Total Tayangan Halaman

Minggu, 20 Maret 2011

Senyummu Dini

Dini namanya, bukan sebuah nama indah yang terkenal, yah sebatas nama biasa yang mewakili keberadaannya dibumi ini. Senyumnya selalu ikhlas, gayanya manja, suaranya cempreng, ceriwis, pipinya tembem, dan mulutnya yang sering manyun. Dini, bukanlah sosok istimewa untukku, dia hanya seorang gadis remaja ke dewasa yang sering membuatku tersenyum yah tersenyum sampai aku merengut jadinya. Dibilang sahabat juga bukan, dibilang teman dekat bukan, dibilang pacar jelas tidak, bisa dibilang dia adalah teman biasa dan sekampusku. Sebenarnya Dini ini teman sekostku, tapi jarang sekali ku bertemu dia di kost, di kost pun dia selalu di kamarnya, bukannya karena dia sombong, Dini memang anak yang punya dunia sendiri kalau di kost, tapi kalau urusan ramah, dia jagonya, semua anak kost sangat menyukainya,
Andini Delima, itu nama lengkapnya, anak daerah yang super manja, semua fasilitas lengkap dikamarnya, hampir setiap hari makan di luar, tidak bisa masak, nyuci selalu di laundry, jarang cuci piring dan paling doyan nyanyi di kamar mandi. Tapi anehnya dia hanya menghabiskan satu lagu saja, dan setelah itu keluar, dialah anak kost yang memeliki rekor mandi ala bebek tercepat.
***
Pagi ini, kembali ku lihat wajah kekanakkan Dini tersenyum didepan kampus, senyum khasnya yang sok imut tapi selalu membuat kami rindu kalau tak ada dia, kulihat kali ini dia diantar oleh kekasihnya yang selalu dijadikan inspirasi status facebooknya dan cowok yang selalu bersama dia hampir setiap hari, aku tersenyum melihatnya, saat Dini mencium tangan pacarnya dengan ikhlas, sangat ikhlas menurutku. Sebuah lambain tangan menjadi akhir ritual pagi sepasang kekasih itu. Dini terseyum menghampiriku, dan mulai berceloteh seperti biasa.
Dini pernah bercerita padaku, saat ku tanya sudah berapa lama hubungannya dengan pacarnya itu, dengan bangga Dini menceritakan hubungan mereka yang hampir 3 tahun berjalan. Aku cukup salut dengan Dini, dia termasuk cewek setia dan sangat perhatian. Aku sering mengamati dia, sungguh aku bangga bila menjadi kekasih seorang Dini. Pacar Dini juga bisa dibilang cowok yang sempurna, wajahnya cakep, otaknya encer, orangnya ramah, dan tegas. Aku saja tertarik bila diajak bicara olehnya, Dini beruntung dapat bertahan dengannya, karena aku yakin, godaan pasti ada dimana-mana untuk cowok macam dia.
Dini termasuk mahasiswi cerdas di kelasku, nalarnya kuat, dia yang memang dasarnya cerewet mampu berdeklamasi mengeluarkan argumentnya di kelas. Sebenarnya dia bukan seorang organisatoris yang handal, hanya sedikit mampu menguasai teman-teman di kelas. Dia jarang serius, tapi kalau sudah serius dia sedikit menakjubkan.
***
Beberapa waktu ini, Dini agak akrab denganku, mungkin karena Dini sekarang jarang diantar jemput dan akhirnya harus ke kampus naik angkot bersamaku, saat ku tanya mana pacarnya, Dini dengan logat khasnya mengatakan bahwa pacarnya kuliah lebih pagi untuk semester ini. Tapi seperti biasa, sebelum Magrib atau setelahnya Dini sudah lenyap dari kost, Dini mengatakan padaku, kalau dia keluar pasti beli makan, dan dia tak biasa makan sendiri tanpa belahan jiwanya itu. Dari antusiasme ceritanya tentang pacarnya, aku merasakan atmosfer rasa sayang yang benar-benar tulus dari seorang Dini. Cinta mati, itu kata Dini. Dini mengatakan padaku, kalau Galih pacarnya itu adalah cinta pertamanya. Aku hanya dapat tersenyum simpul, seorang temanku ini begitu menyakralkan cinta sepertinya.
Suatu hari, aku mendengarkan Dini cerita di kamarnya, Dini bercerita banyak hal tentang dia dan Galih, terus terang sebenarnya aku risih, tapi aku juga penasaran tentang kisah cinta dua anak muda yang wataknya sangat kontras menurutku. Selama ada diperantauan, Dini memang selalu menghabiskan waktu dengan Galih, kata Dini hal yang paling membuatnya senang adalah saat Galih mengimaminya sholat, walaupun hanya beberapa kali, tapi baginya itulah moment terindah. Dini, Dini sepertinya benar-benar cinta mati, bahkan dia mengatakan kalau dia sempat menangis saat hal itu terjadi untuk pertama kali.
Saat ku tanya mau dibawa kemana hubungannya, dengan bangga Dini mengatakan ingin menikah, namun wajahnya seketika redup, Galih belum mau berfikir kesitu katanya. Akupun mengatakan padanya bahwa itu wajar saja, karena kami masih kuliah semester awal, masih banyak hal yang kita tempuh, tapi ada kalimat yang diucapkan Dini dan membuat aku terhenyak juga, Dini bilang kalau Galih, belum menemukan apa yang dia cari di diri Andini Delima. Aku juga tak paham, kalau menurut pengamatanku, Dini sudah melakukan hal super untuk kekasihnya itu, tapi merekalah yang tahu apa yang terjadi.
***
Sore itu gerimis, langit mendung terlihat begitu jelas dari jendela kamarku, sedang asyik-asyiknya mendengarkan MP3 dari HP bututku, sebuah sms masuk, dari Dini, yang isinya menyuruhku untuk ke kamarnya. Tumben, biasanya kalau hari libur begini, anak itu tidak pernah di kost dan kulihat tadi pagi dia pergi bersama Galih. Akupun segera beranjak dari ranjangku dan menuju kamarnya.
Pintunya tak terkunci, kulihat Dini tengkurap di atas ranjangnya, saat ku panggil namanya, gadis itu pun langsung memelukku. Mukanya berantakan, matanya merah, airmatanya mengalir di pipi tembemnya itu. Sesegukannya nyaring, nafasnya berat, dan akhirnya Dinipun mulai angkat bicara. Galih memutuskan hubungan mereka, alasannya karena Galih ingin konsentrasi ke kuliah dan ingin sendiri. Dini akhirnya jujur padaku, bahwa mereka memang sudah lama ingin putus, karena Galih jenuh. Akupun ikut menangis mendengar cerita Dini, alasan yang memang tidak logis, tapi harus diterima Dini, Dini pun mengiyakan karena ini sudah yang kesekian kalinya, karena daripada hubungan mereka menjadi lebih tidak sehat dan hambar.
Mungkin aku hanya mampu memberinya semangat, empatiku tak banyak, aku juga bingung menangani orang patah hati macam Dini. Sahabat-sahabatnya SMA rajin mengunjungi Dini, membawakan makanan, bocah itu mogok makan sepertinya. Mata bengkaknya setiap hari menghiasi wajahnya di kampus. Teman-teman di kelas juga hanya mampu menghibur sahabat kecil kami ini. Tapi aku salut, dia tetap kuliah, walaupun aku tahu, pikirannya tak pernah fokus terhadap celotehan para dosen di kelas. Patah hati akut anak ini, bagaimana tidak, pacaran lama kandas begitu saja. Sepertinya begitu banyak harapan yang digantungkan Dini kepada seorang Galih, agghh rasanya aku jadi benci pada cowok itu, kalau saja dia melihat keadaan Dini yang kehilangan senyum ini, apa dia tega?! Entahlah, terlalu juga kalau aku harus memotret Dini dan mengirimkan foto itu ke Galih.
***
Pagi ini kutemukan kembali senyuman Dini, wajar saja sudah hampir sebulan pasca putus dengan Galih. Terlalu kalau si Dini ini tak sembuh dari keterpurukannya, apa lagi hampir tiap hari orang-orang yang dekat dengannya menemaninya di kost, memang dasarnya anak manja mungkin dia tidak ingin sendiri, akupun sekali-kali harus mendengarkan cerita dan menemaninya.
Seperti hari-harinya dulu, celotehan beonya di kelas sunter lagi, setelah hampir sebulan vakum, Dini sudah kembali. Hhahahha, teman-teman memang usil, Dini menanggapi itu dengan tertawa, yah itulah yang kami semua harapkan. Rasanya masa-masa kritis Dini mungkin telah lewat, parah juga orang patah hati ini nggak kalah sama penyakit kronisnya dokter.Selera ngemilnya kembali, suaranya di kamar mandi terdengar lagi, kali ini lagu yang dinyanyikan adalah lagu gembira karena jomblo, update statusnya lancar lagi setelah hampir sebulan tidak buka facebook, baguslah si ceriwis itu sudah bangkit sepertinya.
Tapi ternyata semua itu tak lama. Dini kembali jatuh, mungkin ini lebih jatuh dari pada awalnya. Sebuah hardikan sadis beralamat padanya, dari seseorang yang tak dia kenal, hanya suara cempreng saja kata Dini yang dia dengar. Siang itu kembali tangisan Dini yang juga cempreng kembali menggema di kamar kostnya, kakaknya tak kuasa menenangkan ade kesayangannya itu, aku hanya diam meratapi temanku ini, sembari kupunguti foto-fotonya bersama Galih yang kini menjadi sobekkan-sobekkan tak karuan di lantai kamarnya. Ternyata, selama hampir sebulan ini, Dini masih aktif berkomunikasi dengan Galih, walaupun hanya bersay hello, Dini fikir mereka masih bisa dekat dan Dini berharap kalau mereka akan kembali dalam waktu dekat. Tapi kejadian siang ini begitu membuat Dini tersadar, kalau Galih sudah tak akan kembali padanya. Seorang cewek mencaci makinya diseberangan sana, yang mengaku pacar Galih yang baru. Galih, Galih sadis sekali kamu teman, komitmenmu munafik, teganya kamu mengkhianati cita suci dari seorang Dini. Sungguh, pengakuan dari Galih yang didengar Dini siang itu membuatnya benar-benar hancur lagi, bahkan lebih parah dari awal.
Entah, apakah ini termasuk dari kasus pengkhianatan? Melihat keadaan Dini yang kian hari makin berantakan, apa lagi seteelah Dini tahu, kalau Galih berpacaran seminggu setelah mereka putus, hati wanita mana yang tak hancur, disaat airmatanya masih mengalir mengenang, mengingat dan merindukan Galih, disana Galih telah berdua. Tragis nasibmu Dini sayang. Makanan yang dibawakan oleh teman-temannya tak dia sentuh, benar-benar miris. Airmata Dini yang tiap hari masih mengalir membuat banyak empati datang padanya. Makin dia tahu yang sebenarnya, makin sakit jadinya. Dia selalu mengatakan padaku, bahwa banyak wanita yang tidak berhati wanita. Aku paham dengan perkataan Dini itu, aku sangat mengerti, terlalu banyak hal kebetulan yang membuatnya begitu sakit.
Butuh waktu berapa lama lagi agar temanku ini bangkit, entahlah aku sendiri bingung bagaimana menghiburnya. Ayolah Dini buka hatimu, aku selalu memberikan semangat itu padanya, tapi tetap saja hatinya tertutup. Waktu yang kian hari makin lambat kata Dini. Usaha para sahabatnya ku acungi jempol, kompak sekali mereka menjadi satgas patah hati Dini, Dini mungkin dapat pulih, tapi tak pulih dalam artian sepenuhnya.
***
Dini, Dini kisahmu tak habis dari pengamatanku rasanya, setelah down lama, kawanku ini mulai menata hidup baru, katanya mau cari pacar baru, aku tanggapi itu dengan antusias, dengan menawarkan jasa biro jodoh, tapi kriteria bocah ini susah, aku sampe garuk-garuk kepala jadinya. Wajah Dini mulai sering bersemu merah lagi, jatuh cinta mungkin anak itu, saat didesak tidak ada pengakuan darinya.
Malam ini, saat aku sedang menemaninya di kamar, HP Dini bordering, dengan suara khasnya, gadis itu mengangkat telepon, terdengar nada penolakkan dan gaya jutek yang bukan Dini banget lah. Kulihat tampangnya memucat setelah menutup telepon itu, ternyata Galih yang mengajaknya bertemu, dan ditolak oleh Dini. Kulihat airmata menetes lagi, Dini menangis lagi. Dini mengutarkan bahwa ini kali pertama dia menolak ajakkan Galih, Dini tak kuasa membohongi hatinya, dia sangat menyanyangi, tapi juga benci dan berusaha untuk memaafkannya, sungguh Dini begitu tulus hatimu,ternyata rasa cintamu untuk seorang Galih masih tersimpan. Kuatlah teman, ikhlaskan dia. Kamu sudah bisa berdiri Dini, kembali aku memeluk temanku ini yang telah menjadi sahabatku. Sebuah senyum dari wajahnya yang terpias kesedihan menghiasinya malam itu. Tak lama, ku lihat sebuah semuan merah kembali di wajahnya, dan si cerewet itu memperlihatkan sms padaku, oh pantas saja, ternyata lembarannya yang baru mulai digarap. Senyum Dini yang aku rindukan malam itu ku lihat. Semangat sahabatku, aku yakin kamu bisa terus tersenyum sampai kapanpun.


Girimukti, 20 Maret 2011
Spesial bual Tantikq…
Met ULTAH…
Miss U…

2 komentar:

  1. Nice...like this, true story .........
    salam ya buad Dini..moga mnemukan cinta sejatix :)

    BalasHapus
  2. Amien... Kabarnya sih udh dapat yg dia cari Nen...

    BalasHapus