Total Tayangan Halaman

Selasa, 08 Maret 2011

Ibu Aku Patah Hati

Ibu, Aku Patah Hati

Sembab, jelek, ruwet, brantakan, rembes, dan segala jenis bentuk tidak layak tampil di wajahku yang memang sudah sedikit tidak terawat ini. Hhhooo, bagaimana tidak, patah hati cing, sakit hati ni ceritanya. Nyucuk!!!!
Ditinggal sang pangeran hati pergi menuju negeri yang telah melarangku masuk kedalamnya, sakit plus gawat toh!
Ratap meratap, desah mendesah, eluh mengeluh, itulah yang terjadi padaku. Ingin mati rasanya, ingin membuang diri ini jauh-jauh kelubang hitam. Paketkan diri ke hiportemia aja sudah gin. Frustasi neh!
Kalian tahu apa yang kulakukan dalam ratapku kali ini? Aku meratap dan ingin sekali ditemani ibu. Ibu… Aku patah hati! !!!!!!
Yah bu, anak bandelmu ini sedang patah hati, ditinggal pujaan hatinya, yang senantiasa tersembunyi dari matamu, walaupun dibelakangku engkau tahu dia. Ibu… Aku sedih, aku terjatuh, tergulir, terperosok dalam lembah kehancuran cintaku Bu…! Bu, kenapa orang yang senantiasa menjagaku ketika aku sakit itu pergi Bu? Mengapa orang yang rajin menemaniku makan di perantauan itu hilang Bu? Mengapa orang yang setia menemaniku pulang kampung itu memutuskan jauh dariku Bu? Ibu, sungguh hatiku patah Bu, huuuft… Bu adakah keluh untukku darimu kali ini?
Bisuku ini bukan artianku tak ingin berbagi kepiluan ini denganmu Bu, aku hanya takut, takut melihatmu khawatir dan cemas dengan keadaanku disini Bu, di rumah saja aku sudah uring-uringan seperti tringgiling Bu, apa lagi disini, di kamar kostku yang penuh dengan foto-foto manis wajahnya, yang selalu aku sembunyikan saat engkau danBapak main ke sini. Iya Bu, aku benar-benar sakit dan tak sanggup kehilangan orang yang begitu berarti itu. Bu bisakah aku lari dari patah hati ini? Jawab Bu, aku tahu engkau pasti merasakan pertanyaankukan? Bu, aku patah hati. Tolonglah aku.



Kamar KostKu Tercinta,
Samarinda, 07 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar