Abrasi Cinta
Mendung dan berawan, pagi ini ku awali hariku dengan sebuah senyum kecut karena cuaca. Sendiri kulalui jalanan padat oleh debu, asap, dan kotoran kendaraan samping kanan kiriku. Ku parkirkan motorku di tempat rindang ujung parkiran kampusku. Masih sepi, ini akunya terlalu pagi, atau teman-temanku yang tak bangun pagi, rasa kantuk yang tertinggal karena semalam tidurku hanya 3 jam masih mendera dipagi yang dingin ini. Sapaan-sapaan ringan dari beberapa teman sekelasku, ku balas dengan sebuah senyum manis sesaat. Dalam benak dan desain pikiranku, beberapa hari ini adalah hari membosankan untukku, aku harus bersedia bertemu dengan orang yang paling aku benci tapi aku suka. Aneh bukan? Yah ini lah kenyataan perasaan bodoh yang aku rasakan sepanjang bulan ini.
Suasana kelas sudah mulai ramai, aku hanya teringsut lesu di pojok samping jendela bagian depan, ini adalah tempat favoritku, karena aku termasuk orang yang enggan memperhatikan, tetapi ingin diperhatikan, egoiskah aku? Ya mungkin, tapi aku lebih nyaman begini, daripada melihat sani-sini kelakuan konyol teman-temanku, kecuali kelakuanya. Dia yang senantiasa hadir dalam pikiranku, dia yang selalu menimbulkan senyum pahit di wajahku, dia yang selalu membuat hatiku kagum, dan dia yang selalu seperti bunglon didepanku. Dia… Dia… Dan selalu dia. Membosankan. Belum hilang keluh gerutu diotakku tentang dia, dia yang menyebalkan itu muncul dari ambang pintu, dengan senyum sok manis, senyum sok dewasa yang begitu memikat, dan dengan senyum misterius untuk diriku, yah khusus untukku saja karena mungkin hanya akulah yang menikmati senyum misterius itu. Lagi-lagi dia duduk tepat dibaris kedua sebelah kiriku, tempat favoritnya mungkin, tapi bagiku itu adalah tempat yang sulit untuk memperhatikannya, aku sendiri heran kenapa aku terlalu suka memandang wajahnya yang terus terang menjengkelkan, ahhh perasaan apa ini.
Kuliah hari ini berjalan seperti biasa, tanpa ada sepatah katapun darinya hingga kuliah berakhir, saat selsai perkuliahanpun saat semua teman-teman di kelas berhambur di koridor untuk pulang, tak ada ku dengar sapaan dari dia, hanya sebuah senyum tipis yang terus terang membuat hatiku berbunga, lucu bukan, benci tapi mengharap.
***
Malam dingin akibat hujan sepulang kuliah tadi membuatku ingin cepat terlelap, rasa jengah hatiku hilang sejenak, rasa nyaman di otakku menghantarkan aku kesingasana tidurku. Belum sempat aku bermimpi handphone di samping bantalku bergetar, segera ku baca, sebuah pesan singkat darinya, yah darinya, isinya membuat bunga di hatiku mekar dan makin mekar, *Yara, aku suka senyummu yang kemarin, bukan hari ini, besok lebih manis lagi ya.* Yara, Yara, rasanya aku tak ingin tidur malam ini, aku ingin esok cepat datang dan bertemu dia lagi, dan mempersiapkan sebuah senyum manisku untuknya, rasa jengkelku hilang digantikan oleh sebuah perasaan senang karena dia, sesungguhnya aku juga merasa, semua perubahan rasa di hatiku juga seperti bunglon, sama seperti dia.
Pagi yang cerah bertandang di kotaku hari ini, senyum manis yang ku ukir di wajahku, ku pertahankan lama sampai bertemu dengannya nanti, dan kalau tak ada halangan akan kupampang senyum itu sepanjang hari, ini hari tersenyum untukku. Kembali ku baca ulang sms darinya semalam, aku sudah duduk manis di kursi yang bukan tempat favoritku, hari ini aku kebagian duduk di barisan belakang, tapi taka pa yang penting senyum harus terukir untuknya, ini memang perasaan yang aneh tapi mengasyikkan untukku.
Itu dia, dia yang memang langganan berangkat agak siang itu muncul dengan senyumnya, aku sudah mulai mempersiapkan senyumku untuknya, tepat dia melihatku, dan aku tersenyum padanya, tapi apa yang terjadi, hanya tatapan datar untukku, ahhh meyebalkan, lagi-lagi semua ini terjadi. Yara… Yara kamu lagi-lagi jatuh, rasa sesal dan kesalku membeludak hari ini, senyum manisku seolah lenyap ditelan asinnya garam kecewa olehnya dan parahnya hari ini sebuah senyum tipispun tak ku dapat darinya. Sakit, rasanya ingin sekali aku berbicara padanya langsung, tapi aku enggan, enggan di anggap sebagai cewek keganjenan, karena aku tahu kalau dia adalah tipe seorang cowok tenang yang datar dengan cewek sekelilingnya.
***
Hari yang menyebalkan, aku tak perduli lagi dengan semua ini, perasaan aneh ini harus kunetralkan segera, dari pada makin hari makin menggila dan tak berujung. Mulutku komat-kamit mengomel sepanjang siang ini di kamar, geregetan rasanya mengingat wajahnya tadi, ih dia pikir aku apa, dia menyuruhku senyum sendiri seperti orang aneh, tidak untuk kedua kalinya aku begitu. Nada dering hanphoneku yang bertema cinta itu berbunyi, gerutuanku aku tunda dulu, sebuah nomor baru masuk, tanpa pikir panjang aku angkat saja telepon itu.
“ Hallo, siapa ya?”, aku bertanya kepada entah siapa di sebrang sana.
“ Ini Rino, Yara,” jawab sesorang disana, dan membuatku berubah ketika kudengar nama si penelpon.
“ Ada perlu apa ni? Nggak ada tugas kok, lagian minggu-minggu ini kita nggak ada sekelompok,”
“ Ya ampun, memangnya aku nelpon kamu kalau ada tugas atau sekelompok aja ya, juteknya,”
“Ya biasanyakan begitu, lagi pula aku ,memang lebih nyaman jutek kok, dari pada sok manis tapi dianggap angin lalu aja,”
“Kamu ngambek gara-gara tadi pagi ya, aduh maaf, kamu di belakang sih, kan kamu tahu sendiri mataku kurang tajam kalau melihat,”
“Ah alasan, kan jaraknya nggak juh-jauh juga, udah buruan kamu ada perlu apa???!!!” tanyaku jutek padanya.
Percakapan siang ini kembali membawaku menjadi bunglon, yah rasa jengah yang beberapa jam lalu meledak-ledak terkikis karena gurauannya disiang terik ini. Yara,Yara kamu kena lagi, terus terang sisi lain hatiku tidak terima dengan kebodohan ini, tapi sisi yang berbeda malah bahagia, makin tak mengerti aku dengan perasaanku sendiri.
***
Beberapa hari kemudian setelah telepon disiang itu, sifatnya padaku di kampus tetap dingin tak berubah, hanya senyum tanpa sebuah sapaan, saat ku Tanya prihal sifat juteknya itu dia hanya menjawab itu hanya perasaanku saja. Aku makin tak mengerti padanya, Dia begitu berbeda, saat di luar kampus dia begitu terbuka dan perhatian padaku, saat di kelas aku hanyalah angin lalu, aku jengah dengan semua sikap semunya ini, apakah ada yang disembunyikannya dariku? Aku tak tahu. Jujur, perasaanku padanya memang berbeda dan istimewa tapi kalau begini aku merasa dipermainkan, apa yang sebenarnya terjadi hanyalah sebuah teka-teki bagiku. Di benakku, aku ingin menghindar dan mencoba untuk berusaha jauh darinya.
Hari-hari berlalu seperti biasa, penuh misteri dan teka-teki darinya, aku juga masih sering dibuatnya kesal karena sikapnya yang merasa luarbiasa di depanku, sikapnya yang acuh, padahal disisi lain tidak. Entah ini akunya yang sudah malas, atau dianya yang menjauh, rasa itu seolah terkikis seperti karang tepian pantai yang dihantam gelombang laut, karangnya itu perasaanku, gelombang lautnya itu sifat acuhnya, tepat sekali abrasi cinta. Yah dia itu sepertinya malu untuk menyapaku, atau dia itu gengsi ya? Aku tak tahu, karena tidak ada sama sekali niat untuk bertanya padanya. Biarkanlah aku menyimpan semua perasaanku tentangnya dihatiku dan kubiarkan terkikis habis karenanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar