Menyukaimu seperti menunggu hujan, tanpa kepastian namun iming imingnya
penuh kesegaran
Menyukaimu seperti melihat awan, berubah-ubah bergantung pada uap yang
memadat
Menyukaimu seperti berjalan di pinggir tebing, membutuhkan konsentrasi
menjaga diri karena takut tergelincir.
Menyukaimu seperti duduk di pesisir pantai, menenangkan namun terjaga
karena suara pecahnya ombak
Menyukaimu seperti kincir angin, tinggi dan hanya angin yang mampu memutarnya
Menyukaimu seperti alunan lagu, karena tempolah kecepatannya bergantung
Menyukaimu seperti mimpi, indah dan ku sadari hanya terjadi sesaat.
Itulah menyukaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar