rasa benci yang kian menggila, dan disini ada aku yang tak tahu harus berbuat apa.
Sakit tuhan… Mataku makin cekung rasanya, lebih dari sebulan menangisi sesuatu yang tak pasti, dan beberapa hari ini tangisan penyesalan itu makin terdengar, aku dikhianati tuhan, hatiku hancur, perih, berantakan. Mengapa engkau mengenalkanku padanya, mengapa? Aku bahkan sempat lebih menyayanginya dari apapun, bahkan dariMu. Ampuni aku ya Allah, itu sebuah kesalahan terbesarku, sekarang aku hanya terdiam meratap kosong, membenci dia, mendendam, dan ingin sekali melenyapkannya.
Senyum konyolnya itu sudah benar-benar hilang, tak ada lagi kata-kata manis yang sudah menjadi konsumsiku selama tiga tahun. Dia sedang tersenyum disana, tertawa bersama seseorang yang entah siapa, yang sudah mengalahkan ketulusan hatiku mencintainya.
Menemaninya menyelesaikan tugas akhir tahun depan, hanya perkataan kosong beberapa bulan lalu, menjenguknya di tempat praktek juga hanya khayalanku saat ini, makan bersamanya juga sudah tidak mungkin, padahal inilah kegiatan yang kulakukan dengannya hampir setiap hari. Merekam suaranya juga sudah tidak mungkin, nyanyi bersamanya juga sudah tidak, banyak yang hilang di hatiku ya Allah, seperuh jiwaku benar-benar pergi…!
Belum ada yang bisa menenagkanku sepertinya dulu, tapi kini dia adalah penyebab aku menjadi orang yang hampir gila. Buat aku jatuh kepesakitan parah. Ya Allah, kenapa harus ini balasannya, cobaan ini terlalu berat, aku terlalu rapuh menghadapinya.
Aku ingin bangkit, tapi itu sulit, yah begitu sulit. Disini ada rindu yang kian hari kian memuncak, disini ada sayang yang setiap detik terkubur direlung hatiku, disini ada rasa benci yang kian menggila, dan disini ada aku yang tak tahu harus berbuat apa.
Minggu, 06 Maret 2011
Bawalah Cintaku
Sudah cukup air mataku terkuras teman, cukup sekian aku meratapi nasibku karenamu.
Yah, aku sadar cintaku memang sedang tak terbalas kali ini olehmu. Bukan sakit lagi yang kurasa, tapi mati rasa saja rasanya.
Temanku, aku tahu, aku hanya dapat mengisi hatimu sesaat, tiga tahun buatku memang lama, tapi sesaat untuk selamanya.
Kamu tahu, cinta dan sayangku padamu takkan pernah habis dan hilang, akan ku bawa sampai aku mati.
Mungkin kelak cinta sejatiku datang menghampiriku, dan mencintaiku ikhlas apa adanya.
Yah, mungkin jodohlah yang akan memepertemukan kita nanti, tapi kalau memang bukan untukku, semuanya akan menjadi kenangan yang paling indah.
Banyak waktu yang kita habiskan bersama teman, dari tersenyum hingga menangis bersama.
Aku yakin, kamu disana juga merasakan ini, aku yakin kamu masih punya sedikit memori untuk diriku ini, walaupun hanya setitik.
Teman, maafkan aku, aku tak bisa menemanimu mengerjakan tugas akhirmu nanti, dan ikut berfoto bersama kau dan ibumu saat kamu wisuda tahun depan.
Teman rasanya ingin ku akhiri semua tentang kamu, semua senyummu yang membekas dibenakku, tapi jujur, bagiku semua itu takkan pernah terhapus, semakin gila aku menghapusnya, semakin aku merindukanmu yang sudah tak merindukanku lagi.
Aku selalu merasa ini sebuah tundaan untuk kita bersama, entah terlalu naïf aku ini, terlalu mengharap yang tak pasti teman, sulit untukku menerima kepergianmu dan memilih dia dengan ikhlas.
Banyak yang harus kulalui sendiri teman, yang biasanya kita lakukan bersama di perantauan ini , bukan maksudku untuk menahanmu pergi, aku memang sudah tak memiliki daya lagi.
Saat ku lewati tempat-tempat itu, aku mengingat wajahmu, yah wajahmu yang selalu ikhlas menemaniku, menemani makan, tertawa, sholat dan lainnya.
Teman, rasanya tak cukup tenagaku ini menangis lagi, tapi aku selalu menangisimu yang tertawa lepas disana, mungkin ini tak adil temanku. Tapi aku memang menderita seperti ini.
Tak ada lagi Juanda – Pramuka yang selalu kuelu-elukan, tak ada yang menemaniku makan lagi, keliling mencari makanan kesukaanmu, yah bakso, menemanimu makan roti, ke toko buku, bernyanyi Yang Terbaik Bagimu bersama seperti dulu. Ya Allah, sudah tidak ada harapan buatku mungkin. Tenang teman, semua ini takkan ku buang ketempat sampah memoriku, tak akan. Kalau kamu berniat seperti itu padaku, aku ikhlas, karena kedudukanku sudah tak ada di hatimu. Beda denganmu, yang membeku dihatiku, karena aku selalu mengira, kaulah cinta pertama dan terakhirku, seperti lagu yang kau nyanyikan ikhlas 3 tahun lalu “Sempurna”, lagu yang membuat kita bertahan sampai 21 Januari 2011 lalu.
Memori yang selalu kuingat adalah saat-saat kau menjagaku di bus 20 Maret 2008 lalu, saat aku hampir pingsan karena tak kuat menahan mualku, kamu dengan setia membantuku untuk kuat, teman saat itu dibenakku, kamu tak akan meninggalkanku, apalagi sampai mengkhianati cintaku ini.
Kamu sudah menjadi pahlawan untukku, yang selalu kudoakan menjadi imamku kelak teman, mungkin ini bukan jalanku meraih yang namanya cinta dan sayang darimu. Aku ingat saat pertama kali kamu mengimamiku saat sholat, dalam sujudku aku menangis, rasanya aku sangat bersyukur memilikimu walaupun hanya sebatas itu, dan aku tahu konsekuensinya adalah kita bisa berpisah, yah seperti ini, kita berpisah, dan kau sudah memiliki tambatan hati yang mungkin jauh lebih baik dariku.
Teman, rasanya baru saja kurasakan kebersamaan kita, saat Idul Fitri kemarin, saat aku marah besar padamu, karena kamu tak mengajakku ke rumahmu pada lebaran pertama, dan saat aku ke rumahmu, ibumu menyambutkku dengan senyum ikhlas khas beliau, teman dan kaupun mengadu padanya bahwa aku menangis gara-gara tak bertemu pada hari pertama. Rasanya saat itu, aku merasa aku begitu dekat dengan kamu dan keluargamu, teman sudah dihapuskah aku oleh mereka saat ini? Sudah tergantikankah aku ini teman oleh dia yang baru disana?
Bagiku 12 Oktober 2007 adalah hari yang paling bahagia bagiku, sampai saat ini, bagiku itu hari yang takkan pernah kulupakan.
Kamu mungkin tak akan membaca ini teman, cukuplah aku yang menanggis saat menulis ini, dan aku yakin kamu mungkin takkan tersentuh.
Berbahagialah teman bersama dia yang disana, jagalah dia seperti kamu menjagaku dulu selama 3 tahun lebih, sayangilah dia setulus kamu menyangi keluargamu, bimbinglah dia agar menjadi yang sempurna agar kau tak lagi mencari yang sempurna.
Teman, aku sangat merindukanmu, sangat, teman jaga selalu hatimu, jangan kau khianti perasaan seseorang untuk yang kedua kalinya, cukuplah aku yang merasakannya.
Bahagialah kakakku, adikmu ini sedang berusaha untuk ikhlas menerimanya, aku janji, takkan pernah memusuhimu, karena darimu kutahu apa itu perasaan sebenarnya.
Baik-baik disana, aku selalu berusaha baik dan menjadi yang terbaik, agar kelak kau juga akan bangga karena mengenalku.
I Love You Forever, Kak.
Bawalah Cintaku
By: Afgan
Sumpah tak ada lagi
Kesempatan untuk ku
Bisa bersamamu
Kini ku tau
Bagaimana cara ku
Untuk dapat trus denganmu
Bawalah pergi cintaku
Pada ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta
Di sini ku pun begitu
Trus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan
Kita nanti
Langganan:
Postingan (Atom)