Total Tayangan Halaman

Senin, 25 November 2013

Saya (Masih Calon) Guru

Saya tidak pernah tahu bagaimana jalan cerita hidup ini diatur oleh sang pencipta, bukan sebuah kebetulan bila saya nyemplung didunia pendidikan, dunia penuh tantangan, penuh kejutan, dunia sempurna untuk saya. Saat ini proses petualangan saya baru dimulai, menggarap skripsi sastra yang belum khatam, rasanya otak saya terlalu tertekan, tapi satu kenikmatan yang saya alami, yaitu begitu indahnya menganalisis sesuatu yang benar-benar ada diawang-awang
Saat sahabat-sahabat saya sudah dengan tulus mengabdi untuk pendidikan negeri ini, saya harus setia bertemu dengan dosen pembibimbing yang sangat idealis namun penuh sisi positif, awalnya saya sakit jiwa, tapi inilah petualangan, saya yakin kualitas keikhlasan saya sebagai mahasiswa sedang diuji saat ini. Sempat saya mengecap diri ini sebagai mahasiswa bodoh, tapi kata ke dua orangtua saya, saya tidak bodoh, namun diberi kesempatan untuk merasakan sebuah perjuangan. Bagaimana tidak, hampir setiap hari saya menulis, tapi menyelesaikan tugas akhir saja saya terlalu ngadat, seperti kura-kura yang kakinya terjerat.
Iri melihat beberapa kawan telah kembali bertemu papan tulis, mengekspresikan diri di depan anak didik yang luar biasa menyenangkan. Rasanya ingin sekali seperti mereka, rindu, ah... rasa ingin kembali ke sekolah lagi.
Awalnya saya tidak pernah ingin menjadi guru, terpikirkan saja tidak, tapi kembali, Allah Swt memeliki sekenario hebat yang saya sebagai aktrisnya harus siap dan rela menjalankannya. Semester awal di FKIP PBSID adalah masa berat saya, harus bertemu dengan dunia baru, bertemu dengan materi baru, walaupun punya hobi menulis, tapi beradaptasi dengan materi Bahasa dan pendidikan itu sangat tidak mudah, rasanya itu... ngerik juga, mendapat nilai D untuk Teori Drama, ahahahha, IP tidak sampai 3, spektakuler, dalam hati lebih baik belajar Kimia dan Matematika, walaupun hobi remedial tapi jawabanya pasti. Syukurlah, semester selanjutnya saya bisa menaikkan drajat keikhlasan jadi mahasiswa PBSID, hhee, di tambah lagi organisasi yang membuat kekuatan baru sebagai mahasiswa... Hidup Mahasiswa!!!
Tapi tetap, saat itu hasrat jadi guru masih tipis, sampai suatu hari saya harus menemukan sekolah reot di Kabupaten tercinta sendiri, melihat adik-adik yang hiperaktif tapi cepat menangkap maksud yang saya ajarkan padahal kualitas saya kan abal-abal luar biasa, miris sih, jadi berkeingin membantu perkembangan pendidikan di kabupaten sendiri, okelah level keikhlasan naik sedikit presentasenya.
Semester 7 yang mengharuskan saya menjadi guru magang alias PPL. Petualang yang merubah paradigma serta visi dan misi saya sebagai manusia. Pengalaman luar biasa yang saya dapatkan saat saya mengajar kurang lebih selama enam bulan di sebuah sekolah menengah kejuruan yang mayoritas siswanya pria. Awalnya takut pasti ada, tapi berbekal pengalaman organisasi yg singkat dan kebenarian sisa-sisa masa sekolah dulu, saya mempersiapkan diri menjadi guru yang kelihatan berani dan percaya diri, padahal tidak sepenuhnya begitu. Hehehehe.
Memang benar, kita tidak akan tahu apa yang dia rasakan, apabila kita tidak merasakannya, walaupun bila dibandingkanpun pasti berbeda. Sama halnya profesi ini, saya tidak akan tahu begitu hebatnya profesi guru bila saya tidak merasakan profesi itu, terimakasih Bapak Ibu Guru, yang sudah mendidik saya sedari TK, SD, SMP, dan SMA. Luar biasa, berdiri di depan kelas, dengan mata tertuju pada kita, yang walaupun 100 % tidak terfokus. Tapi ada sisi lain saat mereka memandang dan mendengar celotehan saya di depan kelas, rasanya diberi kepercayaan oleh banyak orang itu mendebarkan dan membanggakan.
Saat mereka memanggil saya Ibu, saat mereka mencium tangan saya, saat mereka mengucap salam untuk saya, saat mereka berterimakasih pada saya, rasa bangga dan rasa percaya mengemban amanah menjadi seorang pendidik menjadi bulat di hati dan pikiran ini. Proses menghadapi kelas, proses menyesuaikan keinginnan mereka dengan saya sebagai fasilisator adalah proses paling mendewasakan diri ini. Hal-hal sederhana tanpa diada-adakan membuat pribadi ini menjadi yakin dengan kemampuan.
Rasanya lelah nafas ini menghela, mengingat predikat Sarjan Pendidikan belum saya sandang dibelakang nama, ingin kembali memberikan ide-ide menarik untuk jagoan yang mungkin menjadi jagoan nanti. Sebenarnya tak perlu menunggu sarjana itu untuk mengabdi, tapi pesan orangtua yang menyuruh saya untuk tetap bersabar sampai selesai, tetap saya jalankan.
Iya guru itu pondasi dalam membangunan karakter manusia yang memanusiakan manusia.
Kapanpun sarjana itu datang, kualitas dan keikhlasan yang jadi utama.
Salam bangga untuk kawan-kawan di pedalam yang setia mengabdi untuk calon orang hebat disana.
Salam rindu untuk kawan-kawan yang sedang berkreatif ria di sekolah-sekolah yang telah menjadi markas kalian.
Salam semangat untuk semua calon guru hebat yang sedang menjali proses percetakan guru berkualitas.
Salam sayang untuk semua guru di dunia ini, yang tetap menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.
Kau tidak akan tahu bagaimana guru sebenarnya, sebelum kau menjadi dia, jadi nilailah dengan hati, bukan materi.

Dirgahayu PGRI Ke 68, tetaplah menjadi pelita dalam kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar