Aku tak tahu siapa kamu, melihatmu saja akupun tak pernah, tapi berbicara denganmu aku sudah pernah, itupun sangat singkat namun menyakitkan. Ada terselip rasa benci yang mendera hatiku bila ku sadar siapa kamu. Kamu bukanlah sebuah monster ganas penghancur peradaban manusia, bagiku kamu adalah monster yang ada dalam perjalanan pendewasaanku sebagai seorang wanita. Aku tak tahu kamu pantas ku panggil apa, pantaskah ku panggil kamu dengan sebutan “kamu”, tapi mengingat usiamu yang jauh lebih tua dari aku rasanya tak sopan kalau aku memakai sapaan itu, tapi rasanya lebih tak pantas lagi kalau kamu ku panggil "mbak" atau "kakak" karena prilakumu jauh dari seorang yang pantas untuk dituakan. Apakah kamu lebih pantas ku panggil "Tante", tak tahu rasanya aku lebih nyaman memanggilmu itu, sungguh aku tak tahu alasan yang mendasari mengapa aku nyaman memanggilmu itu.
Tante, andaikan kamu itu aku, apakah kamu akan berfikir kalau yang kamu lakukan itu adalah suatu hal yang benar. Andaikan kamu itu aku, apakah kamu akan berhenti melanjutkan ekspedisimu. Andaikan kamu itu aku, apakah kamu merasakan sakit yang kurasakan kala itu. Andaikan kamu itu aku, apakah kamu mampu bertahan diketerpojokan penyesalan dan kehilangan yang aku rasakan?
Sudah lewat 6 bulan semua ini berakhir, rasanya pertarungan perasaanku bersamamu lalu telah usai, yah aku akui kaulah pemenangnya tante. Selamat! Aku pecundang bagi kalian berdua dan para pendukung kalian. Tapi akulah pemenang untuk perasaanku dan untuk para sahabatku yang telah lelah membantuku untuk tersenyum lagi.
Kita sama-sama seorang wanita ya ternyata, kamu sadar? Aku sadar, tapi mungkin tujuan dan ambisi kita berbeda. Apa memang salahku ya, tak menjaga orang yang paling kusayang itu, hingga dia jatuh padamu, yah aku sadar mungkin itu salahku. Aggghhh... Andaikan kamu itu aku, mungkin kamu tahu bagaimana rasanya. Tapi kamu tak perlu bersusah untuk menjadi aku, karena pasti kau tidak bersedia, jangankan menjadi aku, menengok sedikit bagaimana jadinya aku bila rasa sayangku terebut kau tak mau, buktinya kau sukses merebut semuanya dariku.
Tak sepenuhnya aku menyalahkanmu tante yang baik hati, aku juga tak akan menyebutkan sejumlah kata serapah yang sebenarnya tak pantas kau lontarkan padaku, karena akulah korbanmu. Aku tahu, cinta dan sayang itu tak sopan kalau berkunjung, wajar saja, kalau rasa milikmu itu berkunjung dan bersambut diantar cintaku dan cintanya dulu, dia juga dengan senang hati menyambutnya, jadi kau bukanlah orang yang bersalah satu-satunya.
Andaikan kamu itu aku, tegakah kamu tersenyum disaat aku menangis kemarin, disaat aku berjuang untuk meraih senyumku lagi, kalau kamu berhati layaknya manusia, mungkin tak tega. Saat ini, semua telah lalu yah tante, tak ada lagi harapan yang ku gantung untuk pendampingmu itu sekarang karena semua orang tahu kalau dia itu pembohong, semua orang tahu kalau itu pemain, dan semua orang tahu kalau dia tidak pernah serius denganku. Tapi, aku tak akan melupakan bagaimana dasyatnya tragedi itu. Berlebihan memang, tapi apa daya, sifat egoismu juga tak kalah berlebihan. Ayolah, jangan selalu membenarkan hatimu, aku tahu, di hati kecilmu pun ada rasa bersalah, tapi ini hanya sepengetahuanku saja, ditarik dari kesimpulan karena kita sesama wanita, kalau tidak ada mungkin kamu termasuk wanita yang tak berhati sebagai wanita. Upsss… Itu hanya mungkin, selama perasaanmu masih memiliki guratan wanita yang senormalnya begitu.
Andaikan kamu itu aku, dan kamu menyadari bagaiman rasanya itu dan kemarin tak melanjutkannya, aku akan senang hati memanggilmu kakak, mbak , ataupun teteh, karena sepertinya wajahmu cocok untuk dijadikan sahabat dan cocok untuk membantuku menjaga yang terkadang ketar-ketir menjaga seseorang dari cinta-cinta lain, tapi sayang, kamu ternyata yang mencurinya.
Tapi aku ucapkan terimakasih padamu, karenamu aku sadar kalau rasa sayangku memang tak pantas untuk orang macam dia, rasa sayangku lebih pantas untuk orang yang jauh lebih agung dan baik daripada dia. Dan karena serapahmu kemarin aku jadi terbangun dari mimpi untuk kembali dan jadi yang terbaik baginya itu hanyalah bualan semata. Dan karena kamulah, aku bisa menjadi lebih dewasa, walaupun usiaku lebih muda darimu.
Dan andaikan kamu itu aku, mungkin saja kamu akan merasakan jadi aku suatu hari kelak, karena semuanya bisa terjadikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar