Saya tidak pernah tahu
bagaimana jalan cerita hidup ini diatur oleh sang pencipta, bukan sebuah
kebetulan bila saya nyemplung didunia
pendidikan, dunia penuh tantangan, penuh kejutan, dunia sempurna untuk saya.
Saat ini proses petualangan saya baru dimulai, menggarap skripsi sastra yang
belum khatam, rasanya otak saya terlalu tertekan, tapi satu kenikmatan yang
saya alami, yaitu begitu indahnya menganalisis sesuatu yang benar-benar ada
diawang-awang
Saat sahabat-sahabat
saya sudah dengan tulus mengabdi untuk pendidikan negeri ini, saya harus setia
bertemu dengan dosen pembibimbing yang sangat idealis namun penuh sisi positif,
awalnya saya sakit jiwa, tapi inilah petualangan, saya yakin kualitas keikhlasan
saya sebagai mahasiswa sedang diuji saat ini. Sempat saya mengecap diri ini
sebagai mahasiswa bodoh, tapi kata ke dua orangtua saya, saya tidak bodoh,
namun diberi kesempatan untuk merasakan sebuah perjuangan. Bagaimana tidak,
hampir setiap hari saya menulis, tapi menyelesaikan tugas akhir saja saya
terlalu ngadat, seperti kura-kura yang kakinya terjerat.
Iri melihat beberapa
kawan telah kembali bertemu papan tulis, mengekspresikan diri di depan anak
didik yang luar biasa menyenangkan. Rasanya ingin sekali seperti mereka, rindu,
ah... rasa ingin kembali ke sekolah lagi.
Awalnya saya tidak
pernah ingin menjadi guru, terpikirkan saja tidak, tapi kembali, Allah Swt
memeliki sekenario hebat yang saya sebagai aktrisnya harus siap dan rela
menjalankannya. Semester awal di FKIP PBSID adalah masa berat saya, harus
bertemu dengan dunia baru, bertemu dengan materi baru, walaupun punya hobi
menulis, tapi beradaptasi dengan materi Bahasa dan pendidikan itu sangat tidak
mudah, rasanya itu... ngerik juga, mendapat nilai D untuk Teori Drama,
ahahahha, IP tidak sampai 3, spektakuler, dalam hati lebih baik belajar Kimia
dan Matematika, walaupun hobi remedial tapi jawabanya pasti. Syukurlah,
semester selanjutnya saya bisa menaikkan drajat keikhlasan jadi mahasiswa PBSID,
hhee, di tambah lagi organisasi yang membuat kekuatan baru sebagai mahasiswa...
Hidup Mahasiswa!!!
Tapi tetap, saat itu
hasrat jadi guru masih tipis, sampai suatu hari saya harus menemukan sekolah
reot di Kabupaten tercinta sendiri, melihat adik-adik yang hiperaktif tapi
cepat menangkap maksud yang saya ajarkan padahal kualitas saya kan abal-abal
luar biasa, miris sih, jadi berkeingin membantu perkembangan pendidikan di
kabupaten sendiri, okelah level keikhlasan naik sedikit presentasenya.
Semester 7 yang
mengharuskan saya menjadi guru magang alias PPL. Petualang yang merubah
paradigma serta visi dan misi saya sebagai manusia. Pengalaman luar biasa yang
saya dapatkan saat saya mengajar kurang lebih selama enam bulan di sebuah
sekolah menengah kejuruan yang mayoritas siswanya pria. Awalnya takut pasti
ada, tapi berbekal pengalaman organisasi yg singkat dan kebenarian sisa-sisa
masa sekolah dulu, saya mempersiapkan diri menjadi guru yang kelihatan berani
dan percaya diri, padahal tidak sepenuhnya begitu. Hehehehe.
Memang benar, kita
tidak akan tahu apa yang dia rasakan, apabila kita tidak merasakannya, walaupun
bila dibandingkanpun pasti berbeda. Sama halnya profesi ini, saya tidak akan
tahu begitu hebatnya profesi guru bila saya tidak merasakan profesi itu,
terimakasih Bapak Ibu Guru, yang sudah mendidik saya sedari TK, SD, SMP, dan
SMA. Luar biasa, berdiri di depan kelas, dengan mata tertuju pada kita, yang
walaupun 100 % tidak terfokus. Tapi ada sisi lain saat mereka memandang dan
mendengar celotehan saya di depan kelas, rasanya diberi kepercayaan oleh banyak
orang itu mendebarkan dan membanggakan.
Saat mereka memanggil
saya Ibu, saat mereka mencium tangan saya, saat mereka mengucap salam untuk
saya, saat mereka berterimakasih pada saya, rasa bangga dan rasa percaya
mengemban amanah menjadi seorang pendidik menjadi bulat di hati dan pikiran
ini. Proses menghadapi kelas, proses menyesuaikan keinginnan mereka dengan saya
sebagai fasilisator adalah proses paling mendewasakan diri ini. Hal-hal
sederhana tanpa diada-adakan membuat pribadi ini menjadi yakin dengan
kemampuan.
Rasanya lelah nafas ini
menghela, mengingat predikat Sarjan Pendidikan belum saya sandang dibelakang
nama, ingin kembali memberikan ide-ide menarik untuk jagoan yang mungkin
menjadi jagoan nanti. Sebenarnya tak perlu menunggu sarjana itu untuk mengabdi,
tapi pesan orangtua yang menyuruh saya untuk tetap bersabar sampai selesai,
tetap saya jalankan.
Iya guru itu pondasi dalam
membangunan karakter manusia yang memanusiakan manusia.
Kapanpun sarjana itu
datang, kualitas dan keikhlasan yang jadi utama.
Salam bangga untuk
kawan-kawan di pedalam yang setia mengabdi untuk calon orang hebat disana.
Salam rindu untuk
kawan-kawan yang sedang berkreatif ria di sekolah-sekolah yang telah menjadi
markas kalian.
Salam semangat untuk
semua calon guru hebat yang sedang menjali proses percetakan guru berkualitas.
Salam sayang untuk
semua guru di dunia ini, yang tetap menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.
Kau tidak akan tahu
bagaimana guru sebenarnya, sebelum kau menjadi dia, jadi nilailah dengan hati,
bukan materi.
Dirgahayu PGRI Ke 68,
tetaplah menjadi pelita dalam kegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar