Ibuku...
Orang terhebat yang aku kenal, mempunyai suara lebih merdu
dari Evie Tamala di pendengaranku, bidadari yang sengaja Allah berikan untukku.
Sebagai anak sulung yang manja dan mungkin tidak sesempurna harapannya ibu
selalu dan selalu memahami kecerobohanku. Selalu ada untukku dalam setiap tetes
air mataku, menengokku dalam diam saat aku putus cinta tanpa sedikitpun
menyentuh ranah patah hatiku. Sosok hebat yang setia kepada kami keluarga
kecilnya. Cerewetnya yang membuat semua yang kami lakukan berarti. Dapat
merangkap menjadi Bapak sekaligus, kalau Bapak berkerja, bahkan saat
anak-anaknya opname, ibu dengan perkasanya
sendiri mengurus kami, karena pekerjaan Bapak yang tidak dapat ditinggal. Bahkan
dalam bimbangnnyapun aku tak pernah tahu seberapa kalut hatinya. Tak salah bila
syair lagu Aku Rindu Padamu, aku ganti menjadi kepada Ibu, bukan kekasih yang
sedang bersembunyi entah dimana. Ibu, selalu bimbang menghadapi anaknya, apalagi
aku, tapi itulah heroiknya ibu, keputusannya selalu tepat. Sampai setua ini,
aku masih selalu diurus ibu, terlalu banyak yang dilakukan olehnya untukku,
tapi aku sendiri masih menghitung jari untuk mengingat yang ku lakukan
untuknya. Setahun terakhir ini, aku benar-benar merasa ada dalam selimut
hatinya, aku takut keluar karena kelemahanku dan kegagalanku, dengan senang
hati beliau menemaniku. Suatu siang, saat mataku membengkak karena gagal
membahagiakannya lebih cepat, Ibu berkata padaku, “Kamu itu anakku, aku tahu
kaya apa sifatmu itu Lis, nggak bisa ini itu aja kamu nangis, kamu itu cengeng,
tapi itulah anak ibu”. Mungkin bila itu
bukan melalui telepon, aku pasti akan lebih kejer
lagi nangisnya. Apapun yang aku ungkapkan soal beliau, tidak akan pernah habis,
ibu yang tidak pernah bosan sedikitpun menuliskan obat-obat yang harus aku
minum dan ku bawa ke kost, orang hebat pendamping Bapak dan orang yang selalu
aku dan adikku sebut setiap hari, Ibu.
Ibu hebat ke dua, nenekku...
Sudah hampir delapan tahun beliau tidak ada, tapi semangat
juangnya masih terasa, ingat jaman-jaman SD selalu beliau bawa kemana-kemana
untuk menemani menghias pengantin. Nenek adalah ibu serba bisa, dengan segala
kegigihannya beliau mampu membangun karakter tangguh seperti Ibuku. Nenek
hebat, organisasi jalan, wiraswasta jalan, dan tugas ibunya juga jalan,
rangkap-rangkap teratur. Sampai akhir hayatnyapun beliau menjalankan tugasnya sebagai
Ibu, beliau meninggal ditempat yang jauh, dalam perjalan mengantar pamanku,
anak bungsunya, berkerja. Ibu hebat yang dimiliki ibuku ini cenderung tegas,
tapi kata ibu, didikannyalah yang membuat ibuku bisa mandiri dari muda.
Ibu hebat selanjutnya, nenek endutku...
Sudah hampir dua tahun adik bungsu nenekku ini meninggalkan
kami dengan begitu romantisnya disusul Kai tercinta selang seratus hari. Setiap
kali mengingat beliau aku merasa malu dengan diri sendiri, disisa hidupnya yang
harus berperang dengan cancer, beliau
tetap memberikan senyum terhebatnya sebagai Ibu. Deskripsi hebat itu hanya aku
yang tahu alasannya, bagiku beliau adalah orang sabar yang dimiliki
keluarganya, termasuk aku. Orang yang menyuruhku jadi seorang pendidik, kata
beliau, cari pahala itu dari perkerjaan, perkerjaan yang menjanjikan pahala
pasti itu ya guru, malu rasanya sampai sekarang masih belum aku wujudkan.
Ibu hebat ke empat, Bude Kus, Ibunya Winda...
Aku baru kenal, baru hitungan bulan, rasanya melihat beliau
adalah pacuan semangat untuk aku yang sehat, aku iri pada Winda, sebegitu
tegarnya dia, apabila aku diposisinya, aku pasti lemah sekali. Inilah kasih
sayang anak pada orang tua, aku hanya bisa sesekali hadir menghibur
ditengah-tengah mereka, Bude Kus benar-benar orang kuat yang aku temui, ibu
kuat, yang jelas ujian yang beliau hadapi membuktikan kehebatan beliau sebagai
ibu, ibu spesial yang dimiliki Winda, semangat Bude... Insyaallah, bude akan
sembuh seperti hari kemarin, nanti kalau saya wisuda, foto bareng yah.
Ibu sahabat-sahabatku, Ibu Fadillah (Ibunya Kak Am), Ibu
Magda (Ibunya Aunty Arma), dan Ibunya Ayie...
Aku beruntung mengenal dekat ketiga sahabatku ini, mereka
memiliki orang tua tunggal, yaitu Ibu. Ibu-ibu hebat yang dimiliki mereka merangkap
peran ayah sekaligus, wanita kuat. Ketiga anak-anak istimewa yang beliau-beliau
punya pastilah sangat bangga. Karena aku dekat dengan anak ketiganya, aku paham bagaimana menakjuban
ibu-ibu ini. Sering mencuri dengar dan
melihat interaksi ibu dan anak ini memberikan pesan tersirat untuk hidupku
pribadi, tidak ada alasan untuk tidak mencintai Ibu, cinta mereka paling masuk
akal di dunia ini, bukan cinta roman picisan atau buaian sekali ungkap mendadak
lenyap.
Semua ibu di dunia ini hebat, bahkan aku pun akan merasakkan
menjadi ibu kelak, bagaimana nanti bila
aku jadi Ibu yah, apa akan tetap cengeng? Pasti anakku nanti muram melihat
ibunya yang cengeng. Terimakasih Bu, sudah sangat mencintai saya tanpa alasan,
tanpa bualan, tanpa angan-angan, cinta yang sempurna, cinta yang penuh Ridho
Illahi, cinta yang suci dan cinta yang membawaku ke Surga sang Pencipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar