Total Tayangan Halaman

Minggu, 06 Maret 2011

Bawalah Cintaku


Sudah cukup air mataku terkuras teman, cukup sekian aku meratapi nasibku karenamu.
Yah, aku sadar cintaku memang sedang tak terbalas kali ini olehmu. Bukan sakit lagi yang kurasa, tapi mati rasa saja rasanya.
Temanku, aku tahu, aku hanya dapat mengisi hatimu sesaat, tiga tahun buatku memang lama, tapi sesaat untuk selamanya.
Kamu tahu, cinta dan sayangku padamu takkan pernah habis dan hilang, akan ku bawa sampai aku mati.
Mungkin kelak cinta sejatiku datang menghampiriku, dan mencintaiku ikhlas apa adanya.
Yah, mungkin jodohlah yang akan memepertemukan kita nanti, tapi kalau memang bukan untukku, semuanya akan menjadi kenangan yang paling indah.
Banyak waktu yang kita habiskan bersama teman, dari tersenyum hingga menangis bersama.
Aku yakin, kamu disana juga merasakan ini, aku yakin kamu masih punya sedikit memori untuk diriku ini, walaupun hanya setitik.
Teman, maafkan aku, aku tak bisa menemanimu mengerjakan tugas akhirmu nanti, dan ikut berfoto bersama kau dan ibumu saat kamu wisuda tahun depan.
Teman rasanya ingin ku akhiri semua tentang kamu, semua senyummu yang membekas dibenakku, tapi jujur, bagiku semua itu takkan pernah terhapus, semakin gila aku menghapusnya, semakin aku merindukanmu yang sudah tak merindukanku lagi.
Aku selalu merasa ini sebuah tundaan untuk kita bersama, entah terlalu naïf aku ini, terlalu mengharap yang tak pasti teman, sulit untukku menerima kepergianmu dan memilih dia dengan ikhlas.
Banyak yang harus kulalui sendiri teman, yang biasanya kita lakukan bersama di perantauan ini , bukan maksudku untuk menahanmu pergi, aku memang sudah tak memiliki daya lagi.
Saat ku lewati tempat-tempat itu, aku mengingat wajahmu, yah wajahmu yang selalu ikhlas menemaniku, menemani makan, tertawa, sholat dan lainnya.
Teman, rasanya tak cukup tenagaku ini menangis lagi, tapi aku selalu menangisimu yang tertawa lepas disana, mungkin ini tak adil temanku. Tapi aku memang menderita seperti ini.
Tak ada lagi Juanda – Pramuka yang selalu kuelu-elukan, tak ada yang menemaniku makan lagi, keliling mencari makanan kesukaanmu, yah bakso, menemanimu makan roti, ke toko buku, bernyanyi Yang Terbaik Bagimu bersama seperti dulu. Ya Allah, sudah tidak ada harapan buatku mungkin. Tenang teman, semua ini takkan ku buang ketempat sampah memoriku, tak akan. Kalau kamu berniat seperti itu padaku, aku ikhlas, karena kedudukanku sudah tak ada di hatimu. Beda denganmu, yang membeku dihatiku, karena aku selalu mengira, kaulah cinta pertama dan terakhirku, seperti lagu yang kau nyanyikan ikhlas 3 tahun lalu “Sempurna”, lagu yang membuat kita bertahan sampai 21 Januari 2011 lalu.
Memori yang selalu kuingat adalah saat-saat kau menjagaku di bus 20 Maret 2008 lalu, saat aku hampir pingsan karena tak kuat menahan mualku, kamu dengan setia membantuku untuk kuat, teman saat itu dibenakku, kamu tak akan meninggalkanku, apalagi sampai mengkhianati cintaku ini.
Kamu sudah menjadi pahlawan untukku, yang selalu kudoakan menjadi imamku kelak teman, mungkin ini bukan jalanku meraih yang namanya cinta dan sayang darimu. Aku ingat saat pertama kali kamu mengimamiku saat sholat, dalam sujudku aku menangis, rasanya aku sangat bersyukur memilikimu walaupun hanya sebatas itu, dan aku tahu konsekuensinya adalah kita bisa berpisah, yah seperti ini, kita berpisah, dan kau sudah memiliki tambatan hati yang mungkin jauh lebih baik dariku.
Teman, rasanya baru saja kurasakan kebersamaan kita, saat Idul Fitri kemarin, saat aku marah besar padamu, karena kamu tak mengajakku ke rumahmu pada lebaran pertama, dan saat aku ke rumahmu, ibumu menyambutkku dengan senyum ikhlas khas beliau, teman dan kaupun mengadu padanya bahwa aku menangis gara-gara tak bertemu pada hari pertama. Rasanya saat itu, aku merasa aku begitu dekat dengan kamu dan keluargamu, teman sudah dihapuskah aku oleh mereka saat ini? Sudah tergantikankah aku ini teman oleh dia yang baru disana?
Bagiku 12 Oktober 2007 adalah hari yang paling bahagia bagiku, sampai saat ini, bagiku itu hari yang takkan pernah kulupakan.
Kamu mungkin tak akan membaca ini teman, cukuplah aku yang menanggis saat menulis ini, dan aku yakin kamu mungkin takkan tersentuh.
Berbahagialah teman bersama dia yang disana, jagalah dia seperti kamu menjagaku dulu selama 3 tahun lebih, sayangilah dia setulus kamu menyangi keluargamu, bimbinglah dia agar menjadi yang sempurna agar kau tak lagi mencari yang sempurna.
Teman, aku sangat merindukanmu, sangat, teman jaga selalu hatimu, jangan kau khianti perasaan seseorang untuk yang kedua kalinya, cukuplah aku yang merasakannya.
Bahagialah kakakku, adikmu ini sedang berusaha untuk ikhlas menerimanya, aku janji, takkan pernah memusuhimu, karena darimu kutahu apa itu perasaan sebenarnya.
Baik-baik disana, aku selalu berusaha baik dan menjadi yang terbaik, agar kelak kau juga akan bangga karena mengenalku.
I Love You Forever, Kak.




Bawalah Cintaku
By: Afgan
Sumpah tak ada lagi
Kesempatan untuk ku
Bisa bersamamu
Kini ku tau
Bagaimana cara ku
Untuk dapat trus denganmu
Bawalah pergi cintaku
Pada ke mana pun kau mau
Jadikan temanmu
Temanmu paling kau cinta
Di sini ku pun begitu
Trus cintaimu di hidupku
Di dalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan
Kita nanti

4 komentar:

  1. Berhasil buat aku nangis,,
    yg kuat y teman.. aku tau rasanya,
    itu yang ku rasakan saat ini.
    hehehehe (ketawa terpaksa)

    BalasHapus
  2. Iyaaaa...
    Ikhlas kok ya sulit to...

    BalasHapus