Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Agustus 2011

Kutub yang Berbeda

“Apa begini jadinya hubungan yang awalnya bagaikan maghnet berbeda kutub kini menjadi satu kutub yang selalu bertolak.”
Kemarin dimana-mana lantang namamu ku sebut, hari ini menyebut namamu itu sulit. Banyak beban berat melihatmu tak hilang.Kemarin aku selalu berdua denganmu, tertawa menangis bersamu, tapi kini bicara denganmu sudah sulit.
Kemarin kita teman, lalu jadi sahabat, dan menjadi sepasang orang dekat yang selalu berdua, kini disebut teman juga sudah tidak pantas. Teman macam apa, tersenyum saja berat, memandang saja sudah tak mampu, apalagi tertawa bersama seperti kemarin. Benar-benar aneh.
Kenapa tuhan? Kenapa manusia ciptaanmu ini begini, mengapa sebuah status membuat seseorang harus menjadi menjauh, kenapa orang yang selalu bersama menjadi musuh dan perang dingin begini.
Aku tak sanggup ya Allah, aku tak sanggup, aku masih ingin menjadi sahabatnya, berkawan dengannya, aku masih ingin bertegur sapa dengannya, aku masih ingin.
Aku merindukan saat aku bisa mendegar segala keluhnya, aku masih ingin setia menjadi tumpuan masalanya, aku ini sahabatnya ya Allah! Sebelumnya aku ini adiknya, orang yang selalu memberinya dukungan, akupun begitu, selalu mendapatkan yang indah dari dia.
Petakakah hubunganku 3 tahun lalu yang aku jalani kemarin ya Allah, dan akhirnya aku harus berhenti menjadi miliknya dan menjadi musuhnya seperti ini. Terlarangkah aku untuknya, terlarangkah dia untukku. Aku tak ingin mengambil cintanya ya Allah, karena cintanya sudah ada yang memiliki, hatiku juga sudah ada yang miliki. Tapi… Apa begini jadinya hubungan yang awalnya bagaikan maghnet berbeda kutub kini menjadi satu kutub yang selalu bertolak.
Aku merindukannya ya Allah, merindukan senyumnya untukku, aku temannya!!! Aku bukan bakteri jahat yang tak pantas ia beri senyuman dan pantas mendapat kesinisannya. Aku tak paham, mengapa hubungan antar manusia ini begitu rumit ya Allah. Beginikah akhirnya?
Haruskah tetap begini. Aku tak tahu, haruskah aku yang mengiba agar semua seperti sebelum 3 tahun yang berjalan itu, ataukah aku tetap kukuh, dan perang dingin ini tetap berjalan sampai aku dan dia mati nanti.
Salahkah aku ya Allah? Dosakah aku? Peliknya hidup ini kalau aku harus terdiam diantara kegalauan persahabatan yang hilang bersebab cinta. Atau memang garisannya kalau bersahabat dan akhirnya mencintai berakhirnya begini? Kurus semua arti-arti perkawanan kami. Ya Allah, aku harus apa? Aku tak kuat kalau harus berlagak tak mau perduli dan acuh dihadapan orang yang jelas-jelas tahu siapa aku dan bagaimana aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar