Total Tayangan Halaman

Selasa, 11 Desember 2012

4Sudut

Tatapan tajam mata yang selalu membuatku tenang itu, mendadakan memaksaku untuk tertunduk seketika, disusul tetesan airmata mengalir. Seketika senyap menyapa kehening, tetesan gerimis yang tak bernada menjadi latar suara yang kudengar selanjutnya. “Setidaknya, saat kamu ingin kembali memberontak dan nekat, kamu ingat ini, kejadian yang membuat kamu membuang air matamu percuma. Bisa tidak hapus dia sejenak, aku tak habis pikir, kalian itu seperti musuh, padahal sama-sama tidak saling membenci,” Ujarnya yang sedikit menusuk dan menyadarkkanku yang bodoh. “Kamu pasti paham, dia bukannya membencimu, hanya malu karena pernah menyakitimu, jadi setidaknya kamu menghindar sejenak,” Kembali, suara orang di depanku ini halus, tapi sarat akan ketegasan.“Dia dan kamu punya pikiran dan masalah masing-masing, kamu pasti mengerti, karena kamu juga mengenalnya secara dalam kan? Aku tak mnyuruhmu untuk menyudahinya, tapi memberikan waktu baginya berfikir, disela dia berfikir itulah, kamu juga harus berfikir!” katanya lagi. Seketika senyap menyapa kami berdua, aku yang masih tertunduk lesu mulai mengangkat wajah, dan berani menatap mata teduhnya yang tersenyum. Iya ini kebodohanku, untunglah, kau membangunkkanku dari mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar