Total Tayangan Halaman

Jumat, 03 September 2010

Pernakah kita pernah berfikir?

Pernah kah kita berfikir, pantaskah kita menilai orang lain?
Pernahkah kita berfikir, berhakkah kita menuding orang lain salah?
Pernahkah kita berfikir, benarkah apa yang kita katakan di mata orang lain?
Pernahkah kita berfikir, seegois apakah diri kita ini?
Sahabtku, terkadang diri mudah berpendapat tentang orang lain, maksud hati ingin kritik, tapi apadaya kenyataannya yang kita lontarkan bukanlah suatu kritikkan, tapi sebuah penilaian tentang sebuah kesalahan orang tersebut di mata kita (sudut pandang kita). Egoiskah kita? Jawaban emosional dari diri kitalah yang dapat menjawabnya.
Manusia memang merupakan tempatnya salah dan khilaf, tapi manusia juga merupakan tempat memperbaiki sebuah kesalahan. Tak akan pernah ada jalan kalau tidak ada yang merintis, tak akan pernah ada penyelesaian kalau tidak ada yang menyelesaikan. Masalah di dunia ini tidak ada yang kecil, tidak ada pula yang besar. Yang membuatnya besar ataupun kecilkan si empunya masalah, masalah merupakan sesuatu yang kompleks, makin banyak akarnya makin kuat masalahnya, tapi makin sedikit akarnya makin cepat roboh masalah tersebut (terselesaikan).
Terkadang kita berfikir, kita punya nilai lebih dari pada orang lain, tapi apa kita juga berfikir, bernilai lebihkah kita di mata orang lain?
Sejenak setelah membaca pertanyaan ini, kita akan berfikir, betapa tak pantasnya kita menilai orang, betapa hebatnya kita menilai orang lain, hebat dalam artian mengada-ada, yang jelas-jelas nilai diri seseorang itu relatife, kaca mata kita belum sempurna untuk menembusnya.
Mudah memang mengatakan orang lain salah, tapi apakah kita sadar apa yang kita lakukan itu salah atau benar? Kembali kita diajak berfikir, sesuatu yang dimata kita salah belum tentu salah di lingkungan kita, apa perbuatan menuding seseorang salah itu benar? Mana kita tahu, apabila benar orang lain melakukan kesalahan, pasti dia punya alasan, kita memang punya alasan menyalahkan, tapi kembali lagi, berdasarkah tudingan kita itu, sudah benarkah diri kita ini? Kembali lagi, hanya hati kita yang mampu menjawab.
Kita sering berargument, berkata, menjawab sesuai kemampuan kita, bahkan kita beromong kosong, tanpa kita tahu adakah isinya. Berbicara memang mudah, tapi mengisi pembicaraan adalah salah satu hal sulit yang sampai saat inipun terkadang kita sulit melakukannya. Kita berbicara panjang lebar, dan kita menganggap kita mengatakan hal yang benar, tapi apakah orang lain membenarkan perkataan kita? Terkadang kitapun dapat menyalahkan seseorangkan? Jadi, inilah konsekuensi kita sebagai manusia yang tidak dapat hidup sendiri tapi jangan lupa kalau kita tidak sendiri, intinya harus sadar diri.
Egois? Kata-kata yang tidak asing lagi untuk kita, menang sendiri, memang siapa sih yang mau jadi pecundang, tapi kalau jadi pelopor seseorang menjadi pecundang sih oke, eits tapi salah besar, jangan lah kita menjatuhkan seseorang karena kita sendiri tak ingin dijatuhkan, yah namanya juga egois. Pernahkah kita berfikir, sejauh apakah egois diri kita ini? Akutkah atau sedangkah? Mana mungkin orang tahu, orang lain hanya sekedar berpendapat kalau kita sedikit egois. Tapi yang namanya egois itu tidak pernah lepas sama yang namanya manusia yang punya perasaan, tidak ada manusia yang legowo 100% kalau yang dia mau ditolak, ya kan? Ku akui, sifat egoisku juga tinggi, kalian juga dapat mengakui sifat egois kalian masing-masing kok. Yah mungkin inilah realita yang namanya hidup, kita tidak bisa sendiri dan kita juga tetap harus sadar kalau kita tidak sendiri, kita bukan satu-satunya manusia yang bisa dan punya hak, tapi kita hanyalah salah satu manusia yang punya hak, karena manusia punya sifat yang berbeda, tapi memiliki keinginan yang sama, yaitu sama-sama ingin dimngerti.
Terimakasih…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar