Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Agustus 2011

Sepucuk surat dipenghujung senja

Hai kawanku, apa kabar? Sudah lama kita tak bertegur sapa ya, sudah lama kita tak saling membagi senyum, sudah lama kita tak tertawa bersama, dan satu lagi, sepertinya sudah lama kita tak makan berdua. Ah konyolnya aku ini teman, kan kita sudah tak pantas lagi makan berdua ya.
Kamu tahu, sepertinya aku sudah dapat mensejajari langkah dan pergerakanmu teman, hhiii. Kamu terkejar, ada satu cinta baru yang mulai bersemi di hatiku teman. Ada seseorang yang sukses menaklukanku. Hmm… Beri aku aplouse dulu. Maaf aku bukannya tak sesuai komitmenku, aku hanya menggantung sebuah komitmen tipis kemarin teman. Kan hanya sebuah proker saja, dan dalam aplikasinya ini yang terjadi. Aku gagal untuk sendiri berlama-lama.
Temanku yang baik, aku sebenarnya ingin sekali duduk dan berbicara padamu, bukannya lewat seperti ini, hanya dalam sebuah surat hampa yang tak bertuan dan tak terjawab. Banyak yang ingin ku pertanyakan padamu teman, rahasia-rahasia yang kau sembunyikan dariku, sebuah penyesalan batin yang masih kau sisakan untukku.
Teman, apakah Cuma aku yang tak boleh berteman denganmu saat ini? Apakah Cuma aku yang dilarang menyapamu saat ini? Apakah cuma aku yang tak boleh tersenyum padamu? Teman duniaku takkan pernah berubah, aku tetaplah aku yang kau kenal dulu, aku adalah kesuksesanmu yang kau bangun dari beberapa tahun lalu, yang kini telah kau lepas dan kau biarkan terbang setelah berhasil kau ciptakan.
Teman, aku tak pernah tahu, sampai kapan aku harus memikirkanmu, padahal jelas-jelas ada yang lebih baik di depanku. .Aku sangat bodoh teman, buat apa aku harus terus mengharap permintaan maafmu padaku, aku tahu, kamu tak pernah sadar akan kesalahanmu, hanya aku yang merasakannya.
Sebenarnya, untuk apa aku memikirkan ini, tapi apa mau aku kata, rasanya batin ini tak pernah kering menangis, belum ada yang mampu menyeka tangisanku ini. Aku tak kuasa menghilangkannya. Aku tak tahu bagaimana caranya teman. Ingin sekali aku membencimu, tapi sumpah… Sulit sekali itu kulakukan. Terkadang kamu menghilang bagai pelangi, tapi terkadang… Kamu datang bagai petir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar