Keinginan ini tak terpenuhi, padahal aku ingin. Rasanya menemaninya itu sudah kutunggu-tunggu, foto disampingnya bersama ibunya juga. Aku ingin menemaninya wisuda. Yang kini sudah jadi khyalan hampa, karena benciku memuncak untuknya.
Sakit tuhan… Mataku makin cekung rasanya, lebih dari sebulan menangisi sesuatu yang tak pasti, dan beberapa hari ini tangisan penyesalan itu makin terdengar, aku dikhianati tuhan, hatiku hancur, perih, berantakan. Mengapa engkau mengenalkanku padanya, mengapa? Aku bahkan sempat lebih menyayanginya dari apapun, bahkan dariMu. Ampuni aku ya Allah, itu sebuah kesalahan terbesarku, sekarang aku hanya terdiam meratap kosong, membenci dia, mendendam, dan ingin sekali melenyapkannya.
Senyum konyolnya itu sudah benar-benar hilang, tak ada lagi kata-kata manis yang sudah menjadi konsumsiku selama tiga tahun. Dia sedang tersenyum disana, tertawa bersama seseorang yang entah siapa, yang sudah mengalahkan ketulusan hatiku mencintainya.
Menemaninya menyelesaikan tugas akhir tahun depan, hanya perkataan kosong beberapa bulan lalu, menjenguknya di tempat praktek juga hanya khayalanku saat ini, makan bersamanya juga sudah tidak mungkin, padahal inilah kegiatan yang kulakukan dengannya hampir setiap hari. Merekam suaranya juga sudah tidak mungkin, nyanyi bersamanya juga sudah tidak, banyak yang hilang di hatiku ya Allah, seperuh jiwaku benar-benar pergi…!
Belum ada yang bisa menenagkanku sepertinya dulu, tapi kini dia adalah penyebab aku menjadi orang yang hampir gila. Buat aku jatuh kepesakitan parah. Ya Allah, kenapa harus ini balasannya, cobaan ini terlalu berat, aku terlalu rapuh menghadapinya.
Aku ingin bangkit, tapi itu sulit, yah begitu sulit. Disini ada rindu yang kian hari kian memuncak, disini ada sayang yang setiap detik terkubur direlung hatiku, disini ada rasa benci yang kian menggila, dan disini ada aku yang tak tahu harus berbuat apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar